Header Ads

ad

MENGEJAR YANG MELELAHKAN





”Akhirat tidak akan membahayakan dunia.

Tapi dunia bisa membahayakan akhirat”



Ada yang mati-matian mengejar hal yang tak pasti.

Ada yang rela menukarkan waktunya demi mendulang harta.

Ada yang sebagian besar harinya, dihabiskan bekerja siang malam.

Semuanya demi mendapatkan keindahan dunia.


Sepintas dunia terlihat indah. Walau sebenarnya banyak tipuan.

Semakin kita mengejarnya, semakin kita dibuat lelah olehnya.

Semakin dikejar, semakin menjauh.

Sekali didapat, tak akan pernah mengenyangkan.




Jika dulu handphone kita masih jadul. Kita lantas kerja keras. Mengorbankan waktu beristirahat. Sampai pada akhirnya terbeli smartphone terkini. Tidak lama berselang, setelahnya muncul smartphone terbaru. Dengan fitur yang lebih canggih, yang lebih baik. Kita lantas kerja keras kembali untuk ganti smartphone baru. Setelah ganti dengan yang baru, berikutnya muncul lagi versi terbarunya. Kerja keras lagi. Dapat lagi yang baru. Dan selanjutnya. Begitu seterusnya, hanya demi upgrade smartphone. Yang nyatanya hanya untuk update status dan berselfie ria.


Dulu kita belum punya rumah. Masih ngontrak sana-sini. Kerja banting tulang, memeras keringat. Sampai akhirnya terbeli rumah. Setelah kerja mati-matian, kerja habis-habisan. Rumah sudah didapat, kerja keras terus berlanjut untuk bayar cicilan, perawatan, beli furniture, sampai bayar pajaknya.  




Kemarin kita belum punya motor. Kerja mati-matian, rela lembur, mengorbankan quality time bersama keluarga. hanya untuk membeli motor. Motor sudah terbeli. Berikutnya datang lagi model terbaru. Yang lebih gagah, yang lebih menawan. Kembali lagi kerja keras, kerja habis-habisan demi bisa membeli tunggangan terbaru. Padahal cicilan pertama belum selesai. Setelah dapat motor terbaru, kerja keras lagi untuk bayar cicilannya, pajaknya, perawatannya, sampai onderdilnya. Begitu seterusnya, sampai pabrikan motornya tutup.




Tahun lalu kita belum punya mobil. Kesana kesini menaiki motor. Kehujanan. Kepanasan. Kadang naik angkutan kota, untuk menempuh perjalanan jauh. Kerja keras lagi. Pergi pagi, pulang malam. Keringat bercucuran. Sampai terbeli mobil impian. Belum cukup sampai disana, kerja keras terus berlanjut untuk membayar cicilannya, onderilnya, perawatannya, sampai ke pajaknya. Tak lama berselang ada promosi jabatan. Omzet usaha meningkat. Muncul lagi mobil terbaru. Yang lebih modern dan berkelas. Ujungnya kerja banting tulang lagi demi bisa mengganti mobil. Begitu seterusnya, sampai punya pabrikannya.




Kita memandang hal yang tadi sebagai kenikmatan hidup. Berpikir memanjakan diri, meski keluarga menjadi korban. Waktu bersamanya terbuang tanpa makna.


Bukankah setiap manusia itu merugi. Kecuali mereka yang beriman, beramal soleh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Maka sungguh merugi ketika waktu keluarga menjadi korban dari keserakahan diri. Mati-matian mengejar hal yang tidak dibawa mati. Hanya berakhir kegelisahan. Gelisah ketika semuanya tidak didapat. Resah ketika yang didapat menghilang.



Maka benar apa kata Rasulullah SAW:


“Perbandingan dunia dengan akhirat, seperti seseorang yang mencelupkan jari tangannya ke dalam laut, lalu diangkatnya dan dilihatnya apa yang diperolehnya.” (HR. Muslim)



Dunia hanya sekedar dari sisa air yang tertinggal di jari tadi, disaat dicelupkan dan diangkat darinya. Sedangkan lautan yang luas, diibaratkan akhirat yang kekal juga abadi.



“Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina. Tapi barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya,

kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” 


(HR. Tirmidzi)

No comments