Header Ads

ad

Jangan Kebanyakan Mogok di Persimpangan



Jalan hidup tak selalu lurus. Tak selamanya mulus. Kadang berliku. Berkelok. Melewati jalan berlubang. Sampai menemui titik persimpangan. Ketika sampai di titik tadi, sebuah keputusan harus dipilih. Antara memilih jalur lurus untuk melanjutkan atau berbalik arah untuk pulang. Antara berbelok ke kiri atau ke kanan, yang mana kita tidak  tahu setelah belokan tadi ada apa dan akan seperti apa.

Sejauh perjalanan hidup yang ditempuh, sebanyak itu juga masalah yang harus dihadapi. Tidak ada seorang pun yang tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Dan masalah hadir sesuai porsinya. Permasalahan hidup kita disaat remaja, pastinya berbeda ketika dewasa nanti. 

Bagi mereka-mereka yang sudah memasuki usia menuju 25, kadang dibuat bingung dengan sebuah pilihan. Bahasa kekiniannya "galau". Dilema besar muncul disaat menemui titik persimpangan. Berbagai keputusan mau tidak mau harus mampu diambil, dari permasalahan tadi. Mulai dari memutuskan untuk melanjutkan S2 atau langsung kerja. Kerja dulu baru menikah atau sebaliknya. Resign dari tempat kerja sekarang atau bertahan disana. Merantau atau menetap. Nyicil rumah atau ngontrak. Dan memutuskan untuk memilih pendamping hidup yang kadang pelik ketika didiskusikan dengan kelaurga. 

Masing-masing dari kita pasti menemui titik persimpangan tadi. Suka atau tidak, kita dipaksa belajar mengambil keputusan penting dalam hidup. Kita tahu, kondisi ideal dalam angan kita tak selalu jadi kenyataan. Dan tak bisa dibangun secara mendadak. Kadang kita harus berdamai dengan situasi. Untuk sekedar bertahan di kantor dengan jebakan rutinitas yang semakin hari membuat bosan. Mungkin dua atau tiga tahun kita harus bertahan, sampai kita mendapatkan pekerjaan yang layak dan ideal dalam perspektif kita. 

Sama halnya ketika mempermasalahkan kesejahteraan (baca: gaji). Ketika persimpangan tiba di depan mata, sebuah keputusan harus dipilih. Antara bertahan sambil mensyukuri yang ada. Atau keluar, mencari yang lebih baik (baca: gaji tinggi). Mungkin saat ini pekerjaan kita tidak ideal seperti apa yang kita inginkan. Pekerjaan yang tidak sesuai dengan background pendidikan, rekan kerja yang mulai tidak sportif, atasan yang tidak suportif, keuangan perusahaan yang sedang goyah, lingkungan kerja yang mulai membosankan, kurangnya kesejahteraan karyawan, sampai ada hak kita yang mengharuskan ditahan.

Dibalik situasi yang tidak ideal tadi, mungkin saja ada hal lain yang kita dapatkan. Ilmu baru, relasi, bahkan waktu luang. Yang bisa saja itu tidak didapat di pekerjaan yang menurut kita ideal.

Apakah ada jaminan ketika kita resign dan kerja di tempat baru, waktu luang kita jadi lebih banyak dari sekarang? 
Apakah ada jaminan ketika kita resign dan kerja di tempat baru, mendapatkan gaji yang lebih tinggi dari sebelumnya?

Memang kita tidak pernah tahu setelah persimpangan tadi akan ada apa. Tapi jelas, kita tidak akan mendapat apa-apa jika terlalu banyak berhenti di persimpangan tadi. Kalau kita malah kebanyakan bengongnya, kelamaan mikirnya, ya gak bakalan sampai ke tempat tujuan.

Jika kita berpikir, pekerjaan sekarang tidak ada kaitannya (gak nyambung) dengan background pendidikan kita. Bersyukurlah. Karena boleh jadi itu yang lebih menjanjikan kehidupan untuk kita. Sepertihalnya seorang teman, yang kuliah jurusan farmasi yang kini bekerja di sebuah bank swasta. Dengan keputusan yang diambilnya, ilmu yang telah bertahun-tahun dituntutnya, tidak bisa dipakai. Mungkin jika dia bekerja di perusahaan farmasi, belum tentu mendapatkan fasilitas seperti yang diberikan perusahaan tempatnya bekerja sekarang. 

Dibutuhkan keberanian dalam mengambil keputusan. Karena akan selalu ada hal yang harus dikorbankan disetiap keputusan. Biar gak banyak mogok di persimpangan, perbanyaklah wawasan. Caranya bisa belajar bergaul dengan mereka-mereka yang sudah berpengalaman. Dan jangan lupakan rasa syukur.

No comments