Header Ads

ad

Dimulai Dari Kenapa. Bukan Apa


"Ketika terpikir kata untuk menyerah. Pikirkan kembali untuk apa kita memulai".
.
.
Sudah menjadi hal lumrah, ketika dalam mengerjakan suatu hal yang terus menerus dan berulang, kita lantas dihinggapi rasa bosan. Ketika apa yang dikerjakan telah menjadi rutinitas, bukan tidak mungkin kita butuh penyegaran juga pembaharuan. Meski ada beberapa dari mereka yang mampu bertahan, mengerjakan hal yang berulang-ulang. Tapi, bukankah manusia adalah makhluk dinamis yang mampu beradaptasi dalam segala situasi? Dan itulah kenapa dari zaman ke zaman mereka tetap ada. Tak seperti dinosaurus.
.
Ketika saat ini kita hidup di era kapitalis. Dimana segala sesuatunya dilihat dan dinilai dari apa yang dimiliki. Tak sedikit orang rela menukarkan waktunya demi bisa memenuhi hidup. Termasuk menukarkan waktu bersama keluarga, yang di perkotaan sana sudah sangat mahal untuk dimiliki. Tak cukup sampai disitu, kemapanan seseorang kini bahkan dilihat dari apa yang dimilikinya dan terlihat oleh publik. Kita belum dinilai mapan kalau belum memiliki mobil. Kita belum pantas disebut mapan, ketika rumah masih mengontrak. Kita belum pede mengatakan mapan, disaat status kerja masih kontrak. So sad but it's true. Sekelumit persoalan hidup yang semakin hari menambah beban pikiran, jika tak mampu diimbangi rasa syukur. 
.
Bulan ini rupanya menjadi kesempatan emas bagi para job seeker, berbarengan dengan dibukanya penerimaan CPNS. Dari 2000an lebih posisi lowongan yang dibuka, lebih dari 300 ribu pelamar yang telah mendaftar. Jumlah yang tidak sebanding memang. Beberapa dari pendaftar bukan hanya fresh graduate, ada diantarnya karyawan swasta yang seringkali mengeluhkan soal masa depan dan status kontraknya. Bahkan beberapa teman yang sudah bekerja di BUMN pun tak mau ketinggalan ikut mendaftar. 
.
Profesi PNS memang masih cukup menggiurkan bagi sebagian orang. Terlebih  jam kerja yang "cenderung" santai, banyak tunjangan, dapat penisunan, bahkan bisa mendongkrak rasa percaya diri saat berhadapan dengan calon mertua. 
Apapun profesi yang kita tekuni, selama dibarengi totalitas, loyalitas, dan integritas, hasilnya tidak akan jauh dari harapan. Kalau pun mungkin saat ini, apa yang didapat tak seperti yang diharapkan, toh semuanya membutuhkan proses, bukan protes.
.
Sebagian dari kita mungkin ada yang tengah meraskan lelahnya bekerja. Letihnya mencari nafkah. Belum lagi dihinggapi rasa jenuh dalam pekerjaan. Ditambah lagi tekanan dan beban kerja yang semakin meninggi. Seakan ingin menyudahi pekerjaan dan mengibarkan bendera putih saat itu. Di profesi apapun rasanya kondisi "badai" seperti tadi akan selalu ada. 
.
Disaat kita merasa berada di titik terbawah (baca: underperform), badai menghadang, semangat menurun, keberuntungan seakan menjauh, kreativitas seketika buntu. Menyerah bukanlah strategi. Meskipun menyerah adalah cara termudah untuk menyelesaikan persoalan tadi. Jika diibaratkan kita akan mendaki gunung Kerinci misalnya. Di tengah pendakian, kita merasakan kelelahan, belum lagi angin yang bertiup kencang, bahkan hujan disertai petir. Saat itu juga kita berpikir, mengambil keputusan untuk tidak melanjutkan pendakian dan memilih pulang kembali ke rumah. Padahal kita belum tahu ada apa di puncak gunung sana. Kalau saja tidak menyerah dan memutuskan pendakian sampai selesai, kita akan disuguhi indahnya pemandangan yang bisa disaksikan di atas sana. 
.
Seperti itulah kesulitan yang sedang kita dapatkan saat ini. Entah itu di pekerjaan bagi para karyawan atau di bisnisnya bagi para pengusaha. Ketika kita berpikir untuk menyerah dan memilih pulang kembali, kita tidak akan tahu ke depan akan seperti apa atau di atas akan seperti apa dan ada apa saja. Melanjutkan pendakian menjadi satu-satunya cara untuk mengetahui ada apa saja di puncak gunung yang kita daki.
.
Ketika kondisi tadi kita alami, pertanyaan terpenting untuk bisa melanjutkan pendakian adalah dengan bertanya "Kenapa?". "Kenapa kita harus tetap dan terus bekerja?" atau "Kenapa kita harus melanjutkan usaha yang sedang ditekuni?". Ketika dimulai dengan pertanyaan "Kenapa?", kita akan mendapatkan alasan terkuat untuk tetap dan terus melanjutkan pendakian tadi. 
.
Ketika "kenapa kita harus tetap dan terus bekerja?" menjadi tanya yang belum terjawab, bayangkan kita saat ini sedang bekerja di perusahaan yang menghidupi kita. Apapun perusahaan itu. Misal kita bekerja di perusahaan penyedia jasa trasnportasi atau kita misalnya jadi pengusaha sekaligus owner perusahaan penyedia jasa trasnportasi tadi. Kalau saja kita berhenti bekerja dan kerjanya setengah hati, perusahaan bisa jadi tutup. Ketika perusahaan tadi tutup, bayangkan akan ada berapa banyak anak-anak yang terancam putus sekolah? Berapa banyak anak-anak menangis karena ayah mereka tidak mampu membelikan mereka susu dan mainan?
.
Pun saat kita diposisi sebagai owner perusahaan tadi. Ada beberapa kepala keluarga yang menggantungkan nasib untuk bisa menafkahi keluarganya di perusahaan kita. Kalau bisnis kita tidak membesar, artinya tidak banyak orang lain yang bisa merasakan kebermanfaatan kita. Dan jika saja bisnis kita stagnan, bahkan menurun dan harus gulung tikar, akan berapa banyak tangisan anak-anak yang terancam putus sekolah? Akan berapa banyak tangisan anak-anak yang kelaparan tak mendapat makan? Akan berapa banyak keluarga yang kelaparan karena kepala keluarganya tak sanggup lagi menafkahi mereka?
.
Sebelum kata menyerah, pikirkan kembali untuk apa kita memulai. Kenapa kita harus tetap dan terus melanjutkan pendakian tadi? Jawabannya karena kita belum samapi ke puncak.

No comments