Header Ads

ad

5 Orang Ini Bikin Kita Terpaksa Mengeluarkan Jurus Karate Seketika


Hidup dalam kedamaian yang jauh dari konflik membuat kita bisa leluasa beraktivitas. Tanpa khawatir terkena bentrokan atau bahkan baku hantam. Sebab kemerdekaan adalah hak segala bangsa. Termasuk kita selaku rakyatnya. Bayangkan saja jika kita sedang berada di daerah konflik. Untuk ke luar rumah saja bahkan harus bergerilya atau mungkin harus sewa bodyguard. *Kalau cukup kocek buat bayarnya.


Beruntunglah kita hidup di daerah yang aman, tentram, juga damai. Kesana kemari masih bisa leluasa tanpa harus dikawal bodyguard. Bahkan jomblo pun bisa bebas berkeliaran tanpa rasa takut jika tinggal di daerah damai. Kalau saja di daerah rawan konflik, jangankan jomblo, yang bukan jomblo pun mikir dua kali untuk pergi ke luar rumah meski beramai-ramai. Apalagi jomblo, yang kemana-mana sendiri. #Ooppss


Mengikuti kursus bela diri memang bisa meningkatkan kepercayaan diri. Terlebih untuk pertahanan diri. Apalagi zaman sekarang, berbagai jenis bela diri bisa kita pilih untuk diikuti. Muay Thai, Wing chun, MMA, Taekwondo, Karate, Boxing, Capoeira, atau Silat sekalipun sudah menjamur dimana-mana. Dari kelas yang "soft" sampai "hard" bahkan "extreme" sudah tersedia.


Tapi yang namanya belajar bela diri, bukan berarti bisa bebas seenaknya berbuat. Dikit-dikit ngeluarin jurus, dikit-dikit ngeluarin jurus. Nanti yang ada malah dicap "jagoan baper". Apalagi sampai buat nge-bully orang. Tidak dibenarkan sama sekali. Meskipun kita sudah mempelajari berbagai jenis bela diri dengan jurus mautnya, menemui puluhan padepokan silat, berguru pada sang master, dan berlabel sabuk hitam sekalipun, tak perlu lah untuk dipamerin atau disombongin. Cukup disimpan saja, buat jaga-jaga kalau ada keadaan darurat atau terjadi tindak kriminal.


BTW sabar memang tiada batas. Tapi yang namanya manusia, selalu ada saja ujian kesabarannya. Sampai-sampai jika tak mampu memeliharanya, bisa timbul hal-hal yang menimbulkan kegaduhan dan kegelisahan. Seperti halnya jika bertemu dengan 5 orang ini. Sekalipun kita sudah berusaha sabar, rasanya ada saja yang membuat kita kesal. Bahkan sampai mengeluarkan jurus bela diri kita.

Berikut 5 orang yang bikin kita terpaksa mengeluarkan jurus karate seketika dan membuatnya KO.


1.Petugas parkir liar

Makhluk yang satu ini sering tak kelihatan. Sekalinya datang suka tiba-tiba tak terdeteksi. Datang tak ada di TKP. Begitu kita naik kendaraan mau pulang, baru deh nongol. Tak berseragam seperti berpakaian preman, tapi suka meminta jatah. Pertanyaannya uang parkir yang ditariknya disetor kemana? 

Mending kalau parkirnya dibantuin. Ini mah sudah terima duit, kita malah dibiarkan berlalu begitu saja. Belum lagi sering ngomel-ngomel gak karuan jika ngasih gak sesuai. Padahal tarif yang dia minta tidak sesuai dengan peraturan daerah.

Kalau sudah bertemu dengan orang ini, rasanya jusur karate yang dipelajari selama menggunakan sabuk hitam ingin dikeluarkan seketika. Disabarin, takut ngelunjak nanti. Gak disabarin, menguras emosi. 


2.Pengendara buta rambu

Sudah bukan rahasia lagi jika penyebab kemacetan di negara kita adalah terlalu mudah mendapatkan kendaraan dan terlalu mudah mendapatkan SIM. Ya, para pengguna kendaraan baik roda dua maupun empat, belum tentu semuanya paham dan mengerti rambu lalu lintas. Meskipun mereka bisa menggunakan kendaraannya.

Kadang ujian kesabaran terbanyak terjadi di jalanan pas kita berkendara. Dari mulai pejalan kaki yang nyebrang sembarangan, ngerem mendadak, belok kanan jalan terus serasa belok kiri, sampai belok kiri tapi ngasih lampu sein kanan. Biasanya yang terakhir ini "The Power of Emak-emak".

Bikin kesel dan jengkel juga lama-lama. BTW ada hukum alam tersendiri di jalanan negeri kita. Jika ada kecelakaan mobil dan motor. Yang disalahkan duluan pasti mobil, meskipun yang salah adalah motor. Paradox memang.

Dan kalau sudah bertemu dengan pengendara buta rambu ini, rasanya jurus maut yang kita punya ingin dikeluarkan. Dibiarin nambahin emosi. Gak dibiarin jadi kebiasaan buruk mereka. 



3.Pengamen yang merangkap jadi pemalak

Mendengarkan musik bagi sebagian orang bisa menenangkan. Tapi bagaimana jadinya jika lagu yang dinyanyikan dibawakan pengamen yang merangkap jadi pemalak? Sudah suaranya fals kayak gak niat, maen gitarnya gak karuan, minta tarifnya maksa lagi. Orang waras mana yang akan suka.

Belum lagi jika tarif paksaannya tadi diiringi dengan ancaman. Bahkan dengan senjata tajam. Ocehannya bikin kita mual. Mukanya bikin kita migrain. Tingkahnya bikin kita terpaksa mengeluarkan jurus karate sabuk hitam lagi. Kalau sudah begini, disitu kadang saya merasa kasihan.

Dibiarin ada lagi ada lagi. Gak dibiarin lama-lama jadi preman.


4.Pedagang tukang paksa

Diantara pintu-pintu rezeki, salah satunya dari berdagang. Meskipun nenek moyang kita seorang pelaut. Tapi rupanya tak menurun sampai kita selaku cucu-cucunya. Malah kebanyakan bukan meneruskannya jadi pelaut. Banyakannya jadi pedagang (pengusaha).

Tapi apa jadinya jika kita menemui pedagang yang suka maksa-maksa kita untuk beli. Sudah produknya jelek, cara dagangnya gak asik, wajahnya masam saat kita menolaknya. Belum lagi ngancam dan ngomel-ngomel jika kita tidak membelinya. Orang sehat mana yang mau jadi pembelinya. 

Jika tidak bisa diselesaikan dengan kooperatif. Terpaksa lagi jurus andalan dikelaurkan. Rasanya tidak tega untuk melakukannya. Tapi karena seakan dipaksa. Mau gimana lagi. Dibiarin maksa. Gak dibiarin ketemu terus-terusan.


5.Teman kelas yang suka cari muka guru

Mempunyai teman asik memang menyenangkan. Selain bisa menghibur disaat sedih, juga bisa menjadi teman gila-gilaan. Tapi apa jadinya jika kita harus bertemu dengan teman yang suka cari muka guru?

Misalnya saja seperti ini. Disaat mata pelajaran Matematika, yang kebetulan gurunya killer. Kemudian kita tidak mengerjakan PR-nya. Seperti kita tahu, yang tidak mengerjakan PR akan dihukum lari keliling lapangan upacara dan berdiri di depan kelas sampai pelajaran selesai. Tanpa diduga guru tadi lupa dan tidak menanyakan perihal PR tadi. Betapa senangnya kita dan teman kelas lainnya. Serasa tenang batin ini. 

Tiba-tiba salah seorang teman menanyakan tentang PR tadi pada guru killer. Seketika hening. Pandangan mata langsung tertuju ke arahnya. Seakan mengeroyok secara tidak langsung teman yang cari muka tadi. Dan seisi kelas terkena hukumannya.

Kalau sudah begini, mau gimana lagi. Mau murka sudah terlanjur. Seakan jurus bela diri yang dipelajari ingin didemonstrasikan seketika. Dibiarin kita jadi tumbal. Gak dibiarin kita yang salah.


BTW dari 5 orang tadi, mana yang paling sering bertemu dengan kalian? Selamat bersabar.

No comments