Di sebuah kelas, seorang guru sedang menanyakan cita-cita para muridnya. Satu persatu murid mulai mempresentasikan cita-citanya dihad...

TUKAR



Di sebuah kelas, seorang guru sedang menanyakan cita-cita para muridnya. Satu persatu murid mulai mempresentasikan cita-citanya dihadapan guru dan teman-temannya.

Guru: "Anwar apa cita-cita kamu?".
Anwar: "Jadi anak yang berguna bagi bangsa dan negara bu"
Guru: "Bagus. Kalau gitu jangan pernah mencontek dan jadi plagiator ya".

Guru: "Kalau kamu, apa cita-citamu nak?". Menunjuk murid di pojok ruangan.
John: "Saya ingin jadi power ranger bu. Kalau bisa ranger putih".
Guru: "Keren. Nanti bisa buat membasmi kejahatan ya".

Guru: "Kamu Mimin, cita-citanya jadi apa?"
Mimin: "Aku ingin jadi dokter anak yang juga hafal Al-Qur'an".
Guru: "Ma sya Allah. Cita-citamu mulia".

Guru: "Kalau kamu mau jadi apa?". Menunjuk seorang murid di pojok ruangan.
Balloteli: "Jadi suaminya Mimin, bu".
Guru: #$?%*#@


Melihat cerita di atas jadi teringat masa kecil silam. Dimana masing-masing dari kita punya cita-cita yang begitu besar, tak peduli orang menertawakan, tanpa menghiraukan rasa takut tak tercapai. Masih terkenang dalam ingatan cerita seorang teman yang bercita-cita jadi power ranger dulu. Bagi orang dewasa hal ini terkesan absurd dan terdengar konyol memang. Tapi tidak bagi mereka-mereka saat itu. Usia anak-anak yang penuh dengan bermain, tak sedikitpun pikirannya terbebani dengan hal-hal yang menurut orang dewasa mustahil. Bagi mereka hidup saat itu layaknya sebuah ice cream, yang harus dinikmati sebelum mencair.


Dari cita-cita yang dimiliki anak-anak, profesi dokter yang menempati urutan utama. Diikuti pilot dan astronot. Entah apa yang mendasarinya. Mungkin karena dokter tampilannya bersih karena mengenakan baju putih, keren karena banyak yang cakep, juga banyak duitnya. Untuk yang terakhir sering kita dengar dari orangtua dan orang sekitar biasanya. 


Seiring bertambahnya usia, cita-cita yang dulu dengan berani dan lantang diproklamasikan kini tak lagi seperti itu. Beberapa ada yang masih memegang teguh cita-citanya. Meski ada juga yang terombang-ambing kebingungan dengan cita-citanya saat ini. Kadang juga ada yang karena kebimbangan tadi, memutuskan untuk ikut-ikutan numpang cita-cita temannya. Berbeda saat tengah dewasa, masa anak-anak penuh dengan keberanian tanpa mengutamakan banyak pertimbangan ini itu. Dan satu persatu cita-cita lama perlahan mulai ditukar dengan yang baru, berbarengan dengan tumbuh kembang kita. Kita ingat ulah usil dulu, ketika kita ingin memakan buah di pohon tetangga. Dengan susah payah kita mengambil buah tersebut dengan cara melemparnya dengan sandal, memukulnya dengan bambu, atau meloncat-loncat demi bisa memetiknya. Tahun demi tahun dilalui, seiring tumbuh kembang, kita tidak lagi harus meloncat-loncat untuk bisa memetik buah tadi. Karena dengan mudahnya tangan kita kini sudah bisa langsung memetiknya. Bukan karena pohonnya yang tidak bertumbuh, tapi kitanya yang ikut berkembang. Seperti itu juga cita-cita yang pernah kita miliki. Akan ditukar dengan yang lain, sesuai minat dan passion yang dimiliki seiring berjalannya waktu.


Mengubah atau menukar cita-cita bukanlah sebuah kesalahan selama kita mampu menakar kapasitas diri. Sebab cita-cita akan tetap menjadi angan selama kita tidak menyediakan ruang untuk bertumbuh. Satu hal yang jangan pernah dilupakan saat menukar cita-cita. Pastikan hadirkan DIA Sang Maha Penentu dalam cita-cita kita. Sebab kita hidup di bumi ini sebagai pelaku. Bukan penentu. Dan selama kita menghadirkan-NYA, kemudahan demi kemudahan akan perlahan menghampiri.


0 komentar: