Header Ads

ad

PASTI

  •  
  •  
  • Kebersamaan keluarga menjadi hal yang dinanti untuk dinikmati di hari raya, selain THR tentunya. Keluarga yang tak sering jumpa, terpisahkan jarak, dan jarang tegur sapa, kini berbaur tak ada lagi sekat dan menjadi dekat. Satu persatu para kerabat mulai berdatangan, beratatap muka, sambil sesekali menyelipkan salam tempel. Sebuah moment yang sangat dinantikan bagi mereka-mereka yang belum berpenghasilan. Semuanya terasa damai penuh keceriaan, seperti ingin berlama-lama merasakan perayaan ini. 
    Bagi kaum anak cucu, hal ini menjadi ajang ujian mental untuk mempersiapkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang kadang menggelitik, meski tidak jarang membuat gengsi terjatuh. Pertanyaan-pertanyaan seperti "batal puasa berapa kali?", "sudah putus lulus?", "sudah melamar kerja?", "kerja dimana", sampai "kapan nikah", harus sudah siap dijawab dengan jawaban memukau. Bukan jawaban galau.

    Dimana ada perkumpulan keluarga, disana ada makanan berlimpah. Lontong sayur dan ketupat sudah menjadi menu andalan di hari raya. Sementara kue-kue bertoples cantik telah terpajang rapi memenuhi meja tamu. Meski kadang ada ketidaksesuaian antara kemasan dengan isinya. Seperti kemasan biskuit "Engkong Gua" yang selalu berisikan rengginang dan keluarganya (baca: opak, simping, dan saroja) :D *Tidak selalu memang, tapi kebanyakan.

    Ada tradisi yang tidak akan dilewatkan setelah acara ramah tamah dan makan besar. Ziarah ke makam keluarga. Jalan kaki bagi yang dekat atau naik mobil bagi yang jauh sekalipun, pasti tidak akan lupa membawa satu kantong kresek berisi bunga dan sebotol air. Tiba di TKP, para sesepuh mulai memimpin doa. Sementara kaum millenials turut mengaminkan. Meski ada beberapa yang sibuk dengan gadgetnya. Suasana kuburan yang biasa sepi dan mengerikan, sontak ramai. Seperti halnya jumlah kuburan, yang tiap harinya terus bertambah. 
  • Sesekali pandangan tertuju pada batu-batu nisan. Memperhatikan nama yang tertulis, tanggal lahir yang meninggal, sampai tanggal wafatnya. Sambil menghitung jumlah umurnya. Pernah suatu ketika mendapati mereka-mereka yang menemui kematiannya saat terlahir ke dunia. Meski ada beberapa diantaranya yang menemui kematiannya dibawah umur yang kita punya. Hal ini seakan menegaskan kembali, jika mati tak akan kenal usia. Tua-muda, sehat-sakit, kaya-miskin, tidak ada garansi untuk tidak mati. Sebab semua yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Dan satu-satunya kepastian adalah kematian itu sendiri.

    Kita tidak akan pernah tahu kondisi mereka-mereka di dalam kuburan seperti apa. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan kita menyusul mereka. Yang pasti kita akan seperti mereka. Yang lebih penting dari ini semua bukanlah kapan kita mati. Tapi dalam keadaan bagaimana kita mati? Su'ul khotimah atau khusnul khotimah? Sebab hidup itu sangat singkat. Sesingkat jarak adzan dengan iqomah. Jangan sampai hal yang pasti tadi kita lalai mempersiapkannya. Atau malah sibuk mempersiapkan hal yang tidak pasti dan yang tidak dibawa mati.

No comments