Tidak semua hal bisa kita dapatkan. Karena hidup tak sekedar soal kemenangan, tapi juga perjuangan. Bermimpi tentang hal yang bel...

MERASA



Tidak semua hal bisa kita dapatkan. Karena hidup tak sekedar soal kemenangan, tapi juga perjuangan.

Bermimpi tentang hal yang belum pernah dimiliki adalah hak setiap orang. Bukanlah hak kita memandang remeh impian seseorang atau bahkan mematahkan semangat juangnya yang sedang membara. Sebab tidak ada impian yang terlalu tinggi untuk diraih. Sepertihalnya langit, meski terlihat jauh tapi tidak mustahil untuk digapai.

Beberapa ada yang memiliki impian punya hunian mewah, kendaraan baru, barang-barang branded, dan segala kemewahan lainnya. Meski ada diantaranya yang mempunyai impian untuk bisa makan daging tanpa harus menunggu idul adha, bersekolah tanpa harus bertaruh nyawa, bahkan punya pakaian baru tanpa haru menunggu lebaran. Bagi kita terlihat sederhana. Tapi tidak bagi mereka. Menjadi keistimewaan tersendiri ketika apa yang mereka harap berbuah nyata.

Benar kata pepatah, "untuk mendapatkan sesuatu, kita harus  menukarkan sesuatu". Untuk mengkonversi impian kita menjadi nyata ada harga yang harus dibayar, dengan menukar apa yang kita punya. Waktu, tenaga, bahkan biaya sekalipun menjadi alat tukarnya. Kita mungkin pernah  mati-matian berupaya dan menukarkan yang dipunya, tapi impian tak kunjung jadi nyata. Padahal kita merasa usaha yang dilakukan sudah yang terbaik, melangitkan do'a yang tak kenal henti, dan rajin bersedekah meskipun kadang masih serakah. Kita merasa ibadah kita yang paling baik, yang paling rajin dibanding teman-teman atau orang-orang disekeliling kita. Tapi nyatanya mereka-mereka yang kita tuduh tidak lebih baik dari kita, justru mendapatkan impiannya terlebih dulu dibanding kita. Sementara kita sibuk mengkambinghitamkan keadaan dan sibuk merasa. Merasa upaya diri lebih baik dari semuanya.

Lantas apa hak kita merasa iri pada mereka? Bukankah tiap-tiap dari kita punya waktu suksesnya tersendiri?
Memelihara penyakit "merasa" tadi bisa jadi benih penyakit hati, dengki. Merasa diri kita yang paling layak dibanding yang lain, tidak jaminan kita yang terbaik. Selama rajin sedekah tapi masih serakah, tahajud masih sekali dua kali, yang wajib sering diabaikan janganlah mengklaim doa kita tak terkabul saat impian tak jadi nyata. Tak perlu kita menuntut Tuhan karena pinta kita terlambat dikabulkan. Tapi tuntutlah diri karena terlambat menunaikan kewajiban. 

0 komentar: