"Bergurulah pada mereka yang berilmu. Bukan sekedar populer". Menjadi guru tidak semudah menjadi murid. Dimana guru harus mem...

4 Tipe Guru

"Bergurulah pada mereka yang berilmu. Bukan sekedar populer". Menjadi guru tidak semudah menjadi murid. Dimana guru harus memiliki ilmu dan pengalaman yang lebih dibanding murid. Sebagai yang pernah merasakan menjadi murid, pastinya pernah kita temui para guru dengan beragam karakternya. Dari mulai yang humoris, populer, cerdas, bijak, lembut, sampai yang killer. Kadang tanpa disadari kita mencoba menyalahkan mereka, ketika apa yang mereka ajarkan belum sepenuhnya kita mengerti. Padahal jika dari seisi kelas, hanya satu atau dua murid yang belum paham, bukan berarti gurunya yang salah. Dan kalau seluruh murid di kelas tidak mengerti dengan apa yang guru ajarkan, barulah kita bisa mempertanyakan guru tersebut. Namun bukankah lebih baik berintrospeksi diri terlebih dahulu sebelum menilai atau bahkan menghakimi orang lain? Terlebih mereka adalah guru. Karena bisa jadi kita tidak memahami apa yang mereka ajarkan, karena kita yang tidak memiliki kesungguhan niat dalam belajar. Menjadi guru punya nilai kemuliaan tersendiri oleh sebab karena ilmu dan teladannya, derajat mereka meningkat. Jangan sangka ujian seorang guru itu ringan. Karena semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berhembus. Rasa ujub, sombong, dan riya seringkali menggoda untuk meremehkan orang lain. Berikut ada 4 tipe guru yang bisa kita pilih: 1.Seperti hujan Hujan turun membasahi bumi. Tanpa pernah pilih kasih, ia basahi semua yang dijatuhinya. Dari mulai pohon tertinggi, sampai rumput di tempat rendah. Tak ada satu pun yang bisa menolak kedatangannya. Tipe guru yang seperti hujan ini adalah mereka yang dengan ikhlas juga tulus memberikan ilmunya pada siapa saja yang mau jadi muridnya. Tak peduli jumlah muridnya (follower-nya) sedikit. Tak peduli yang nge-like sedikit. Selama amanah dia pegang, perannya akan dimainkan dengan sebaik-baiknya tanpa pilih-pilih. Kadang kan ada para mastah atau guru yang gak mau atau gak jadi ngajar karena peserta (muridnya) sedikit. Follower-nya sedikit, yang nge-like dikit, yang komen sedikit, jadi batal belajar mengajarnya. 2.Seperti mata air Mata air tidak bisa turun seperti hujan dan keluar dari tempatnya. Dia harus kita datangi. Bukan sebaliknya. Karena begitu vital perannya untuk kebutuhan hidup manusia, sejauh apapun akan didatangi. Tipe guru seperti mata air ini tidak bisa mobile karena keterbatasan hal. Seperti faktor usia, ada kepentingan tertentu, atau lokasinya yang sulit dari jangkauan. Namun keterbatasan yang menghalangi tadi, tidak membuat para murid meninggalkan begitu saja. Karena jasanya sangat dibutuhkan, para muridlah yang mencari dan mendatanginya. 3.Seperti air PDAM Air PDAM akan terus mengalir selama dibayar. Meski kadang juga tidak mengalir mulus jika di musim kemarau. Tipe guru seperti ini akan mengajar jika dibayar. Kalau tidak dibayar, di stop-lah seperti air PDAM di rumah. 4.Seperti air keruh Tidak seorang pun mau menggunakan air keruh untuk kepentingannya. Jangankan untuk mencuci tangan, melihatnya saja sudah tidak selera. Tipe guru seperti ini bukanlah teladan yang baik. Setiap orang berpotensi menjadi guru. Termasuk kita. Namun pastikan ketika kita berguru, bergurulah pada orang yang tepat. Pada mereka yang berilmu, bukan sekedar populer semata. Sebab boleh jadi mereka yang berilmu tidaklah populer, sementara mereka yang populer tidak berilmu. motivaksi.blogspot.com

0 komentar: