Saat kita merasa jenuh dan lelah dengan rutinitas yang dijalani. Mungkin sudah waktunya kita butuh piknik. Dodol aja picnic. Masak kamu...

Fit Stop Diri



Saat kita merasa jenuh dan lelah dengan rutinitas yang dijalani. Mungkin sudah waktunya kita butuh piknik. Dodol aja picnic. Masak kamu nggak?

Hampir semua orang pernah berada di titik jenuh. Mulai dari pekerja kantoran, pekerja profesional, pedagang, pengusaha, sampai Rio Febrian pun pernah merasakan jenuh. Jenuh bertemankan bosan terkadang melelahkan. Terlebih apa yang dilakukan sepanjang hari adalah hal yang diulang-ulang alias itu-itu saja, tanpa adanya perubahan dan variasi setiap harinya.

Pergi pagi pulang petang, bersahabat dengan kemacetan juga asap kendaraan, dikejar deadline, sibuk dengan tumpukkan tugas, dan pekerjaan lain yang menunggu, memaksa kita ekstra fokus. Salah-salah minum air mineral, bisa gagal fokus.

Jenuh adalah sebuah kewajaran yang memaksa kita keluar untuk rehat sejenak. Balapan tercepat F1 saja butuh pit stop untuk mengecek dan me-refresh kondisi mesin, sebelum melanjutkan balapan kembali. Sama halnya dengan jenuh tadi, yang bisa kita ibaratkan menjadi pit stop diri. Disisi lain, jenuh bisa menjadi ketidakwajaran jika kita tidak bisa mengatasinya. Lalu, bagaimana cara mengatasi rasa jenuh itu?

Syukuri apa yang ada. Hidup adalah anugerah
Jenuh bisa dipicu karena kurangnya bersyukur dengan apa yang dipunya. Hal ini memicu gagal fokus dan rasa berkekurangan yang tak wajar. Seperti merasa kurang dengan apa yang dimiliki, sementara di luar sana kita melihat orang-orang mendapatkan apa yang tidak bisa kita miliki. Merasa orang lain lebih bahagia dibanding kita dengan waktu dan kebebasan yang dimilikinya. Sementara kita, tiap hari bersahabat dengan office hour, kemacetan, deadline tugas, dan agenda lainnya, semakin memperparah rasa jenuh. Padahal di luar sana masih banyak yang kesana kemari membawa alamat perusahaan, cari kerja kesana kemari, sabar mengantri di job fair, sampai di-PHP-in perusahaan.

Manjakan diri
Tak ada salahnya memanjakan diri, seperti mentraktir diri sendiri misalnya. Rayakan setiap keberhasilan dan apresiasi hasil kerja kita. Sebab kita sudah bekerja keras selama satu bulan dengan menukarkan tenaga dan pikiran yang dipunya. Sepertihalnya sebuah kendaraan yang sudah dipakai berpergian lama dan jauh, butuh di-service agar tarikannya kembali kencang seperti kondisi baru. Tak jauh beda dengan kendaraan tadi, kita pun butuh relaksasi untuk me-refresh body dan otot yang mulai mengendor. Caranya bisa disesuaikan dengan hobi. Mulai dari baca buku, nonton, makan-makan, belanja, hangout, olahraga, pijat refleksi, dan lainnya.

Berliburlah
Liburan seakan sudah menjadi mantra ampuh untuk mengusir jenuh setelah melewati padatnya aktivitas. Namun tidak semua dari kita bisa berlibur secara mendadak. Butuh persiapan dan mengatur jadwal terlebih dahulu sebelum "gong" berlibur berbunyi. Terlebih jika dilakukan di akhri bulan. Berlibur adalah hak setiap orang. Tak ada salahnya merencanakan sejak jauh-jauh hari dan membuat itinerary-nya. Dengan perencanaan matang, liburan akan terasa tenang dan menyenangkan. Tanpa khawatir bekal habis di perjalanan, tersesat, bingung dengan destinasi wisata, dan terhindar dari wasting time.

Pada akhirnya, selain tigal hal di atas. Jenuh dan lelah akan hilang selama kita melakukan apa yang dikerjakan dengan penuh keikhlasan, rasa syukur, dan memaknai kesibukan diri dengan bijak.

Jadi kapan kita mau liburan?

0 komentar: