Cara kita bertanya kadang bisa menjadi kebablasan. Keingintahuan kita terhadap orang lain menjadi berlebihan. Kita lupa mengenai ba...

Bersikap Sebelum Berucap



Cara kita bertanya kadang bisa menjadi kebablasan. Keingintahuan kita terhadap orang lain menjadi berlebihan. Kita lupa mengenai batas norma dan aturan. Bahwa setiap orang itu memilik ruang seperti halnya rumah yang apabila kita ingin masuk, maka akan lebih baik dengan mengetuk pintu dan ucapkan salam terlebih dahulu. Bukan tiba-tiba masuk begitu saja, seperti maling kan?


Secara sadar atau tidak, kita pernah dipertemukan dengan mereka (orang-orang) yang cara bertanya dan bebicaranya membuat hati kita tersinggung. Entah mereka sadar atau tidak, yang jelas kita sebagai pendengar yang merasakannya. Ucapan yang seringkali khilaf tanpa sadar terucap tidak bisa ditarik ulang. Sekalinya terucap, akan tertancap di hati.


Mungkin mereka tidak sadar telah melampaui batas tentang apa yang menjadi pertanyaannya. Atau bahkan hal tersebut terjadi karena ketidakpahaman mereka tentang batasan berkomunikasi yang baik dan benar. Bisa jadi bagi mereka hal tersebut dianggap biasa karena telah menjadi kebiasaan. Tapi tidak bagi kita.


Menanyakan hal yang bersifat privasi diawal perkenalan tidak selalu dirasakan nyaman bagi sebagian orang. Kita pasti pernah mengalaminya. Bagaimana tidak, ada orang yang baru kita kenal kemudian menanyakan terkait privasi yang tidak semestinya semua orang tahu karena ke-KEPO-annya. Seperti halnya menanyakan sudah berkeluarga atau belum. Kita tidak pernah tahu, bisa jadi orang yang kita kenal adalah mereka yang baru saja berpisah dengan keluarganya karena suatu sebab, bisa kematian atau perceraian misalnya. Atau menanyakan gaji misalnya. Lantas apa hubungannya kita menanyakan hal itu? Kita bukan HRD kan? Sebisa mungkin hindari pertanyaan sensitif menyangkut privasi jika kita belum mengenal jauh lawan bicara. Daripada salah bicara dan berujung rasa sakit hati. Lebih baik, bersikap dulu sebelum berucap.


Setuju?

0 komentar: