Melihat Dengan Kedua Mata Kita diberi dua telinga dan satu mulut agar kita lebih banyak mendengarkan sebelum berbicara. Dan diber...

Melihat Dengan Kedua Mata



Melihat Dengan Kedua Mata

Kita diberi dua telinga dan satu mulut agar kita lebih banyak mendengarkan sebelum berbicara. Dan diberikan dua mata, agar kita bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas dan hati-hati. Ya, kata terakhir "hati-hati" memberikan kita peringatan bahwasannya apa yang pernah dan sedang kita lihat saat ini, haruslah yang memang seharusnya. Karena pada akhirnya apa yang kita lakukan baik langsung maupun tidak, akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. Termasuk dengan mata dan pandangannya.

Kadang kita sering, beberapa kali  melihat hal atau peristiwa dengan kaca mata kita sebagai sudut pandangnya. Tanpa mempedulikan sudut pandang orang lain. Memang, dalam menasehati seseorang jika nasehat tersebut ingin mudah diterima, gunakanlah kaca mata atau sudut pandang mereka. Jangan gunakan kaca mata kita sendiri. Artinya jangan memaksa orang lain melakukan hal sesuai yang kita inginkan tanpa bisa memahaminya terlebih dahulu. Karena tak selamanya yang terlihat itu sama dengan yang sedang dirasakan. Kadang ada yang sering tampak tapi tak memberi dampak. Ada juga yang jarang tampak namun memberi dampak.

Apa yang sedang kita lihat, boleh jadi tidak benar-benar seperti yang terlihat. Bisa saja kita melihat segala sesuatunya terasa baik, tapi yang dirasakan orang lain sebaliknya. Bisa jadi kita melihat orang lain baik-baik saja tidak ada apa-apa, tapi siapa yang tahu mereka menyimpan rasa yang tidak dirasakan apa yang disangka dan terlihat oleh kita.

Inilah hidup yang punya banyak rasa. Memaksa kita untuk pintar merasa. Bukan merasa pintar. Seperti apa yang pernah saya dengar perihal perspektif salah seorang teman. Menurutnya idealnya jika sudah menikah lebih baik berpisah dengan orangtua. Baginya tinggal serumah dengan orangtua setelah menikah tidak akan membuatnya berkembang. Bahkan menurutnya hal tersebut memalukan. Saya tidak menyatakan perspektif dan pendapat dia benar atau salah. Saya hanya berasumsi bisa jadi yang dilihatnya tidak benar-benar nyata atau tidak seperti yang ditampilkan mereka karena kita tidak bisa merasa. Mungkin menurut kaca mata atau sudut pandang teman saya tadi, apa yang dilihat benar menurutnya. Namun bagi saya, saat kita melihat persoalaan jangan lupakan pikiran dan perasaan. Keduanya harus diikutsertakan agar apa yang terlihat bisa lebih jelas dan terasa bijak. 

Jika menurut teman saya tadi idealnya setelah menikah harusnya berpisah dengan orangtua silahkan saja. Kalau itu memang menurut kaca mata dia. Sekarang bagaimana kalau dibalik? Kita melihatnya menggunakan kacamata mereka? Bisa jadi mereka belum bisa berpisah dengan orangtua karena kondisi ekonomi yang pas-pasan atau bahkan kesulitan untuk bisa mencicil atau mengontrak rumah. Bagaimana kalau mereka hidup dan tinggal bersama orangtuanya bukanlah pilihan mereka sendiri, melainkan permintaan orangtuanya agar bisa menemaninya sampai akhir hayat? Bagaimana kalau pilihan mereka untuk menetap bersama orangtuanya adalah sebagai bakti dan balas budinya pada mereka, agar bisa lebih sering menghabiskan waktunya dengan orangtuanya? Boleh jadi hidup kita sudah mapan dan mampu hidup sendiri terpisah dari orangtua. Tapi tanya lagi pada diri sendiri. Seberapa sering kita mengunjungi dan menemani orangtua kita? Bisakah kita ada disaat mereka membutuhkan kita? Atau justru kita menolak pintanya dengan alasan sibuk karena kerjaan atau bisnis dan lain sebagainya? Saya tidak membenarkan atau menyalahkan sudut pandang saya maupun teman saya tadi. Karena semuanya kembali pada pilihan masing-masing.

Bukan berarti mereka yang serumah dengan orangtua atau mertuanya itu memalukan. Bisa saja itu bukan permintaan mereka. Melainkan permintaan orangtua atau mertuanya. Atau bisa saja mereka ingin bisa hidup bersama agar bisa merawat dan menghabiskan bakti pada orangtuanya sampai Allah memanggilnya.

Hidup adalah pilihan. Maka pilihlah yang terbaik. Tak perlu mempersoalkan dan memusingkan orang lain. Toh kita juga punya kehidupan yang masih banyak dikomentari orang. Pertanyaannya, jika kita terus menerus sibuk mengomentari hidup orang dengan sudut pandang kita yang saklek dan dirasa paling benar. Kapan kita mengurusi dan memperbaiki diri?
 

0 komentar: