Salam MOVE ON dari Saya, pria BIASA yang ingin selalu BISA. TIDAK pernah JUARA kelas juga TIDAK pernah tidak NAIK KELAS "Asa...

Asalnya Dari Mana Mas



Salam MOVE ON dari Saya, pria BIASA yang ingin selalu BISA. TIDAK pernah JUARA kelas juga TIDAK pernah tidak NAIK KELAS

"Asalnya dari mana mas?"

Pertanyaan ini pasti sering kita dengar dan dapat dari seorang yang baru kita kenal. Tanpa bermaksud sekedar basa basi, jawaban pertanyaan tadi bisa menjadi menarik atau tidaknya topik pembicaraan selanjutnya. Karena kebanyakan dari kita, akan merasa aman dan nyaman dengan orang yang punya kesamaan. Dalam hal ini terlebih jika punya kesamaan daerah asal. Ya, orang akan merasa lebih dekat jika punya persanaan dengannya. Misalkan ketika kita berkunjung ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya, tiba-tiba ada orang bertanya pertanyaan diatas dan kebetulan dia sama-sama dari daerah yang sama dengan kita. Apa yang kita rasakan? Dalam hati pasti ada rasa "akhirnya ada juga yang dari daerah gue". Sadar atau tidak timbul rasa aman dan nyaman.

Pertanyaan selanjutnya dari "asalnya atau aslinya darimana" adalah dengan menyebutkan icon atau brand dari daerah tersebut. Bisa oleh-oleh khasnya, tempat wisata, tempat kuliner, belanja, dan hal lain yang menjadi daya tarik dan membuat daerah tadi terkenal. Bagi daerah atau kota yang sudah punya brand tadi pasti bakalan mudah dikenal orang di luar sana. Bagaimana jika Kota kita belum dikenal orang karena belum ada icon yang dikenal luas? Seperti ketika saya ditanya asalnya dari mana dan dijawab dari Kota Banjar. Apakah Anda mengenal dan tahu dimana Kota yang saya sebutkan? Kebanyakan mengenalnya "Jauh amat. Banjar Kalimantan?" atau "Banjarnegara ya?". Sedikit saya tersenyum sambil menjawab "Kota Banjar Jawa Barat". Sedikit saya tambahkan kota kecil dengan sejuta impian.

Mungkin diantara Anda ada yang mengalami hal sama. Tidak ada icon khas yang membuat Kota Anda dikenal. Jika memang kota kita tidak dikenal karena oleh-olehnya, tempat wisata, pusat kulinernya, dan tempat belanjanya kita bisa jual yang lain. Jual BRAND kita. Ya. Kita sendiri punya BRAND (Nilai diri) yang bisa dipromosikan pada orang. Lewat apa? Bisa lewat sikap dan kepribadian. Misalkan ketika kita bertemu dan berinteraksi dengan orang baru, akan selalu ada setereotip (penilaian generalis) pada orang tadi. Kita bertemu orang dari Kota X yang kita bahkan orang pun belum tahu itu dimana dan apa ciri khasnya. Namun begitu kota berinteraksi dengannya, ketika terbangun kenyamanan berkomunikasi kita bisa langsung menilai dengan cepat apakah orang tadi asik dan menyenangkan atau tidak. Jika TIDAK mengasikkan karena orang Kota X tadi tidak sopan bicaranya, dekil, atau bau badannya. Sadar atau tidak, akan muncul penilaian cepat dari diri kita seperti "Ternyata orang kota X itu pada dekil, bau, dan gak sopan ya!" dalam hati. Padahal bisa jadi tidak semuanya seperti penilaian kita tadi.

Bagaimana kalau sebaliknya? Orang dari kota X tadi bicaranya sopan, ucapannya penuh ilmu, lembut dan rapi. Apa yang akan jadi penilaian kita? Dalam hati berkata "Ooo ternyata orang kota X asik dan sopan-sopan ya" seketika setigma buruk apapun terkait kota X tadi akan terkikis. Bisa saja sebagian orang menilai orang kota X "gak asik" tetapi begitu bertemu dan berinteraksi dengan kita, sangkaan mereka jadi berubah. Right? Yang tadinya menyangka "Orang kota X memang gitu. Gak tau sopan santun". Dan begitu mengenal kita mereka berkata "ternyata orang-orang kota X tidak seperti yang dikatakan banyak orang. Buktinya mereka ramah-ramah dan sopan santun".

Masing-masing dari kita punya BRAND sendiri. Yang kemanapun kita pergi akan mencerminkan lingkungan kita tinggal. So, temukan nilamu dan bangun BRAND Anda.
Saya Fazar Firmansyah.

0 komentar: