Semua jenis bisnis adalah bisnis jasa. Apapun produknya, pasti akan berhubungan dengan jasa. Sebuah produk untuk sampai ke tangan k...

Manners First, Money Later



Semua jenis bisnis adalah bisnis jasa. Apapun produknya, pasti akan berhubungan dengan jasa. Sebuah produk untuk sampai ke tangan konsumen pastinya melewati proses jasa, baik berupa pendistribusian hingga pelayanan. Sebagus apapun produk yang dimiliki dan semewah apapun tempat yang kita tawarkan, jika dalam pelayanannya buruk, calon konsumen tidak akan mungkin mau menggunakan produk apalagi jasa kita.

Hidup diera teknologi semakin memudahkan kita dalam mendapatkan informasi. Terlebih saat hendak menggunakan sebuah produk atau jasa. Para calon konsumen sekarang pastinya akan mencari tahu terlebih dahulu, kualitas dan reputasi perusahaan secara online. Semakin banyak rekomendasi yang diberikan para pelanggan yang sudah lebih dulu memakai suatu produk, maka semakin bagus pula reputasi perusahaan tadi. Pun sebaliknya, semakin sedikit rekomendasi akan berbading lurus dengan reputasinya.

Pernah suatu ketika, printer yang biasa digunakan mendadak "sakit". Setelah dicoba reparasi sendiri bermodalkan google, terpaksa saya harus melambaikan tangan ke kamera karena tidak mampu disembuhkan. Kalau sudah begini mau tidak mau harus dibawa ke bengkelnya. Sejurus kemudian saya menanyakan tempat servis printer yang recommended pada teman. Datanglah saya ke tempat yang dimaksud. Tempatnya lumayan besar dan barang jualannya lumayan komplit. Dalam hati bertanya "ini baru tempat servis yang bagus". Namun apa yang terjadi? Secara produk, barang yang ditawarkan memang komplit tapi secara pelayanan NO! Customer Service si mbak-mbak yang harusnya menyambut pelanggan dengan ramah terkesan bermuka masam dan jutek. Terkesan acuh mahal senyum. Meskipun secara teknis, jasa mereka bagus dan tidak ada masalah dengan para teknisi. Hanya saja sepanjang saya kesana beli barang ataupun servis, selalu disambut dengan ekspresi yang sama. Entah itu memang sifat dan karakternya begitu atau memang saya yang tidak biasa dengan gaya pelayanan seperti tadi.

Hasil akhirnya bisa ditebak. Saya harus berkhianat dan selingkuh dari tempat tadi untuk menggunakan jasa lain. Suatu ketika, printer kantor salah seorang teman sakit dan harus dirawat. Saya tidak merekomendasikan tempat pertama dan menambahkan sedikit catatan untuknya. Ditunjuklah tempat alternatif lain yang mudah-mudahan lebih baik dari yang pertama. Dan ya, tebakan saya benar. Tempat kedua pelayanannya jauh lebih baik meski barangnya tidak selengkap tempat pertama. Begitu datang kesana, disambut dengan antusias, penuh senyuman, dan ditanyakan apa kendala kerusakannya. Hasilnya, bisa sesaui harapan dan saya rekomendasikan ke teman-teman utnuk memakai jasanya.

Pada dasarnya pelanggan mengguakan produk atau jasa kita karena mereka menginginkan permasalahannya bisa terselesaikan, Mereka butuh solusi dan kejelasan. Karena produk yang baik adalah yang bisa menjawab permasalahan pelanggannya. 

Manners First, Money Before. Jangan sampai kita melupakan pelayanan hanya karena produk kita dirasa sudah baik. Mendapatkan pelanggan tak semudah mempertahankan pelanggan. Terlebih di era digital sekarang. Satu customer mengalami ketidakpuasan, 1000 calon customer bahkan seluruh dunia bisa mengetahuinya dan ita akan kehilangan calon customer. 

Jangan pernah menerapkan hit and run. Yang penting mereka beli, urusan nanti mereka mau beli lgai atau tidak, itu belakangan. Justru salah besar! Bisnis tak semata mengejar profit, profit, dan profit. Tapi lupa pada pelayanan. 

KEGAGALAN PELAYANAN BUKAN SAAT
CUSTOMER PERGI TANPA MEMBELI.
NAMUN SAAT MEREKA PERGI
TANPA TERSENYUM -Agni Mayangsari

So, manners first, money later!



0 komentar: