"Lo sekarang beda bro" "Kayaknya ada yang beda deh dari lo" "Lo gak seasik dulu men" Pernah dap...

Letak Perbedaan



"Lo sekarang beda bro"
"Kayaknya ada yang beda deh dari lo"
"Lo gak seasik dulu men"

Pernah dapat pertanyaan seperti di atas?

Bagi kalian yang sedang ber-hijrah (menuju yang lebih baik) tentu sering mendapat pertanyaan diatas. Mulai dari berubahnya cara berpenampilan, berperilaku, kepribadian, bahkan pemikiran. Sangatlah wajar jika mereka mulai melontarkan rasa penasaran lewat tanya tadi. Tidak ada yang harus disalahkan dan saling merasa benar. Karena mereka berdalih demikian pasti ada sebabnya. Bisa jadi karena mereka belum siap menerima perubahan diri kita. Entah karena berbagai hal. Dari ilmu yang belum sampai, kematangan diri yang belum siap, hingga belum cukupnya keberanian untuk menentukan langkah keputusan. Satu hal yang harus digaris bawahi. Ketika mereka bertanya dan merasakan ada yang beda dan berubah pada diri kita, tanyakan kembali apakah perubahan tadi menjadi lebih baik dari sebelumnya atau sebaliknya menjadi lebih buruk? Syukur-syukur kalau yang dikatakan perubahan yang lebih baik pada diri kita dari sebelumnya. Jika malah sebaliknya, berarti ada yang salah dengan langkah dan proses kita.

Saya termasuk orang yang percaya jika kita menginginkan sesuatu, kita harus menukarkan sesuatu. Artinya jika kita mempunya visi atau tujuan hidup yang jelas, pastinya kita tidak akan membuang waktu dan kesempatan begitu saja. Lain halnya jika tidak memiliki visi hidup. Jika kita mendapatkan sesuatu, kita pasti kehilangan yang lain. Pun dalam memiliki impian. Jika ingin mendapatkannya, kita harus menukarkan apa yang kita miliki. Seperti halnya waktu, tenaga, bahkan biaya. Dan saat kita mendapatkan impian tadi, kita pasti kehilangan yang lain. Saat kita sibuk menukarkan waktu, tenaga, dan biaya kita dengan impian tadi, setidaknya kita akan kehilangan yang lain. Bisa berupa, hilangnya waktu kongkow-kongkow dengan teman-teman, terkurasnya tenaga karena mengejar impian, hilangnya waktu bermalas-malasan, hingga hilangnya uang karena untuk makanan ilmu.

Mustahil kita bisa mendapatkan impian dengan bermalas-malasan, asik kongkow tidak jelas, sampai membuang waktu dan kesempatan berlalu tanpa arti. Hidup hanya sekali. Sayang kalau tidak sukses. Jika kelak kita tiada, tidak satu pun karya atau prestasi yang bisa diukir, apa yang akan dipertanggungjawabkan kelak dihadapanNYA?

Jika saat ini kita masih asik dengan kemalasan. Sibuk dengan yang melalaikan. Apa bedanya kita dengan hari kemarin? Karena sungguh celaka orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin dan sangat merugi orang yang hari ini sama dengan kemarin. Sedangkan orang beruntung adalah mereka yang hari ini jauh lebih baik dari hari sebelumnya. Hidup butuh proses bukan protes. Ukir prestasi jangan sampai frustasi. Jadilah manusia bermanfaat, bukan yang penuh laknat.

0 komentar: