Header Ads

ad

Kita Tidak Pintar. Hanya Tahu Lebih Dulu Dibanding Mereka



"Silahkan perkenalkan diri Anda!"
"Bisa sebutkan apa kelebihan dan kekurangan diri Anda?"
"Apa yang Anda ketahui tentang perusahaan ini?"
"Berapa gaji yang Anda harapkan?"
"Sebutkan 3 alasan mengapa kami harus merekrut Anda?" 

Pertanyaan-pertanyaan diatas sering kita dengar dari para interviewer pada saat interview kerja. Setidaknya pertanyaan-pertanyaan tadi sering didapat saat baru lulus kuliah dan mencoba untuk melamar kerja ke berbagai perusahaan. Anda bahkan saya mungkin pernah dibuat bingung dan gugup oleh para interviewer yang seringkali terkesan killer. Setidaknya itu yang saya rasakan saat pertama kali  interview kerja.

Sebagai pemula, jawaban-jawaban yang diberikan dari pertanyaan tadi kadang terkesan polos, naif, bahkan blank tidak tahu harus jawab dan bicara apa. Ekspresi wajah yang mulai pucat pasi, irama tubuh yang tak menentu, detak jantung yang tak beraturan, hingga sorot mata yang layu karena salah bersikap. Hal ini pernah saya alami. Berbagai tips dan trik interview sudah dibaca, jawaban-jawaban dari pertanyaan interviewer sudah dipersiapkan, dan gestur saat akan interview pun sudah dilatih sedemikian rupa. Walau kadang persiapan tadi seringkali menciut saat berhadapan dengan para interviewer. Merasakan duduk dihadapan 4-6 orang untuk mempresentasikan potensi diri tidak mudah jika belum berpengalaman. Kata demi kata yang terucap selalu ditata. Cara bersikap pun tak lupa dijaga. Agar terkesan formal dan profesional.

Suka dan duka pernah dihadapi. Saat interviewer welcome dan kita mulai disukai mereka, disanalah sukanya. Karena penting bagi kita untuk disukai lebih dulu. Mereka yang disukai lebih awal, akan mudah diterima. Sebab orang lebih mudah  menerima orang yang disukai terlebih dahulu. Urusan knowledge nomor dua. Selanjutnya, saat persentasi kita membuat interviewer bosan, kadang memandang sebelah mata, bahkan mengabaikan, disanalah dukanya. Benang merahnya adalah apa yang kita pikirkan akan menjadi kenyataan. Jika kita berpikiran bakal berhadapan dengan interviewer killer, maka nyatanya kita bakal dihadapkan dengan apa yang dipikirkan. Pun sebaliknya. Langkah awal, ubahlah pola pikir. Karena positive thinking make positve feeling.

Kejadian yang pernah saya alami beberapa tahun lalu, kini terulang. Sekarang keadaannya berbalik. Jika dulu yang duduk berhadapan dengan interviewer untuk mempersentasikan potensi diri itu saya. Sekarang duduk di kursi para interviewer. Dulu mempersentasikan diri dan menjawab pertanyaan. Sekarang menaggapi dan memberi pertanyaan pada calon pelamar. Dulu masih harap-harap cemas menunggu hasil interview lolos atau tidaknya. Sekarang jadi yang memutuskan. Dulu masih duduk di kursi berhadapan para interviewer. Sekarang duduk sejajar dengan mereka-mereka yang memutuskan.

Itulah siklus hidup. Seperti roda yang berputar. Ada kalanya kita di bawah, ada kalanya di atas. Kemarin kita melayani, besok dilayani. Tahun lalu melamar, sekarang menentukan pelamar. BTW, selalu ada moment lucu saat berhadapan dengan para pelamar. Terlebih para fresh graduate. Saat berhadapan dengan mereka, serasa bercermin di masa lalu. Ada tawa-tawa geli menggelitik. Kadang ada tanya "apa mungkin dulu saya begini ya?". Dan kalau tidak hati-hati bisa terselip sombong seperti bertanya "Hmmm gitu aja kok gak bisa ya. Lulusan mana emangnya?". Kurang lebih seperti itu. Saya tidak bisa tertawa menertawkan ketidaktahuan mereka. Karena saya pun pernah diposisi mereka. Meskipun ada saja tingkah yang memicu untuk tertawa yang harus ditahan.

Saat kita tidak tahu dan tidak bisa, kita pasti pernah berpikir bagaimana caranya untuk bisa. Dan setelah bisa, pasti tak menyangka bisa dengan mudah dilakukannya. Kebodohan dan ketidaktahuan orang lain bukanlah ruang untuk kita tertawakan. Tapi jadikan untuk bersyukur, karena kita sudah tahu lebih dulu dibanding mereka. Jangan pernah  menertawakan kebodohan orang jika kita tidak ingin terlihat bodoh. Karena orang yang pintar adalah mereka yang suka masuk angin. #Opppsss. Mereka yang pintar tidak perlu menjelaskan kesemua orang kalau dirinya pintar. Sebab orang lainlah yang akan mengakui, bukan diri sendiri. 

So jangan bangga disebut pintar. Karena sebenarnya kita tidaklah pintar. Hanya tahu lebih dulu dibanding mereka yang belum tahu dari kita. 









No comments