Semakin banyak pilihan semakin bingung memilihnya. #ParadoxChoices Hidup di era digital memaksa kita untuk bisa cepat beradapta...

Jika Kau Tak Temukanku di Path. Temui Aku di Dunia Nyata




Semakin banyak pilihan semakin bingung memilihnya. #ParadoxChoices

Hidup di era digital memaksa kita untuk bisa cepat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Dengan segala kemudahan yang didapat, didukung teknologi yang semakin maju dan mendekatkan diri pada manusia. Kadang membuat kita selaku pengguna menjadi cenderung memudahkan dalam berbagai hal, tak menutup kemungkinan menjadikan kita malas. Diluar itu banyak manfaat yang bisa didapat dari teknologi tadi. Hanya kadang kita baru bisa sekedar memakai. Bahkan belum memahami fungsinya. Kadang. Meski kebanyakan di kita baru sampai level pengguna (user), belum penghasil.

Hal yang sering dilakukan kita saat tangan tengah menggenggam smartphone adalah mengakses kanal sosial media. BBM, Line, WA, Instagram, Path, dan lain sebagainya mampu diakses secara bersamaan. Bahkan hampir setiap social media kita punya akun-nya. Meski kadang isinya hanya Ha-ha Hi-hi, upload foto makanan, check in sana-sini, hingga mengunggah setiap detik aktivitas kita. Dan kadang lucunya dari banyaknya sosial media yang kita punya, temannya masih tetap yang sama. Yang itu-itu saja, kebanyakan 4L (Loe Lagi Loe Lagi).

Ketergantungan hingga kecanduan pada smartphone seakan tak bisa dihindari. Meski dampaknya bisa mengurangi daya fokus, menyulut KEPO, bahkan memancing rasa penasaran berujung ghibah. Seakan mata kita gatal jika tidak mengecek layar smartphone. Padahal saat kita cek tak ada satu pun notifikasi yang muncul. Bangun tidur jika dulu kita langsung melihat alarm. Sekarang lihat notifikasi di smartphone.

Dengan berbagai pertimbangan yang telah dipikirkan dengan matang, melepaskan rasa berat untuk meninggalkan, hari kemarin 26 Juli 2016 saya memutuskan menutup akun Path secara permanen. Banyak alasan yang menyebabkan banyak tanya dari beberapa teman. Pertanyaan paling banyak didapat adalah "kenapa?". Beberapa teman menyayangkan keputusan yang diambil. Mereka berdalih dengan saya aktif di Path tadi bisa mem-posting setiap ide atau tulisan yang biasa dibuat. Memang benar apa yang dikatakan mereka. Tapi ada tidak adanya saya disana, setiap ide atau tulisan saya tetap masih bisa dipublikasikan di kanal social media lain.

Dari sekian banyak alasan, sejujurnya ada 5 alasan yang mendasari keputusan itu.
1. Saya ingin lebih FOKUS pada impian yang sedang dikejar. Sebab jika kita menginginkan sesuatu, kita harus menukarkan sesuatu. Dan jika kita mendapatkan sesuatu, kita pasti kehilangan yang lain.

2. Ingin MENIKMATI HIDUP tanpa kecanduan smartphone. Semakin banyak sosial media yang dipunya, kita semakin ketergantungan padanya.

3. Beberapa sosial media yang saya miliki, hampir semua temannya sama. Meski ada yang aktif di sosmed satu, disatunya lagi tidak aktif. Sepanjang kita punya nomor kontaknya, komunikasi akan tetap berjalan bukan? *kalau ada perlu

4. Isi path kebanyakan check in, foto sana sini, haha hihi. Kurangnya informasi dan pengetahuan yang didapat. #IMHO. Sah saja bagi orang lain men-share moment, foto, keberadaan, dan lain sebagainya. Sekali lagi, ini hanya perspektif saya. Setiap orang punya impian dengan sejuta alasan untuk me wujudkannya.

5. Path sering error.

Setidaknya 5 hal tadi bisa menjawab pertanyaan "kenapa" yang kemarin sempat jadi perbincangan dan penasaran.

0 komentar: