Header Ads

ad

Berpikir Positif Saat Semuanya Terasa Sempit



Positive Thinking make Positive Feeling.

Saya sangat setuju dengan quote di atas.
Sesulit apapun permasalahan yang sedang dihadapi. Serumit apapun persoalan hidup. Dan sesempit apapun pikiran yang dipikir. Semuanya harus disikapi dengan positif. Tanpa keluh, kesah, dan resah. Agar semuanya bisa dirasakan lebih tenang dari sebelumnya. Lebih tentram dari biasanya.

Beberapa orang berpikiran tidak mudah untuk melakukan hal tadi "berpikir positif". Saya tidak menyebutnya sulit, karena memang butuh diupayakan untuk bisa melakukannya. Pun tidak menyebutnya mudah, karena harus terus menerus konsisten dilakukan. Sampai saat ini saya masih belajar. Belum dikatakan lulus, karena ujiannya sepanjang hidup.

Selalu ada saja godaan, riak-riak kecil yang  membuat rasa ini kesal dengan ketidaksesuaian yang kita harapkan. Kadang jauh dari ekspektasi dan kenyataan. Seperti yang pernah bahkan sering saya temui dan alami. 

Belok kanan jalan terus
Bagi para pengguna jalan raya, siapapun tahu kalau belok kiri boleh langsung. Bagaimana dengan belok kanan? Entah darimana para pelakunya dapat rambu belok kanan boleh langsung. Selain membahayakan, hal ini bisa dibilang kebodohan. Karena bagaimana mungkin mereka dapat surat izin mengemudi, bisa mengemudi, tapi tidak paham dengan rambu-rambu. Bukankah pas bikin surat izin mengemudi tadi ada ujiannya?

Kadang saya kesal. Ingin rasanya mengeluarkan jurus jab dan hook. Tapi apa daya, pikiran positif muncul dan berteriak menasehati diri untuk berpikiran positif: "mungkin saja mereka bikin SIM-nya nembak", atau "mungkin mereka belum tahu rambu-rambu lalu lintas".  Jangan sampai kita seperti mereka, atau keluarga kita masuk kategori seperti mereka.

Ugal-ugalan, potong jalan seenaknya
Kadang saat kita sedang asik-asiknya menikmati jalanan, ada saja yang berulah. Entah karena iseng, buru-buru, atau pengaruh negatif lain. Kita sudah di jalur kira, ada saja yang nyalip dan potong jalan seenaknya. Baik mobil ataupun motor. Kalau sudah begini ingin rasanya melakukan tendangan salto Tsubatsa untuk menendang kaca sipon mobil ugal-ugalan tadi. Atau ingin rasanya melakukan hal yang dilakukan Valentino Rossi pada Marquez di Grand Prix Sepang 25 Oktober tahun lalu pada pengendara motor ugal-ugalan. Tapi apa daya, hal tadi urung dilakukan.

Lagi-lagi pikiran positif muncul sambil berkata "mungkin mereka buru-buru karena kebelet BAB", "mungkin mereka sedang buru-buru mengejar orang yang kabur saat ditagih hutang", "mungkin saja mereka sedang ditunggu keluarganya untuk urusan tertenu", atau "mungkin saja itu cara mereka mendekatkan diri dengan Tuhan". Kalau sudah begitu saya lebih setuju alasan yang terakhir tadi. Apapun alasannya, memang tidak bisa seenaknya dijadikan rujukan dan dalil pembenaran. Sebab lebih baik membiasakan yang benar, daripada membenarkan yang biasa. Kadang muncul pertanyaan "butuh berapa orang yang benar dan paham aturan di negeri ini agar negeri ini bisa maju?" dan "sampai kapan seperti ini terus?".

Beberapa orang yang tidak paham aturan dan punya kebiasaan melanggar kadang membuat kita geram, dongkol dan kesal. Ingin rasanya mengeluarkan jurus wing chun dan kungfu yang dimiliki "kalau memang punya". Balik lagi apa daya saya tak punya kuasa tadi. Yang bisa diperbuat hanya berpikir positif. Seperti saat ada seorang bapak-bapak paruh baya mengendarai motor tanpa mengenakan alat keselamatan, tiba-tiba menancap gasnya dengan kencang di perempatan jalan yang padat lalu lintasnya. Kadang saya berpikir mungkin si bapak tadi tulang punggung keluarga yang sedang buru-buru mengantarkan makanan buat keluarganya. Atau  mungkin dia sudah mendapat rezeki dari nafkahnya dan ingin segera dibagikan padae keluarganya. Seketika jurus-jurus Iko Uwais yang ingin dipraktekkan pun urung dilakukan. Bayangkan kalau itu terjadi hanya karena kesalahpahaman dan tindakan yang dianggap bapak tadi sepele dan kecil karena melanggar tadi. Ending-nya bisa lain. 

Lain lagi dengan remaja pelajar yang badan dan usianya masih nanggung, merokok, sambil ugal-ugalan layaknya begal. Dipikiran saya "mau jadi apa mereka nanti?", "apakah orangtuanya tahu yang mereka lakukan?", dan "sampai kapan mereka seperti itu?". Lagi dan lagi, ingin rasanya melakukan hal yang biasa Chris John lakukan pada lawan-lawannya. Dan hal tadi pun batal terlaksana. Bukan karena tidak adanya ring. Tapi kembali lagi ke pikiran positif tadi. Mungkin saja mereka salah pergaulan. Atau itu adalah cara mereka mendekatkan diri dengan Tuhan. Kalau sudah begitu semoga cepat-cepat deh. #Eh

Memang hal yang dilakukan saya tadi tidak akan mengubah mereka-mereka. Tapi setidaknya bisa mengubah diri kita sendiri. Karena kita tidak bisa mengubah orang lain dengan cara kita. Boleh jadi apa yang kita sampaikan sudah benar hanya saja cara penyampaiannya belum bisa diterima mereka. Atau mereka salah menanggapi. Entah karena terlalu baper atau kurang memahami. Yang jelas, kita tidak bisa mengubah diri kita hanya karena orang lain seorang. Butuh kemauan dari dalam diri untuk bisa mengubah diri menjadi lebih baik. Sebab, sebuah pesawat bisa melaju hanya karena ditarik oleh kurang lebih 30 kerbau. Tapi yang membuatnya bisa terbang adalah mesin yang ada di dalamnya. Mesin itulah tekad dan kemauan yang kita miliki "motivasi". Sehebat dan semahal apapun motivator yang didatangkan, tanpa kemauan dan motivasi dari diri akan sulit untuk bisa melakukan perubahan.

Barangkali Anda juga pernah atau bahkan sedang mengalami hal sama.

No comments