Header Ads

ad

TIDAK PERNAH TERLALU DINI UNTUK BELAJAR



Mendapatkan pekerjaan dengan bayaran diatas expektasi kita adalah impian setiap orang. Karena pada dasarnya kita menginginkan kehidupan yang lebih baik. Baik dari segi ilmu maupun materi. Tapi terlalu muluk-muluk jika diawal kita terlalu mengharap bayaran tinggi namun tidak diimbangi dengan pengalan dan kompetensi diri. Lain hal jika sudah berpengalaman. Semakin berpengalaman semakin diperhitungkan.

Suatu hari ada salah seorang teman datang kepada saya meminta dipinjamkan uang. Alasannya karena sedang beradu kebutuhan. Saya tidak bisa memastikan pintanya benar-benar kebutuhan atau sekedar keinginan. Memang teman saya kurang beruntung dalam hal pekerjaan. Janjinya akan mengembalikan secepatnya minggu depan dari hari itu. Saya iyakan pintanya selama bisa membantu dan benar-benar dia membutuhkan. Ada hal yang saya ingat dari seorang guru soal berhutang. Pastikan saat ada orang berhutang, usahakan kita menagihnya tidak dihadapan orang lain. Ini untuk tetap menjaga harga dirinya. Memang ada beberapa orang yang janjinya tidak bisa dipegang saat berhutang. Seperti halnya janji kampanye yang sering melenceng.

Hal tadi mengingatkan saya pada memori 14 tahun lalu. Ketika itu sekolah mendapat libur semester. Beberapa teman disamping senang mendapat libur, juga mengeluhkan hal yang ditunggu-tunggu para siswa tadi. Ada dari mereka yang berdalih kalau libur, otomatis mereka tidak mendapat uang saku. Kalau pun dapat tidak sebesar hari sekolah. Karena sebagian besar dari teman-teman saya, mendapatkan uang sakunya setiap hari. Berbeda dengan saya yang sejak kelas 5 SD sudah diberi uang saku setiap bulannya. Jadi mau libur atau tidak, tidak menjadi masalah. Masuk masih dapat. Libur, lebih bersykur lagi. Dari uang bulanan tadi, sebagian disisihkan untuk sekedar membeli mainan atau barang yang diinginkan. Sebagian lagi masuk celengan. Memang tidak semua teman seberuntung saya. Dengan ini mengajarkan saya untuk mensyukuri hal yang sudah dimiliki. Di keluarga, saya termasuk yang hemat. Karena saya tidak begitu royal dalam membeli barang. Selama yang lama masih bisa berfungsi dan selama itu kebutuhan bukan keinginan, tidak ada salahnya dibeli.

Sepulang sekolah hari itu, saya hendak bergegas ke lapangan untuk bermain sepak bola. Ya, hal tersebut sudah menjadi rutinitas disore hari sepulang sekolah. Namun sebelum sempat menuju pintu keluar, langkah saya tertahan suara yang sudah tidak asing terdengar. Bapak saya memanggil. Dia menanyakan perihal uang yang saya tabung. Sampai disini saya tidak begitu merasa ada kejanggalan. Setelahnya dia menanyakan perihal uang RP 30rb. Dia meminjam uang sebesar tadi, untuk membayar iuran bulanan komplek. Uang Rp 30rb dizaman itu sama dengan uang saku saya untuk dua minggu. Bahkan saya pernah tidak sengaja menghilangkan uang ibu saya Rp 20rb. Karena tidak berhasil menemukannya, saya ganti dengan uang tabungan. Rp 20 ribu waktu itu tidak seperti sekarang yang terlihat kecil dan sedikit. Kembali ke bapak saya tadi. Saya sedikit terheran. Kenapa bapak saya meminjam uang pada saya. Bukannya dia juga punya uang dari gajinya atau tabungannya? Ah, sudahlah saya tak mau ketinggalan bermain bola. Saya iyakan pintanya. Karena toh dia berjanji akan mengembalikannya lusa. Memang diantara Bapak dan Ibu, Bapak yang sering meminjam uang saat itu. Saya tak mempermasalahkan selama saya punya. Toh, uang saku juga masih dari mereka-mereka.

Semakin kesini saya tersadar. Apa yang dilakukan Bapak saya tadi, bukan semata-mata dia tidak punya uang. Tapi sekedar menguji anak lelaki pertamanya dalam urusan mengelola keuangan. Secara tidak langsung dia mengajarkan pentingnya mengatur keuangan. Ada benarnya dan saya bersyukur bisa mendapat pelajaran tadi. Karena jika tidak dibiasakan belajar sejak dini, akan sulit dikemudian hari. Sampai detik sekarang saya bersyukur dengan apa yang dimiliki dan berterima kasih kepada Bapak saya yang sudah berpikir jauh kedepan, menyiapkan hal yang sudah selayaknya dipersiapkan semakin bertambahnya usia.

No comments