Header Ads

ad

Selalu Ada Jalan, Kalau Mau Jalan

SELALU ADA JALAN, KALAU MAU JALAN
Dibutuhkan ketegasan dalam menentukan sebuah pilihan. Walau kadang keraguan kerapkali menggoyahkan pilihan kita. Kehadiran rasa ragu bukan tanpa sebuah alasan. Seringkali ia datang diwaktu yang tidak siap. Bukan karena kita tidak bisa mengira kedatangannya yang tiba-tiba. Namun lebih sering kurangnya kesiapan kita dalam menyambut kedatangannya.
Hal ini pernah saya alami, kurang lebih satu dekade kebelakang. Persisnya saat saya memutuskan untuk mendaftar ke SMA favorit di kota saya. Dizamannya dulu hanya ada satu sekolah terfavorit. Bisa dibayangkan, satu melawan banyak. Satu sekolah favorit, melawan ratusan bahkan mungkin ribuan calon siswa yang turut mendaftar demi bisa menduduki bangku sekolah tadi. Disaat bersamaan, waktu itu saya dan teman saya yang hendak daftar bertanya pada diri masing-masing. “Kira-kira saya bakal bisa gak masuk sekolah favorit ini?” dimana saya bukan siswa dengan rangking satu, bukan siswa yang mendapat beasiswa berprestasi, bukan juga siswa yang bodoh-bodoh banget dengan rangkin degradasi. Namun pikiran tadi hilang seketika saat kami memutuskan mencoba terlebih dahulu.
Sempat terlintas dalam pikiran, para pendaftar yang terpilih pastinya siswa-siswi dari SMP terfavorit yang notabene-nya prestasi akademiknya sudah tidak diragukan lagi. Hal ini membuat saya bertanya “Kalau nanti lulus dan diterima di sekolah ini. Kira-kira saya bakal masuk rangking 10 besar gak ya? Atau jangan-jangan jadi juru kunci”. Kekhawatiran dan rasa ragu yang membayangi tadi perlahan hilang, setelah niatan tadi sesuai harapan. HIlang ditelan hari-hari yang terlewati saat saya sudah menjadi siswa SMA favorit tadi. Rasa khawatir dan ragu seringkali muncul karena kurangnya keyakinan dan informasi yang kita miliki.
Apa yang saya alami tadi bisa terjadi berkali-kali, termasuk pada kalian. Terlebih saat memasuki lingkungan baru. Seperti halnya saat memasuki kampus baru, lingkungan kerja baru, hingga promosi jabatan. Kurang lebih sembilan tahun lalu saat saya memutuskan untuk mengambil jurusan kuliah Teknik Informatika. Tidak lebih informasi yang diketahui soal jurusan tadi. Hanya bermodalkan ketertarikan pada mata pelajaran di SMA, saya memutuskan untuk pilihan yang saya rasa belum matang (untuk saat itu). Terlintas dalam pikiran “Apakah saya bakal kuat mengikuti kuliah jurusan TI?”, “Apakah saya bakal bisa menyelesaikan ujian skipsi?”, “Apakah saya bisa lulus di kampus itu?”, “Atau jangan-jangan saya lulus lebih dari 5 tahun atau bahkan keluar sebelum waktunya karena tidak kuat mengikuti perkuliahan”. Rasa ragu terus mengganggu, ditemani kekhawatiran. Saya menganggap wajar, karena secara teori jurusan TI harus kuat algoritma dan aljabar dkk (termasuk pelajaran hitungan seperti matematika, dsb, dsb). FYI itu pelajaran yang tidak pernah disukai.
Perlahan tapi pasti keraguan dan kekhawatiran tadi hilang, saat mendapat jawaban salah seorang teman. Saat saya menanyakan jurusan kuliah yang dia ambil (sastra inggris), padahal saya tahu dia tidak bagus-bagus amat dalam speaking, writing, dan listeningnya. “Kenapa lo pilih sastra inggris? Emang lo bisa bahasa inggris bro?”. “Kalau gue udah bisa bahasa inggris, gue gak bakal pilih jurusn itu. Gue pilih tuh jurusan biar gue bisa bro”. Jawaban yang sederhana tapi bermakna. Ya benar apa yang dikatakan salah seorang teman tadi. Kalau kita sudah tahu dan bisa melewati tantangan yang seringkali kita khawatirkan dan ragu, kita tidak akan mungkin mengambil tantangan tadi. Toh kita sudah tahu alur dan pernah melewatinya.
Pun saat menyelesaikan tugas skripsi. Saat tingkat dua menuju tingkat tiga kita harus mulai merancang dan mempersiapkan skripsi, tapi kita tidak tahu bagaimana cara pengerjaaannya. Kalau semisal kita sudah tahu dari sejak masuk kuliah mengenai bagaimana cara mengerjakan skripsi, tentunya kita tidak akan mengambil kuliah S1 bukan? Saat masuk dunia kerja atau promosi jabatan pun sama. Keraguan dan kekhawatiran pasti selalu menghantui. “Kira-kira bisa tidak ya saya masuk perusahaan bonafit?”, “Kira-kira kalau nanti saya di promosikan jabatan, bakalan bisa mengerjakan dan menjalankan amanah tadi gak ya?”, dan seterusnya dan seterusnya. Balik lagi ke jawaban sederhana dan bermakna. Misal saat ini kita hanya seorang staff biasa, tiba-tiba di-promosi-kan untuk menjadi manajer misalnya. Rasa ragu, khawatir, campur bangga dan senang menjadi satu. Ragu dan khawatir karena kita belum yakin bisa mengemban amanah tersebut. Padahal kalau kita sudah bisa mengerjakan pekerjaan seorang manajer, tentunya kita tidak akan menjadi staff untuk saat ini.
Hanya keyakinan yang bisa mengalahkan keraguan dan kekhawatiran. Keyakinan karena kita telah mempersiapkan. Keyakinan karena selalu ada jalan bagi yang mau jalan. Bisa atau tidak, sama benarnya. Karena sama benarnya lebih baik berpikir bisa. Untuk urusan hasil biarkan yang Maha Mengetahui mengurusinya. Tugas kita hanya mencoba, berusaha, berikhtiar sebaik dan seoptimal mungkin demi mendapat ke-ridho-anNYA.
So, be your best self

No comments