Header Ads

ad

Mending Capek Kerja Daripada Capek Cari Kerja

“Assalamua’laikum” tetiba pintu terbuka. Jam sudah menunjukkan waktu magrib yang tinggal berakhir beberapa menit lagi.
“ Wa ‘alaikumussalam” jawab aku yang sedang asik menikmati tulisan.
“Duh, lelah bro. Kerja gini-gini aja. Mending kita wirausaha” timpal jawaban salah seorang teman yang sudah tiga tahun bekerja namun tak kunjung mendapat promosi jabatan.
“Pergi pagi pulang malam. Tiga tahun mengabdi. Lemburan jarang gue tolak. Cuti pun gue jarang. Tapi kok rasanya karir gue mandet alias stagnan garis miring gini-gini aja” celotehnya seraya menampakkan wajahnya yang lelah penuh dengan kerutan. Mungkin dia lupa memakai krim penghilang kerut di wajah. Hehehe.
Bukan hal baru dia pulang di jam, dimana orang-orang normal sudah berhenti beraktivitas. Hari itu hujan mengguyur kota kami, seakan ikut bersdih menanggapi keluhan teman saya tadi. 
“Asisten manajer di kantor gue kan pindah, ditarik ke pusat. Jadi posisinya kosong. Dan kabarnya gue yang di-sound-ing jadi pengganti sementara (care taker). Alasannya karena gue dirasa cukup senior, ditambah kerjaan dia sudah ada beberapa yang bisa gue kerjakan”.
“Gue sih berharap gitu. Bukan berharap cepet-cepet dia pergi. Tapi yang dipromosi-in jadi penggantinya nanti gue. Secara yang sudah gue jelasin tadi. Tapi kalau gue nanti fix gantiin posisinya, kerjaan gue jadi nambah meskipun gaji juga nambah. Otomatis tanggungjawabnya gak seperti saat gue masih jadi staff biasa alias karyawan kasta sudra. Dan kalaupun bukan gue yang gantiin, positifnya kerjaan gue jadi gak nambah. Beban kerja pun masih sama seperti sekarang”. 
Sambil berbaring di ruang TV dengan seragam kerja yang masih menempel, dia pun masih meneruskan ceritanya:
“Ternyata gak semua cerita dan berita di kantor itu bener. Kadang isu-isu cepat menyebar bak virus, tanpa kita tahu sumber dan keabsahannya. Seperti halnya berita yang mengabarkan gue yang bakalan jadi asisten manajer tadi. Awalnya gue yakin tuh sumber berita valid, secara yang ngasih tau ke gue tuh si mbak Nana, temen deket di kantor sekaligus senior gue. Tapi faktanya, salah bro! Dan lo tau siapa yang dipromosi-in? DAMN! Ternyata si Viky”. 
“Bukannya gue kecewa gak dapat tuh posisi. Tapi lo bayangin aja, si Viky junior gue. Dia dan gue yang masuk duluan dan lama dikerjaan lah gue. Kalau yang kepilihnya minimal yang seangkatan gue sih ok. Ini junior gue men!” jawabnya sambil melahap gorengan yang aku beli di depan komplek seberang, dan masih menampakkan raut kecewanya.
“Bener kata lo sekarang mending jadi underdog. Underdog tak diunggulkan, kalah sudah biasa menang luar biasa. Underdog sering tak punya beban. Persis kayak tim-tim kecil yang mengalahkan tim raksasa. Mereka bisa mengalahkan tim raksasa karena mereka (underdog) tak begitu memiliki beban tinggi dan target muluk-muluk. Bermain nothing to lose. Kalah sudah biasa, menang baru luar biasa”.
“Dan bagi gue, dengan gak diangkatnya gue jadi Asisten Manajer, tanggungjawab gue jadi gak bertambah. Kerjaan masih normal. Dan pastinya bagi gue pribadi emang enak jadi karyawan biasa bro. Lebih pasti dan tetap. Pasti karena sudah pasti jobdesc-nya dan tetap karena target yang diberikan tidak seberat para manajer dan atasan lainnya. Mereka (para top management) kalau target meleset bisa-bisa ditendang. Sementara kita, masih aman karena mengikuti instruksi atasan”. 
“Menurut lo gimana bro?”. Sambil menuju kamar mandi.
Bersambung..........

No comments