"Bro sudah nyoba ke cafe XXX belum?" tanya salah seorang sahabat berambut klimis yang enggan disebutkan namanya. &quo...

Mr & Mrs. Perfect




"Bro sudah nyoba ke cafe XXX belum?" tanya salah seorang sahabat berambut klimis yang enggan disebutkan namanya.

"Belum bro. Emang dimana?" jawab teman si klimis.

"Di deket K-Mall itu. Kata orang aih Recommended tempaynya".

Setibanya disana. "Boljug bro tempatnya. Menunya OK dan uptodate, tempat lumayan cozy dan harga gak nyekik dompet". Dari mulai desain interior dan penampilan para pramusaji dari ujung kaki ke ujung kepala dia komentari. Tak cukup sampai disana, setiap tempat yang kami singgahi tak luput dari penilaian dia, yang kini sudah merasa seakan jadi juri Bintang Pantura. ‪#‎Halah‬. Yang terakhir lupakan.

Hari kemudian, dia datang lagi dengan membawa segenggam informasi rekomendasi tempat hangout. "Bro gimana kalau hari ini kita ngumpul di BRO cafe?". Seakan kena gendam, kita pun mengiyakan ajakannya tanpa penolakan dengan berharap dia yang nanggung semua akomodasi.

"Menurut lo pelayanan dan suasan disini gimana?"
"Hmm. Lumayan bro dibanding yang kemarin".
"Bagi gue sih tempat lebih nyaman yang kemarin, cuma pelayanan lebih asik disini. Di yang kemarin setelan pelayannya terlalu formal dan gaya sapaannya gak kayak disini. So, tempat ini menang lebih dari yang kemarin menurut gue" jawab kimis dengan penjelasan yang khidmat.

"Hmm. Bagi gue justru itu bagus. Tiap tempat pasti punya perbedaannya, baik dari display, pelayanan, sikap layanan mereka, menu ataupun desain intetiornya. Tapi disanalah yang menjadi diferensiasi dari masing-masingnya. Kita gak bisa mengklaim tempat A lebih baik atau service di tempat kita paling baik. Itu namanya ngaku-ngaku. Sebab kualitas itu harus diakui, bukan ngaku-ngaku".

"Sah saja menganggap tempat A lebih bagus dari tempat B dan yang lainnya kita anggap jelek, dan kita mengagungkan tempat A lah yang terbaik dan layak dijadikan role model. Dalam menilai suatu hal tidak bisa kita sama ratakan. Masing-masing punya diferensiasi yang bisa jadi entitas dan selling pointnya. Bayangkan kalau semuanya harus sama, bukan hanya perang harga yang akan terjadi tapi tingkat kejenuhan kita selalu pengunjung pun bakal sering terjadi".

Kita pasti pernah atau bahkan sering mengomentari hal dari yang kecil hingga detail suatu hal. Seakan kita merasa enak diposisi komentator yang selalu siap sedia mengomentari bahkan menjadi juri dari setiap hal yang kita anggap layak untuk dikomentari. Sadar atau tidak. Kita pernah menjadi Mr atau Mrs Perfect. Tokoh yang ingin terlihat sempurna, detail, tidak ingin adanya cela dan selalu asik serta sibuk mengomentari orang dibanding mengkoreksi diri.

Seperti kisah diatas tadi. Si klimis yang selalu menganggap tempat A paling baik servicenya. Dimana para pelayannya memberikan suasana santai tidak formal seperti kantoran. Berbeda dengan tempat B yang kebalikannya. Bagi saya hal ini hanya perbedaan cara pandang saja. Toh mereka kan lagi usaha. Dan dalam dunia persaingan, diferensiasi menjadi nilai yang teramat penting yang bisa menjadi karakter dan identitas sebuah produk ataupun diri.

Silahkan saja kita menganggap A baik. B lebih baik. Dan C perfect. Tapi jangan pernah lupakan, dari semuanya mempunyai perbedaan yang kadang tidak bisa diterina satu dengan yang lainnya. Justru disanalah perbedaan itu hadir sebagai pelengkap satu sama lain. Seperti senar gitar, yang saling berbeda namun memberikan kesempurnaan dari perbedaan peran yang dimilikinya.

So, tidak perlu kita menganggap diri kita paling baik dari orang lain dan menganggap orang lain lebih buruk dari kita. Hidup tidak sesempit pemikiran itu kawan. Masing-masing dari kita punya karakter yang bisa menjadi identitas kita. Bisa jadi dari perbedaan itu yang akan menjadi karakter kita. Sebab jika kita hanya jadi yang biasa, sekalipun kita punya kompetensi, jika tidak punya karakter kita tidak akan pernah dikenal. Itulah yang membedakan orang popular dengan tidak. Popular itu DIKENAL bukan TERKENAL. Jadi sejauh mana Anda di kenal banyak orang. Itulah popularitas Anda.
Masih mau jadi Mr & Mrs Perfect?

0 komentar: