Bagi pecinta Moto GP, serie di Sepang minggu lalu pastinya jadi balapan paling seru dan dramatis. Bahkan yang bukan pecinta Moto GP...

BABY ALIEN VS THE DOCTOR




Bagi pecinta Moto GP, serie di Sepang minggu lalu pastinya jadi balapan paling seru dan dramatis. Bahkan yang bukan pecinta Moto GP pun jadi ikut-ikutan suka dan ikutan berargumen atas insiden yang terjadi minggu lalu.

Terlepas berbagai argumen yang sentimentil sekalipun, tetap jaga sportivitas dan positive attitude. Disisi lain toh para komentator punya versi argumennya tersendiri, para fans dari masing-masing rider pun sama. Terlebih bagi para rider. 

Daripada sibuk berargumen mencari versi kebenaran yang semakin membuat kita penasaran dengan insiden yang terjadi. Setidaknya ada hal yang bisa kita petik untuk dijadikan sedikit pelajaran. Karena bagaimanapun juga selalu ada hikmah dibalik peristiwa.

"Rossi vs Marquez mengajarkan kita, dalam sebuah kompetisi jika kita TIDAK BISA mengalahkan lawan secara TEKNIS. Kalahkanlah lewat NON TEKNIS".

Kompetisi dibuat dengan satu tujuan, yaitu KEMENANGAN. Ada rasa kebanggan tersendiri saat mendapat kemenangan, terlebih jika kompetisinya punya persaingan ketat. 

Setiap pemenang atau sesempurna apapun orang pasti punya celah kelemahan. Bagi para pelaku kompetisi, celah itulah yang bisa digunakan untuk bisa menguasai kompetitor. 

Marquez yang  mengidolakan Rossi sejak lama, mengakui skill dan pengalaman Rossi akan sulit dikalahkan. Tapi bukan Marquez namanya jika tidak ngeyel. Saking ngefansnya sama Rossi, Ia tidal hanya punya foto bersama sang idola dan diecast motor Rossi. Marquez bahkan tahu betul disetiap tikungan mana Rossi bisa menyalip. Seolah dia sudah mempelajari trik menikung Rossi dan mengamati dengan cermat gaya balapan dan kelebihan the doctor tadi.

Bagi yang bilang gaya balapan Marquez membahayakan dan terlalu agresif, toh Rossi disaat muda pun tak jauh beda dengannya. Bagi yang berargumen adanya konspirasi Marquez dan Lorenzo untuk menjegal gelar Rossi, masuk diakal juga sih. Tapi, kurang bukti kuat untuk mengungkapnya. Dan bagi yang berdalih insiden di Sepang disinyalir adanya aroma dendam Marquez pada the doctor di serie balapan sebelumnya, bisa juga terjadi. Tapi mungkinkah? Mungkin saja. Karena rasa bisa berubah kapan saja tanpa diduga. Yang dulu saling akrab, saling sayang dan saling kagum bisa berbalik menjadi benci dan dendam. Kecintaan berlebih atau fanatisme pada suatu hal-lah yang menjadi pencetusnya. "Too much love will kill you".

Kalau benar ada konspirasi dan aroma persengkongkolan antara Jorge dan Marquez, Siapapun pembuat idenya hal ini sangat cerdas dan brilian. Secara data statistik Marquez sulit mengungguli Rossi di tahun ini. Dan kalau toh benar Marquez berniat mengubur gelar Rossi, hal ini bagi saya bisa disebut strategi harakiri Marquez. Kalau itu bisa terjadi, kenapa harus dilakukan pada the doctor? Bukan pada rider lain? Sepertinya ini yang masih jadi misterinya. Mungkin Marquez tahun ini gagal mengungguli idolanya dan kans untuk menjadi juara dunia bagi dia sudah tertutup. So, ibaratnya kalau dalam sepak bola jika suatu tim sudah kalah tekan dari tim lawan misal kalah 10 - 0, sementara waktu sudah mendekati injury time, toh lebih baik semua pemain menyerang dengan gaya ultra offensive. Karena mau kalah 10 - 0 atau 10 - 1 sekalipun tetaplah kalah, tidak akan mengubah kedudukan. Kecuali jika pelatih dan pemain mau menerapkan strategi NON TEKNIS, seperti dengan sengaja membuat kartu merah untuk 4 pemain atau dengan sengaja menghentikan pertandingan dan mangkir agar timnya dinyatakan kalah secara WO. Toh kalau WO dianggapnya kalah 3 - 0 dibanding harus menanggung malu karena dibantai 10-0 atau lebih. Dengan cara ini ibarat harakiri. Secara statistik data, dalam sejarah kekalahan kita tidak akan mencatat kalah telak dibantai. Namun seumur hidup kita bakal dicap tidak sportivitas. Karena apa gunanya jadi seorang atlet sekaligus professional jiga tidak bisa menjaga sportivitas & profesionalitas.

Salam olahraga

0 komentar: