Header Ads

ad

Jangan Biarkan Pikiran Kita Jadi Truk Sampah!



Mike Tyson = Menggigit telinga lawannya
Zinedine Zidane = Menyundul lawannya
Valentino Rossi = Menendang lawan

Ketiga orang atau tokoh tadi dikenal legenda hidup. Ya. Sehebat apapun di medan pertarungan, mereka manusia biasa yang masih punya hawa nafsu. Toh peribahasa sering mengatakan "sepandai-pandainya bangau terbang akhirnya jadi kecap juga", "sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga", dan "semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berhembus".

Lalu apakah haram hukumnya jika mereka, termasuk kita meluapkan kemarahannya? Kalau kata iklan daripada marah-marah mending ramah-ramah. 

Insiden moto GP yang terjadi di Sepang 25/10/15 telah menjadi trending topik pemberitaan diberbagai kanal media. Dimana Rossi yang saat itu saling rebut posisi dengan Marquez yang nyaris duel wheel to wheel, tiba-tiba saja menendang Marquez, hingga Ia terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Untungnya dia tidak sampai tenggelam dalam lautan luka dalam. Ya, dalam rekaman ulang, dari sudut penglihatan tampak kaki Rossi seperti menendang Marquez. Dari sinilah berbagai tanggapan mulai menyeruak. Dari fans Rossi hinnga Marquez, bahkan dari pecinta Moto GP sejati hingga abal-abal, turut mengemukakan pendapatnya sesuai versinya sendiri. 

Yang fanatik Rossi tentu membela idolanya, begitu pula sebaliknya. Ada yang saling nyinyir, hujat, bahkan yang tensinya naik layaknya wanita yang sedang PMS. Memang orang yang fanatik dan kecintaannya dibutakan nafsu akan menjadi lebih sensitif, meskipun di luar dari itu mereka adalah pribadi yang cool dan tangguh.

Kembali ke judul. Pernah gak, kalian pas jalan di jalan raya melihat truk sampah yang penuh sesak dengan sampah, hingga truk tadi tidak mampu lagi menampung isi sampah tadi? Yang jelas baunya pasti tidak mengenakkan, khususnya bagi pengendara motor yang ada di belakangnya. Dan saking penuhnya sampah di truk tadi, sampai-sampai sampahnya mulai berjatuhan di jalanan menodai jalanan bahkan kena kendaraan kita. Ought!

Lalu apa korelasinya judul tulisan ini, insiden para legenda hidup dengan truk sampah? OK. Lanjut? Kalian luar biasa. Ok cukup, yang terakhir tidak terlalu penting. Kalian pasti setuju kan jika jalanan di negeri kita bisa membuat kita lebih cepat tua? Bagaimana tidak, kita sering dibuat emosi oleh pengendara jalan yang sering ugal-ugalan, rambu-rambu yang kurang dimengerti, hingga konvoi yang sering meresahkan. Contoh lain yang sering bikin emosi di jalan:

1. Lampu hijau yang hitungannya sangat lebih sebentar dibanding lampu merah.
2. Pengendara lain yang pasang lampu sein kiri tapi belok ke kanan. Utamanya emak-emak nih.
3. Pengendara yang gak sabaran, membunyikan klakson berkali-kali disaat macet. Padahal faktanya membunyikan klakson berkali-kali saat macet gak ada poinnya.

Itulah kenapa obat awet muda laris dijual disini. Saat kita tersulut oleh perilaku pengendara ugal-ugalan tadi, beragam reaksi kita keluarkan. Mulai dari makian, umpatan, membunyikan klakson sambil memukul stir, menyumpahi mereka, hingga tak lupa beristigfar. Yang terakhir kayaknya jarang ya. Semoga kalian sering. Nah dari kesemuanya tadi, memaki, menyumpahi, mengumpat, dan meluapkan amarah. Apakah ada poinnya? Yang pasti jika kita melakukan hal tadi, sama halnya kita dengan truk sampah yang sampahnya sudah penuh dan meluber hingga berjatuhan dan berceceran saking penuhnya. Hasilnya sampah tadi jadi menodai jalanan, membuat pengendara lain tidak nyaman, hingga membuat polusi.

FYI, saat kita meluapkan kemarahan tadi, bisa jadi sudah terlalu banyak amarah-amarah yang kita angkut layak nya sampah di truk sampah tadi. Sampai-sampai saking tidak termuat, jadi berceceran dan berjatuhan meletup-letup seperti popcorn.

Mungkin itulah yang sempat dialami kita, tidak terkecuali para legenda hidup tadi. Jika kata orang sabar ada batasnya, maka yang membatasinya adalah kemarahan yang terpendam. Satu-satunya cara menyelesaikan masalah disaat kemarahan menyelimuti adalah belajar dari air lumpur. Ada yang tahu bagaimana cara membuat air lumpur menjadi jernih? Tentunya air lumpur tadi dibiarkan beberapa saat dulu hingga lumpurnya mengendap. Setelah itu perlahan air akan menjadi jernih.

So, hati kita ibarat fenomena gunung es. Susah diukur secara pasti lewat kasat mata. Karena pepatah telah berkata "Dalamnya lautan bisa diukur. Tapi dalamnya hati tidak ada yang tahu".

BTW. Siapa sih si pepatah? Sepertinya bijak banget dia sampai-sampai semua orang tahu dan kenal si pepatah yang sering berkata ini. Ok bagian akhir barusan gak perlu dibaca. Keep your mind. Keep your heart. And no offense jika salah satu kalian penggemar dari tokoh-tokoh dalam ilustrasi ini.

1 comment:

  1. Nice post gan... Responsif pada peristiwa terkini. Karena memang seperti itulah idealnya agar tak dicap sebagai kuper... Sepakat dngn poin diatas tentang menyalakan klakson saat macet. Itulah "kekonyolan" yang dilakukan sebagian dari manusia-manusia NKRI. Keren blognya gan... Jika berkenan mampir ke tempat saya berbagi tulisan di http://www.kiatkiat.com , Sukses selalu blognya

    ReplyDelete