“Bro gimana caranya sih biar bisa nulis?” begitu salah seorang sahabat bertanya. “Ya lo tingal nulis aja. Apapun itu. Isinya mau ...

SAHABAT BERNAMA KEBIASAAN




“Bro gimana caranya sih biar bisa nulis?” begitu salah seorang sahabat bertanya.
“Ya lo tingal nulis aja. Apapun itu. Isinya mau curhatan, aktivitas sehari-hari, tentang khutbah jum’at atau isi ceramah kuliah subuh”.
“Siapa tahu nanti jadi penulis best seller buku KUMPULAN KHUTBAH JUM’AT? Belum ada kan?” jawab saya disertai tawa.
“Gue ingin blog gue update kayak lo. Tapi bingung isinya tentang apa ya”. Timpal sahabat saya yang semakin bingung.
“Kayaknya gue gak bisa jadi penulis deh. Gak ada bakat. Lo cocok jadi penulis bro, siapa tahu bisa seperti Raditya Dika. Ntar kalau lo jadi penulis terkenal, tulisin kisah hidup gue ya, urusan royalti kita bagi dua” timpalnya dengan enteng.

Mengingat apa yang dikatakan sahabat saya tadi, saya jadi bertanya-tanya “benar juga kata dia, BTW sejak kapan saya bisa nulis ya?”.  Mengingat dulu saya tidak suka membaca apalagi menulis. Persisnya saya lupa kapan bisa menulis, mungkin saat belum masuk SD. Hehe. Sebelumnya jika flash back kebelakang, saya mulai menulis tulisan saat kelas 6 SD sampai 2 SMP. Dan yang ditulis saat itu baru sebuah surat cinta. Jadi begini ceritanya, saya punya teman sepermainan sebut saja Yoga. Suatu waktu dia naksir teman wanitanya, dan entah dapat ilham darimana dia datang ke saya untuk dibuatkan surat cinta. Zaman dulu belum ada SMS apalagi BBM, surat-menyurat masih dianggap lazim. Karena tidak tega menolaknya, dengan ke-sotoy-an saya, saya iyakan permintaannya. Ingat, zaman saya SD belum ada google, jadi tidak mungkin sekali saya mencari darisana. Berbekal imajinasi dan ngasal, jadilah surat cinta pertama buatan saya. Padahal sebelumnya belum pernah sama sekali membuat surat begituan. Hehehe. Tak disangka malah keterusan dan keasyikan. Hampir setiap minggu dan setiap wanita yang ditaksirnya selalu diminta untuk dibuatkan surat cinta. Kalau sudah begini, disitu kadang saya merasa sedih. #eh. Konyolnya sahabat saya ini percaya dengan apa yang saya buat, padahal jelas-jelas ngasal dan bermodalkan ke-sotoy-an. Rutinitas ini terus berlanjut sampai kelas 2 SMP.   

Menginjak bangku kelas 2 SMP, disitu kadang sayamerasa sedih mulai ada minat untuk membaca. Tentunya bukan membaca buku pelajaran, tapi baca tabloid bola, bobo, bintang, majalah chord, buletin sekolah. Semuanya bukan dibeli, sebagian hasil pinjam ke teman sebagian lagi dibaca ditempat tukang koran. Ya, kebiasaan waktu itu setiap pulang sekolah pergi ke tukang koran langganan salah seorang teman hanya untuk sekedar membaca berita bola terbaru, menuliskan chord musik, dan membaca koran yang tidak layak untuk ukuran anak sekolahan. Dimasa putih-biru ini tidak ada orderan jasa pembuat surat cinta. Yang ada hanya menulis rangkuman pelajaran. Lanjut ke masa putih-abu pun orderan pembuatan surat cinta sudah tidak ada lagi pesanan. Digantikan dengan jasa penulisan makalah. Ini serius. Sejak SMP kelas 3 begitu jasa pembuatan surat cinta ditutup, beralihlah ke pembuatan makalah. Toh, sama-sama menulis. Bedanya sekarang ditulis dikomputer. Ada beberapa alasan mengapa saya sangat dengan senang hati jadi penulis makalah. Pertama, karena pada masa itu, baru saya saja yang punya komputer se-sekolahan. Kedua, saya tipikal murid yang malas belajar dan menghapal. Ketiga, saya jadi tahu caranya nyari duit. Ini serius. Disaat teman-teman yang lain pergi ke rental komputer mengerjakan makalah, sebagian teman justru memintakan dibuatkan makalahnya pada saya. Hasilnya, karena banyak permintaan saya minta bantuan pada sahabat saya. Tugas saya mengetik makalah, tugas dia cari proyekan. Moto kami waktu itu “Serahkan pada kami, dan kalian tahu beres” Hehe... Dan proyekan ini berlanjut sampai kelas 3 SMA. Tapi jujur, selama saya mengetik tugas makalah tersebut saya jadi hafal sistematika penulisan makalah, EYD, bahasa penulisan, dan yang lainnya. Selain itu saya tidak perlu repot-repot menghafal isi dari makalah tadi. Karena saya yang ngetik, otomatis tahu semua isinya. So, secara tidak langsung saya pun belajar walaupun tidak terlihat menghafal.  Untuk urusan uang jajan, jangan ditanya dari pengerjaan makalah bisa bersih Rp 10 ribu per makalah. Biaya modal jilid dan print 5 ribu, tarif 15 ribu kan lumayan dapet 10 ribu. FYI zaman saya SMA uang saku 5 ribu itu sudah cukup lumayan untuk membeli semangkuk mie ayam dan segelas es cendol. Dan proyek ini pun terhenti saat saya memasuki bangku kuliah.

Dimasa perkuliahan, membaca masih belum menjadi minat saya. Menulis pun sama, kecuali menulis blog yang itupun isinya tugas-tugas dan hasil copy paste dari blog lain. Selepas dinyatakan lulus dengan IPK cum laude  biasa saja, barulah kebiasaan membaca mulai mengakar diikuti menulis di blog saya motivaksi.blogspot.com. Tulisannya pun bisa dilihat sendiri, biasa-biasa saja, tidak populer, dan pengunjungnya pun bisa dihitung jari. Bedanya setelah menuliskan sebuah tulisan disana, muncul sebuah kepuasan tersendiri terlebih jika dishare ke media lain seperi kaskus atau facebook banyak yang nge-like atau sekedar menaggapi. Dan kebiasaan menulis pun sampai sekarang masih dipaksakan. Memang butuh kebiasaan untuk membiasakan hal yang tidak biasa kita lakukan untuk nantinya dianggap biasa dan terbiasa. Apa pun yang orang lakukan, termasuk orang-orang profesional sekalipun bukan terlatih karena bakat semata. Christiano Ronaldo dan Lionel Messi, bisa expert dibidangnya bukan karena mengandalkan bakat saja. Tapi juga karena latihan yang berulang. Kalau kata orang-orang  “Practice and Repetition Makes Perfect”.  Meskipun kita punya bakat menjadi pesepakbola dunia, jika tidak dilatih dan terus dilatih apa gunanya. Semahir apapun orang dalam bidangnya, kita pun memiliki peluang yang sama. Asalkan mau berlatih secara kontinyu dan menjadikan berlatih sebagai kebiasaan. Seorang penulis misalnya, bukan karena bakatnya jadi penulis sejak lahir. Tapi dia bisa seperti itu karena terus berlatih dan terbiasa menulis. Pun dengan profesi yang lain.

Nah, jadi jika kita ingin seperti role model kita, ikutilah kebiasaan mereka. Tirulah caranya belajar dan berlatih. Karena menurut ilmu psikologis sebuah kebiasaan yang dilakukan selama 3 bulan berturut-turut, maka kebiasaan tersebut akan sulit dihilangkan. So, pilihan ada ditangan kita. Daripada melakukan kebiasaan buruk yang membinasakan kita. Lebih baik melakukan kebiasaan baik yang bisa memuliakan kita. 

0 komentar: