Sebaik-baiknya profesi adalah yang banyak memberi manfaat pada sesama Menjadi entrepreneur atau pengusaha tidak berarti lebih baik dar...

JADI ENTREPRENEUR ITU MENYENANGKAN. TAPI SUDAH TAHU KONSEKUENSINYA?

Sebaik-baiknya profesi adalah yang banyak memberi manfaat pada sesama

Menjadi entrepreneur atau pengusaha tidak berarti lebih baik dari karyawan. Memang, salah satu nilai tambah seorang pengusaha ialah bisa memberi banyak manfaat pada sesama, dengan lapangan kerja yang dibuatnya. Namun bukan berarti jalan yang dilalui untuk menjadi pengusaha itu mulus tanpa halang rintang. Tidak seperti yang dilihat dari kebanyakan orang, para pengusaha terkesan lebih santai, berkantong tebal, punya fasilitas yang serba mewah, dan tentunya kesuksesan dalam hal materi. Padahal apa yang sedang kita lihat saat itu, hanyalah hasil dari proses panjang yang telah mereka perjuangkan mati-matian. Dan proses panjang itulah yang tidak sempat kita lihat dan pelajari untuk bisa diadopsi pada kesuksesan kita.


Tidak berarti pengusaha lebih baik dari karyawan, begitupun sebaliknya.

Semua profesi itu baik, selama tidak dilarang agama

Jadi pengusaha memang terlihat menyenangkan. Darinya kita bisa membuka lapangan kerja dan mempekerjakan ratusan hingga ribuan pekerja, tentunya bisa menjadi kebanggaan tersendiri. Namun dibalik itu semua, karyawan pun tidak kalah menyenangkan dan mulia. Tanpa karyawan, pengusaha pun urusan produksinya tidak akan jalan. SO, keduanya tidak ada yang membeda-bedakan bahkan mengecap salah satunya lebih mulia dibanding yang lainnya. Karena masing-msing dari kita saling membutuhkan dan melengkapi satu dengan yang lainnya. Semua profesi itu mulia selama didasarkan pada keridhoan Allah. Apapun yang dilarang olehNYA, sekalipun itu menguntungkan bagi kita maka tinggalkannya. Sementara apapun yang diperintahkan olehNYA, sekalipun itu memberatkan bagi kita maka kerjakannlah. Karena sesungguhnya Dia Maha Mengetahui, semantara kita tidak.


Pengusaha itu tidak mengenal tanggal merah. Bahkan harus siap kerja 24 jam. Semua itu dilakukannya selama ia punya passion.

Follow your passion then money will follow

Mungkin kita pernah berpikiran jika mereka para pengusaha selalu memiliki waktu luang yang bisa dipergunakan untuk berlibur hingga berkumpul dengan keluarga sesuka hatinya. Kenyataannya, mereka dituntut untuk siap bekerja 24 jam tanpa mengenal tanggal merah dalam kalender. Jika para karyawan selalu merasa senang saat mendapat tanggal merah, para pengusaha pastinya tidak demikian. Mereka tetap harus memikirkan kinerja dan visi perusahaan, melakukan negosiasi dengan investor, meeting dengan klien, hingga mengurusi hal detail lainnya.

Kalau kita hanya bermodalkan nekat, tanpa punya passion di dunia entrepreneur, lebih baik batalkan niat untuk menjadi pengusaha. Mereka terlihat menyukai dunianya karena mereka telah menemukan passion yang dimilikinya. Bagaimana dengan kita? Apa yang mereka lakukan menurut kita terlihat melelahkan tapi bagi mereka justru menyenangkan karena disitulah dunia mereka. Dari passionlah kita bisa bertahan dengan apa yang kita kerjakan. Lewat visi kita dituntut untuk mendesain apa yang akan kita lakukan. Dengan action kita belajar untuk bagaimana melakukan yang dikerjakan. Dan karena passionlah kita bisa menjaawab pertanyaan "mengapa kita terus melakukan apa yang kita kerjakan". So, sebelum semuanya diputuskan pastikan kita telah menemukan passion kita!


Jadi pengusaha itu cara gampang menuju kaya. Sementara karyawan, kapan bisa kaya?

Orang kaya adalah mereka yang kebutuhan hidupnya tetap, tapi penghasilannya terus bertambah

Kalau kita pikir menjadi pengusaha adalah jalan mudah menjadi kaya, mungkin ada benarnya. Namun bukan berarti saat kita memulai usaha tujuan utama kita adalah kaya dan materi. Salah besar jika kita resign dari kerjaan sebelumnya untuk memutuskan menjadi pengusaha hanya karena ingin kaya. Bisa jadi penghasilan pengusaha besar karena belum dipotong dengan cicilan hutang, biaya operasional, dan biaya pengeluaran lainnya. Sementara belum tentu penghasilan karyawan selalu kalah dengan para pengusaha. Lihat saja para dirut BUMN, bisa jadi gajinya lebih besar dari kita. Kalau tujuan utama kita membuka usaha hanya karena soal uang semata, lebih baik jadi dirut BUMN. Gaji tiap bulan sudah pasti terjamin, sementara hasil usaha kita tiap bulan selalu kembang kempis.

Jadi pengusaha dituntut siap menghadapi persaingan dan untung rugi. Selalu siap maju dan bangkrut. Kalau tidak punya mental siap bangkrut, mending lupakan jadi pengusaha. Karena semuanya itu pilihan pastikan kita memilih dengan pertimbangan matang. Jangan sampai ujungnya menyesal dan mengeluh akan hasil yang diterima. Hanya ada dua hal yang harus kita pilih dengan serius, karena dari keduanya waktu hidup kita akan dihabiskan bersamanya. Pertama dalam memilih pasangan hidup dan kedua dalam memilih karir atau pekerjaan. 


Memiliki kreativitas dan inovasi adalah modal utama pengusaha. Jadi pastikan kita mau jadi pembelajar tanpa takut dengan resiko.

Tidak ada hal tanpa resiko. Tanpa mencoba kita tak akan pernah tahu.

Resiko adalah makanan sehari-hari para pengusaha. Hal ini bukan untuk ditakuti, melainkan hal yang harus selalu siap dihadapi. Karena dalam hidup tidak akan ada hal tanpa mengandung resiko. Jadi pengusaha resikonya sudah pasti bangkrut. Jadi karyawanpun sama, punya resikonya yaitu dipecat. Dengan kita mau terus belajar, kita dituntut untuk mengasah kreativitas dan menemukan inovasi baru tiap waktunya. Karena bagaimanapun juga ketika para pengusaha berhenti berinovasi, maka tutuplah usahanya. 

Memang dalam hal ini pasti akan ada hal yang harus dikorbankan, seperti ego, rasa gengsi, dan tinggi hati karena menganggap apa yang kita lakukan lebih baik dibanding yang lain. Dan kunci untuk mengalahkan ego tadi adalah dengan belajar banyak pada banyak orang. Darisana kita bisa melihat dan mempelajari cara mereka dalam menanggapi setiap resiko yang dihadapinya. Tanpa pernah belajar, kita tidak akan mungkin maju.

So, sudah siapkah kamu berkomitmen pada semua konsekuensi tadi? :) 


0 komentar: