Header Ads

ad

ALIEN BUMI



Alien adalah makhluk asing dari luar angkasa, bertubuh kecil, bermata besar, kepala agak lonjong, cerdas, selalu menaiki dan turun dari UFO (karena sampai saat ini belum ditemukan yang bawa Ferrari), dan konon suka menculik manusia. Itu definisi Alien menurut anak SD umuran saya, yang pernah dilihatnya di film-film. Ya, saat itu dikalangan kami, penggambarang Alien kurang lebih seperti itu. Selalu menarik jika membahas makhluk misterius yang satu ini. Sampai-sampai kita dibuat pensaran dan bertanya-tanya:
  • Darimana mereka datang? Yang jelas bukan dari mata turun ke hati.
  • Bagaimana bisa mereka tahu jalan kebumi? Mungkin mereka sudah punya aplikasi semacam waze atau google maps.
  • Benarkah mereka ada? Untuk yang satu ini para peserta kuis siapa dia pun, belum bisa menebaknya.
  • Mengapa selalu membawa UFO? Mungkin kalau membawa seperangkat alat sholat takut dikira mau nikahan.
  • Mengapa mereka bisa lebih pintar dari kita? Karena rajin makan sosis.
Sudah. Sudah. Tak perlu KEPO. Intinya yang saya tahu, Alien itu makhluk asing yang datang dari planet lain. Bagi kita mungkin mereka dianggap aneh, karena bisa jadi kita sebelumnya belum pernah bertemu dengan makhluk seperti itu, belum pernah melihat kendaraan yang dimiliki mereka, dan belum mengenal lebih jauh tentang mereka. Sama halnya saat kita melihat kebiasaan orang lain yang belum pernah kita temukan, kita pun pasti bakal merasa aneh. Kalau sudah lama saling kenal, tahu karakter dan kebiasaan masing-masing, tentu kita pun akan merasa biasa karena sudah terbiasa kan? Nah, satu lagi, kita menyebut asing pada mereka, karena kita belum terbiasa melihat mereka.


Berbicara soal makhluk asing dengan keterasingannya, sebenarnya kita pun pasti pernah mengalami seperti yang dialami makhluk tadi. Masing-masing dari kita pasti pernah merasakan jadi makhluk asing dan hidup dalam keterasingan. Misalnya, saat kita mendapati dan menempati lingkungan baru seperti kampus baru, tempat kerja baru, tempat tinggal baru, hingga lingkungan pergaulan baru dimana dalam lingkungan tersebut kita belum saling kenal satu sama lainnya. Seperti yang pernah saya alami waktu masuk SMP. Saat itu dari SD yang pernah saya duduki, tidak satu pun teman-teman seangkatan yang daftar barengan masuk ke SMP sana. Dan darisanalah awal mula belajar jadi single fighter. Heheh. Mulai dari persiapan ospek dan lain-lainnya harus diurus sendiri layaknya jomblo. Eh. Begitupun saat naik kelas dari kelas X ke kelas XI. Tidak satu pun teman-teman dari kelas X yang barengan masuk kelas XI. Semuanya pada berpencar. Bahkan sampai saat itu ada niatan untuk pindah kelas, ke kelas XI yang mayoritasnya banyak teman-teman alumni kelas X dan teman-teman sepermainan. Namun niatan itu batal terlaksana. Rupanya ujian jadi single parents fighter tidak berhenti sampai dimasa putih abu. Memasuki dunia perkuliahan pun ujian itu masih berlanjut. Lanjut? Kalian luar biasa *Ariel mode on. Lagi-lagi saya harus memasuki kampus dimana tidak satu pun teman-teman se-SMA yang daftar disana. Dan, semua persiapannya pun ditanggung sendiri. Well, sebenarnya dari ujian-ujian tadi ada dua pilihan yang bisa saya pilih. Pertama, saya menyerah artinya keluar dari kampus tersebut dan pindah kampus ke kampus yang banyak teman-teman SMA yang sudah banyak dikenal. Tentunya setiap pilihan pasti terdapat konsekuensinya. Dan konsekuensi yang diambil jika memilih pilihan pertama, lingkungan pergaulan yang dimiliki pun akan jadi homogen. Simpelnya kita akan bertemu dengan 4L (Loe Lagi Loe Lagi). Ini akan menghambat pertumbuhan jumlah populasi followers teman, bahkan network kita nantinya. Sedangkan pilihan kedua, kalem lanjut aja terus. Dan pilihan kedualah yang saya pilih. Memang konsekuensi dari pilihan pertama tadi tidak saya dapatkan, tetapi bukankah tidak semua pilihan bisa kita menangkan? Tentunya dengan pilihan yang saya pilih, jika kita mau mengambil hikmahnya pasti lebih banyak keuntungan dan sukanya, dibanding duka dan deritanya. Lingkungan pergaulan yang tadinya homogen berubah menjadi heterogen, jumlah followers teman menjadi bertambah, jiwa kemandirian semakin terlatih, dan tentunya referensi cemewew pun menjadi banyak. Untuk yang terakhir, itu pure saran dari salah seorang teman.

Lalu menurut Anda apakah saya lulus ujian single fighter tadi? "Aku sih yes" gak tahu mas Dhani. Ya, dalam setiap pilihan pasti mengandung resiko. Dan apa yang kita terima dari pilihan tersebut, ambilah hikmahnya, syukuri apa yang kita miliki, dan belajarlah menerima pilihan yang dipilih olehNYA. Toh, pada akhirnya kita pun pasti akan menjadi Alien Bumi. Saat kita kerja nanti pun, belum tentu semua alumni kampus kita diterima dan kerja bareng di tempat kerja kita nanti. Atau saat kita sudah menikah dan pindah dari Pondok Mertua Indah ke rumah baru yang dimiliki pun, kita pasti jadi Alien Bumi. Kita akan menjadi manusia asing disaat lingkungan yang kita tinggali belum terbiasa dengan kita dan kita pun belum terbiasa dengannya. Intinya, ikhlaslah dengan pilihan dan rencana yang telah Allah pilihkan untuk kita. Karena boleh jadi rencana dan pilihan kita baik, namun satu hal, rencana dan pilihan Allah selalu jauh lebih baik.

No comments