17 Januari 2015 Hari minggu kedua di bulan Januari tahun ini menjadi momen mini reuni teman-teman seperjuangan saat SMA. Disebut ...

Hidup Tidak Dinilai Hari Ini, Tapi Dimulai Hari ini



17 Januari 2015

Hari minggu kedua di bulan Januari tahun ini menjadi momen mini reuni teman-teman seperjuangan saat SMA. Disebut mini, karena yang ditemui bisa dihitung jari. Momen pertemuan ini bukan tanpa disengaja, melainkan karena ada teman kami yang melangsungkan akad pernikahan. Kapan lagi bertemu dengan mereka, selain karena adanya undangan terlebih undangan pernikahan. Dan sudah bisa ditebak, jika ada sekelompok orang yang saling kenal, lama tidak berjumpa, apa yang dilakukannya? Ya, ngobrol ngaler-ngidul kesana kemari. Ujung-ujungnya sampai lupa waktu, bahkan lupa diri. hehehe. 

Menariknya dari sekian obrolan, yang paling menjadi ngehits, jadi trending topik pembicaraan saat di acara nikahan, apalagi kalau bukan pertanyaan "kapan menyusul?". Pertanyaan tersebut bagi sebagian orang terlebih jomblo akut stadium 3 bisa seperti vonis yang mematikan. Bagi mereka yang masih kuliah, ertanyaan tersebut bisa lebih berat dijawab dibanding pertanyaan dosen penguji skripsi. Itu baru topik pembicaraan pertama yang paling nge-hits. Topik pembicaraan berikutnya yang paling banyak diulas menurut om the spot, tentang masa-masa paling indah di SMA. Mulai dari ngebahas guru-guru semasa SMA, kelakuan-kelakuan semasa SMA, hingga kisah-kisah teman-teman SMA dari dulu hingga sekarang.

Seperti judul postingan kali ini. Hidup tidak dinilai hari ini, tapi dimulai hari ini. Begitupun saat masing-masing dari kami mengingat dan menceritakan asam manis kisah hidupnya. Kadang kami harus dipaksa merenung, ketika ada salah seorang dari teman sekolah kami yang dulunya korban bully, langganan remidial, begajulan, dan sudah bisa dipastikan tidak akan lulus karena kelakuannya, namun kini justru hidupnya lebih baik dari teman-temannya yang lain. Menurut kami mereka bisa terbilang sukses, baik dalam profesinya maupun dalam mengatur keluarganya. Ya, itulah siklus hidup. Seperti teman saya yang sedang bingung memilih pasangan hidupnya. Menurut dia, dirinya sudah cukup baik dibanding teman-teman masa lalunya. Namun justru teman-teman masa lalunya yang terbilang biasa-biasa, bisa lebih cepat mendapatkan pasangan hidupnya dibanding dia yang betah menyandang gelar SEBASTIAN (SEBAtaS Teman tanpa kepastIAN) terus. Hehehe

Memang kalau kita terus membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, kita jadi lupa untuk mensykuri apak yang kita miliki saat ini. Seperti halnya soal pasangan hidup tadi. Menikah memang hak semua orang, tetapi ada nilai-nilai dan prinspi yang setiap orang pasti berbeda-beda. Karena menikah mjemang terlihat simpel dan namun sebenarnya kompleks. Okelah, kita katakan teman saya yang satu ini jomblo dan ingin cepat-cepat naik pelaminan. Tapi, menikah pun bukan soal cepat-cepatan, tapi soal lama-lamaan. Kalau ingin cepat-cepatan, grusuk sana sini, embat sana embat sini, apakah kita bisa mempertanggungjawabkan pilihan kita kedepan nanti?

Inti dari semuanya, apa yang telah kita capai dan genggam saat ini adalah akumulasi dari pilihan kita di masa lalu. Boleh jadi ada teman kita yang dulunya lebih bodoh dari kita, lebih jelek dari kita, atau lebih naas dari kita tetapi nasibnya kini lebih baik dari kita. Who knows?  Mungkin saja diperjalanan hidupnya dulu, pemikirannya berubah seiring berjalannya waktu karena pengaruh lingkungan sekitarnya. Jika kita di masa depan menginginkan apa yang kita impikan, persiapkanlah cara untuk meraih impian itu dari sekarang. Now or never! Karena hidup tidak dinilai hari ini, tapi dimulai hari ini.

0 komentar: