15 tahun yang lalu, saat kita belum memiliki bahkan mengenal gadget berupa ponsel, alat komunikasi yang bisa dan mampu kita gunak...

Komentator Kehidupan



15 tahun yang lalu, saat kita belum memiliki bahkan mengenal gadget berupa ponsel, alat komunikasi yang bisa dan mampu kita gunakan adalah telepon umum. Sebagian orang dari kalangan "berada", tentu sudah memiliki ponsel, telepon rumah, atau mungkin pager. Bisa dibilang, saat itu orang-orang yang memiliki barang elektronik khususnya ponsel dan sejenisnya bisa dihitung jari. Begitupun dengan akses informasi. Tidak semua dari kita bisa mengaksesnya dengan cepat dan mudah. Dan saat ini semuanya telah berubah. Hampir semua orang kini bisa mengakses informasi dengan cepat dan mudah. Terlebih gadget bukan lagi barang langka dan mahal bagi sebagian orang. Bahkan saat ini, satu orang saja bisa memiliki beberapa gadget.

Dulu jika kita tidak suka pada seseorang, institusi, organisasi, dan apapun itu yang tidak kita sukai, paling-paling kita hanya bisa dongkol dan marah dihadapan TV atau radio. Sekarang lain lagi ceritanya. Siapapun bisa memberi apresiasi ataupun sindiran sinis pada siapapun lewat sosial media. Ada hal yang tidak mengenakan, dengan mudahnya kita mempostingnya. Apapun yang terjadi disekeliling kita bisa dengan mudah kita ekspos di sosial media dan hal itu bisa diketahui oleh semua orang yang mengaksesnya.

Rasanya tidak berlebihan jika di era informasi ini banyak bermunculan komentator-komentator kehidupan. Komentator-komentator tersebut tidak hanya mengomentari publik figur atau tokoh-tokoh terkenal saja, bahkan orang yang tidak pernah dikenal pun tidak luput dari komentarnya. Baik dan buruk serta positif dan negatifnya komentar yang keluar tentunya bisa mengundang berbagai rekasi. Siapapun kini bisa menjadi komentator hidup, termasuk Anda dan saya. Bahayanya, tidak sedikit dari kita kurang bahkan tidak menyadari jika dirinya sudah menjadi komentator yang sibuk mengomentari hidup orang lain ketimbang mengomentari dan memeperbaiki dirinya sendiri.

Istilah bully di sosial media, tentu sering kita dengar, terlebih jika ada publik figur yang melakukan hal yang tak lazim atau saat mereka berbuat kesalahan. Sah-sah saja kita berkomentar. Yang jadi masalah itu saat kita sibuk menjadi komentator orang lain, tetapi diri kita sendiri tidak ada yang mengomentari dan hal tersebut bukan saja berbahaya tapi jauh berbahaya karena bisa membuat kita malas untuk memperbaiki diri. So, mulai sekarang janganlah sibuk mengomentari hidup orang lain. Tugas kita hanya mengingatkan. Jika kita sudah mengingatkan tapi masih diabaikannya, tugas kita berikutnya adalah mendo'akannya. Karena bukan tugas kita untuk mengubah isi hatinya.

Jika kita masih sibuk mengomentari hidup orang lain. Lalu apa yang sudah kita lakukan pada diri sendiri? Sudah baikkah diri kita dari orang yang kita komentari? :)

0 komentar: