Di era digital sekarang ini, masih saja ada yang percaya akan adanya tanggal, hari, bulan, dan tahun sial. Ada yang berpikiran jika angka ...

Sial Itu Kita Yang Bikin



Di era digital sekarang ini, masih saja ada yang percaya akan adanya tanggal, hari, bulan, dan tahun sial. Ada yang berpikiran jika angka 4, 9, 13, 39 adalah angka sial bahkan kematian. Anda percaya? Bagi sebagian orang yang masih mempercayai hari dan tanggal sial, hal ini sangat krusial dalam penentuan pergelaran acara. Baik formal maupun non formal. Bagi mereka, penanggalan tersebut bisa menghasilkan dampak yang menurut mereka baik. Tapi, bagaimana mungkin mereka bisa beranggapan seperti itu? Sederhananya, jika angka 4, 9, 13 dianggap dengan hari sial,  bukankah disetiap penanggalan kalender pasti ada tanggal 4, 9, dan 13? Lalu bisakah mereka berdamai dengan angka-angka tersebut dalam menjalani kehidupannya? Kalau memang angka-angka tersebut dianggap sial, buktinya mereka masih bisa menjalani kehidupan secara normal di bumi, tanpa harus pergi ke luar angkasa dahulu pada tanggal tersebut.

“Boleh jadi engkau membenci sesuatu pada hal ia amat baik bagimu, dan bias jadi engkau menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui (QS. Al-baqarah : 216)”

Tidak ada yang namanya hari sial atau buruk. Yang ada hanyalah suasana hati kita dan persepektif kita dalam menghadapi setiap kejadian. Umar bin Khattab pun pernah berkata" 
"Aku tidak peduli atas keadaan susah atau senangku, karena aku tidak tahu manakah diantara keduanya itu yang lebih baik bagiku".

Kita boleh saja punya rencana. Namun saat rencana kita jauh dari harapan, tentunya Allah punya rencana lain dan rencanaNYA jauh lebih indah dari yang kita kira. Apa yang kita alami hari ini, dan menurut kita hal tersebut adalah hal yang tidak mengenakkan belum tentu buruk untuk kita. Begitupun sebaliknya. Misalkan, saat kita akan pergi ke luar, tanpa diduga begitu menaiki kendaraan hujan turun sangat deras disertai petir dan angin dan hal tersebut membuat kita menunda perjalanan kita. Mungkin kita merasa dongkol, marah, kesal, atau bahkan menyalahkan hujan yang turun. Padahal kalau kita mau bernalar positif, bisa jadi jika kita berangkat pada saat itu kita akan mengalami hal yang tidak diinginkan saat perjalanan. Dan Allah sudah merencakan hal tersebut dengan indah meski kita tidak merasakannya secara langsung.

Dalam menghadapi setiap persoalan, berpikir positif saja tidak cukup. Harus ditambah dengan bernalar positif dan bersikap positif. Sama halnya dengan berkata baik saja tidak cukup. Berkata baik tidak hanya berucap sopan, tetapi lebih dari itu. Setiap kata yang kita ucap harus mengandung manfaat, bukan laknat. 

So, sudah jelas kan, sial itu kita yang bikin sendiri. Kita memang tidak menginginkan kesialan tersebut, tapi justru seringkali kitalah yang sering mengundangnya ke kehidupan kita. Jadi jelas, tidak ada hari sial atau buruk. Karena hal tersebut hanyalah perbedaan perspektif dari kita. Jika masih berpikiran seperti itu, harusnya kita kembali merenung dan meresapi ayat di atas. Semoga bermanfaat

0 komentar: