Hidup itu simpel, hanya pola pikir kita yang membuatnya terasa rumit. Galau. Sebuah kata yang menggambarkan perasaan gundah gulan...

Galau Kok Dibiarin?



Hidup itu simpel, hanya pola pikir kita yang membuatnya terasa rumit.

Galau. Sebuah kata yang menggambarkan perasaan gundah gulana, bungung, resah, dan gelisah. Entah berapa tweets dan postingan di Facebook yang berisi tentang kegalauan para remaja yang terjebak dalam masa lalunya. Galau pun bisa diibaratkan sebuah momen dimana move on terasa berat. ENtah sejak kapan galau menjadi trending topic, yang jelas itulah realita kehidupan remaja sekarang.

Galau yang tidak jelas sering terjadi diantara mereka hanya karena luapan perasaan pada lawan jenis yang tak kunjung mendapat jawaban. Rasa penasaran yang berubah menjadi perasaan tanpa adanya kepastian membuat diantara mereka yang lemah iman dan ilmunya menjadi galau, seperti anak ayam kehilangan induknya. Simpelnya galau itu tidak akan menyelesaikan masalah. Sesering apapun kita menggalau, memposting kegalauan, dan mempublikasikan kegalauan, tetap tidak akan mengubah keadaan kita.

Mendramatisir kegalauan sama saja dengan kita fokus pada masa lalu dan akan selamanya menjadi pemilik masa lalu. Sedangkan kita ada untuk saat ini dan masa depan. Banyak tips-tips mengatasi kegalauan di berbagai media, tapi jika kita tidak memiliki kemauan dan niatan untuk keluar dari zona kegalauan, sama halnya dengan bohong (tiada artinya). 

Untuk move on, dibutuhkan niatan yang kuat dan lingkungan yang tepat. Bagi kalian yang sering mendengarkan lagu melow, untuk seminggu ini jangan dulu mendengarkan lagu melow. Bagi kalian yang suka menonton FTV dan acara gosip, untuk seminggu ini juga jangan menotonnya. Dan bagi yang sering melihat berita, dalam seminggu ini jangan menlihat berita tentang tindak kriminalitas. Tonton dan bacalah tayangan dan bacaan yang sarat inspiratif. Sebab kita adalah apa yang kita baca dan apa yang kita pikirkan. Kalau kita memikirkan hal yang tak penting, maka keberadaan kita pun akan dirasa tidak penting. Begitu juga sebaliknya. So, masih nyaman dengan kegalauan? Atau sudah berani move on?

0 komentar: