Banyak orang menginginkan kekayaan hanya untuk eksistensi diri dan mendapat pengakuan dari orang lain, bahkan dengan menghalalkan seg...

Kapan Kita Merasa kaya?



Banyak orang menginginkan kekayaan hanya untuk eksistensi diri dan mendapat pengakuan dari orang lain, bahkan dengan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Begitulah pandangan orang yang sudah diperbudak oleh materi. Siapa yang tahu, jika kaya tidak menjamin kebahagiaan? Banyak dari mereka-mereka yang kaya namun hidup dan hatinya kering kerontang. Mobil super mewah, rumah nan megah, dan segala yang dimilikinya serba wah, tapi tidak mendapat kebahagiaan. Keluarga jadi hancur, hilangnya kasih sayang, kurangnya waktu dengan keluarga, pasangan berselingkuh, dan ketidakpuasan pada keadaan seakan menjadi tumbal dari semuanya.

Kaya dan miskin bagi saya bukan soal berkelimpahan materi. Tapi soal mental. Mereka yang bermental kaya selalu bisa mengambil peluang disetiap kesulitannya. Sedangkan mereka yang bermental miskin selalu melihat kesulitan disetiap peluangnya. mental kaya selalu membelanjakan hartanya untuk hal kebutuhannya. Sementara mental miskin, selalu membelanjakan hartanya untuk hal yang diinginkannya sesuka hatinya. Mental kaya "give it's no problem" sedangkan mental miskin "give it's problem". :D  

So, kapan kita merasa kaya? Bagi saya, saya merasa kaya saat TIDAK MEMILIKI UTANG. Lihat mereka para kaum dufa dan fakir miskin. Meskipun berkekurangan harta, tapi mereka tidak memiliki utang. Mereka jauh lebih kaya dari para koruptor dan mereka-mereka yang berhutang. Dan kaya menurut saya adalah ketika kita tidak lagi membuat keinginan dan kebutuhan baru yang bisa menambah pengeluaran hanya demi gengsi dan pengakuan status sosial. 

0 komentar: