Jika kita memiliki uang RP 100.000, apa yang akan Anda lakukan? Membeli pulsa? Pergi nonton? Makan siang? Traktir teman? Disedekahkan...

Senang Belum Tentu Bahagia



Jika kita memiliki uang RP 100.000, apa yang akan Anda lakukan? Membeli pulsa? Pergi nonton? Makan siang? Traktir teman? Disedekahkan? Atau muingkin yang lainnya. Hanya untuk yang terakhir, rasanya berat ya bagi kita yang  belum terbiasa sedekah dengan nominal tersebut. Biasanya ketika kita masuk ke mesjid dan sedekah didalamnya, kita hanya membawa uang yang bergambar orang membawa golok, atau bahkan yang bergambar orang utan (kalau masih ada). Sungguh terlalu. :D Orang yang membawa golok dan seekor orangutan sering masuk mesjid, tetapi orang yang memakai peci (Rp 50.000 - 100.000) jarang masuk mesjid. Padahal orang yang membawa golok tersebut, seringnya bukan hanya masuk mesjid saja. Tetapi lebih sering masuk wc umum. :D Right?

Untuk kalian yang masih sekolah atau yang masih disubsidi orantuanya, mungkin kalian bisa dengan mudah meminta uang pada mereka tetapi begitu mudahnya juga kita menghabiskannya. Padahal kita tahu, mereka bekerja banting tulang, memeras keringat bukan untuk mencukupi kebutuhan kita saja. Ada kebutuhan lain yang harus mereka cukupi dan penuhi selain dari kita. Diantara kalian yang masih disubsidi, ada yang sedang pacaran? :D 1,2,3,4,5,..... n. Cukup banyak juga rupanya. Coba renungkan, selama pacaran kalian KEMANA saja? NGAPAIN saja? Dan DOSA TERBESAR apa yang telah dilakukan selama pacaran?

Saya akan ajak kalian merenung. Misalkan kalian sebulan disubsidi uang saku RP 500.000/ bulan. Uang tersebut bersih untuk kebutuhan kita, diluar bayar kost-an dan listrik. Saat subsidi cair, biasanya apa yang dilakukan? Senang-senang? Ngajak pacar jalan-jalan? OK kita lihat kasus selanjutnya. Umpamakan kalian jalan atau pergi nonton di 21 bersama pujaan hati. Pergi jalan apakah jalan kaki? Apakah tidak makan selama jalan bareng? Apakah tidak ada draft belanjaan lain yang harus dibeli? Atau yang lain sebagainya.

Ilustrasinya begini:
Bensin motor: Rp 6.500 x 4 (liter) = Rp 26.000
Tiket 21 Weekend:  Rp 35.000 x 2 (orang) = RP 70.000
Makan siang di mall : Rp 50.000 x 2 (orang) = Rp 100.000
Parkir: Rp 1.000 x 5 (jam) = Rp 5.000
Pizza untuk keluarga doi: Rp 75.000
Foto box untuk kenang-kenangan: Rp 30.000
Doi minta dibelikan sepatu baru: Rp 90.000
TOTAL: Rp 396.000

Itu artinya sisa uang saku kalian selama sebnulan tinggal Rp 104.000. Senangnya hanya sehari, makan di restoran mewah. Tapi deritanya sebulan, hari berikutnya makan di warteg (itupun ngutang sana-sini).

Jika kita hanya mengejar kesenangan duniawi, tidak akan ada habisnya dan tidak akan pernah puas. Bayangkan Rp 396.000 habis dalam hitungan jam. Sementara diluar sana masih ada saudara-saudara kita yang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dalam sebulan hanya dengan Rp 300.000. Sementara kita uang tersebut habis dalam hitungan jam. Segala fasilitas kita jauh lebih beruntung dan berkecukupan karena masih disubsidi orangtua. Pertanyaannya adalah, bagaiman jika tiba-tiba orangtua kita sakit keras atau meninggal dunia? Siapa yang akan menanggung hidup kalian? Pacar kalian? Saudara kalian? Bagaimana jika kalian anak tunggal?  Bagaimana jika yang bekerja dalam keluarga kalian hanyalah ayah kalian? 

THINK AGAIN..................
 


0 komentar: