Header Ads

ad

Pelamunan atau Pelaminan? #2



Sebenarnya budaya pacaran itu sendiri tidak lahir dengan sendirinya. Melainkan lahir dari tayangan-tayangan yang kita rasa itu adalah kisah romantis dan menarik untuk kita tiru. Bagaimana tidak, tayangan di tv-tv seringkali menayangkan sinetron dengan mayoritas bertema anak sekolahan yang ujung-ujungnya berbumbu cinta yang semu. Temanya saja sekolahan, tapi kebanyakan aktivitasnya hanya pacaran dan main-main. Jarang bahkan tidak pernah kita lihat sinetron yang menayangkan kegiatan belajarnya. Hingga sinetron tersebut pun tidak hanya masuk ke lingkungan akan sekolahan melainkan merambah ke lingkungan anak pesantren. Bagaimana dengan kegiatannya? Sama dengan sinetron-sinetron anak sekolahan. Mayoritas yang di shootingnya ya hanya aktivitas pacaran. Jarang kita lihat proses belajar dan mengajinya. It’s true. Enelan... Tidak hanya itu, ditambah lagi tayangan-tayangan korea yang super duper penuh keromantisan. Seakan tontonan korea tersebut sukses membuat haru biru penonton hingga mereka segan menitikan air mata. Dan bahkan mereka mengidolakan artis-artis korea tersebut, hingga ingin memiliki kehidupan romansa dan menirukan apa yang dilakukan idolanya tersebut.

Hey. Hidup itu soal realita. Dan hidup itu tidak selalu indah seperti kisah ftv. Tahu gak kenapa cerita-cerita korea dibuat begitu romantis dan indah? Karena itu impian mereka. Sementara mereka tidak bisa mewujudkan impiannya tersebut. Dalam artian di kehidupan nyatanya para artis dan aktor tersebut tidak memiliki kehidupan romantis tersebut dikarenakan berbagai hal, mulai dari konflik perang saudara hingga yang lainnya. Maka dari itu mereka membuat kisah romansa tersebut, semata-mata ingin mewujudkan mimpinya seperti apa yang dikisahkan dalam drama romantis tersebut.

Saya bisa pastikan jika kita semua pasti mendambakan pasangan hidup seperti apa yang kita inginkan. Untuk lelaki misalnya, mendapatkan wanita soleha, pintar, cantik, dan berakhlak baik. Begitupun dengan wanita, mereka memdambakan pria yang mapan, tampan, rupawan, dan dermawan. Okelah kita menerapkan standar pasangan seperti itu. Tapi apakah ada yang mau dengan kita? Apakah kita sudah pantas bersanding dengan pasangan yang kita anggap sempurna untuk menemani kita sehidup semati? Disaat kita mendambakan pasangan soleh atau soleha, tetapi kita pun masih menjadi manusia yang selalu salah. Disaat kita mendambakan pasangan yang rajin bertahajud, tetapi di ranjang sana kita malah malas untuk beranjak mengambil wudhu. Dan disaat kita mendambakan pasangan yang manis, romantis dan optimistis, tetapi diri kita masih saja berkutat dengan sifat pesimsitis. Loh, bukannya pasangan itu saling melengkapi ya? Dia tahajud, harusnya dia-kan membangunkan saya. Dia soleh atau soleha, harusnya dia-kan membimbing saya. Mau sampai kapan Anda dilayani terus tapi malas untuk melayani. Terlebih jika Anda adalah pria, yang notabenenya calon pemimpin keluarga. Allah pun tentu Maha Adil dan Maha Tahu. Tahu mana jodoh yang layak untuk kita dan yang tidak layak untuk kita. Tugas kita berdo’a, berikhtiar, dan percaya pada apa yang ditetapkannya. Maka dari itu, sebelum kita meminta pasangan sempurna, sempurnakan diri kita dan pantaskan diri kita untuknya. Karena hanya mereka-mereka yang berkualitaslah yang akan selalu dicari dan dinanti-nanti.

Berbicara soal pacaran, tentu yang paling sering diuntungkan adalah lelaki. Dan pihak yang sealu dirugikan adalah wanita. Kenapa? Jawabannya tentu bukan karena because selalu always. Hehehe. Itu karena pacaran tidak memerlukan komitmen. Hubungan yang tanpa komitmen, selalu diawali oleh janji-janji manis palsu. Bujuk rayu terus dilontarkan pada sang wanita, hingga wanita terperdaya olehnya. Saya mau bertanya pada Anda jika Anda wanita. Mau kejelasan atau kecemasan? Mau dilamar apa dilempar? Mau keyakinan atau kebimbangan? Tentu kalian menginginkan kejelasan bukan? Apakah pacaran bisa memberikan kejelasan dalam sebuah hubungan? Kejelasan dalam hal mau dibawa kemana hubungan kita? Jika kau terus menunda-nunda tanpa ada ikatan pernikahan? Lelaki yang mengajak kalian para wanita untuk pacaran adalah mereka yang hanya ingin main-main dengan kalian. Setelah mereka bosan, maka kalian pun akan dianggap mainan oleh mereka. Untuk mencari lelaki yang setia, pemberani, dan berkomitmen itu tidaklah susah. Mereka yang berani mendatangi orangtua kalian para wanita dan mengutarakan niat lamaran, adalah lelaki yang berkualitas. Coba jika kalian para wanita yang sedang memiliki pacar, tanya mau kapan melamar kalian? Jika mereka tidak bisa menjawab saya pastikan mereka hanya main-main saja. Apa mau kalian jadi mainan mereka? Sekarang tinggal pilih saja. Pilih pelaminan atau pelamunan? Pelaminan berarti diseriusin. Pelamunan berarti hubungan kalian hanya indah dalam lamunan saja. Dan itulah yang ada dalam pacaran. So, now berani mengakatan putus pada pasangan? Say good bye to him/her? Dan sampai jumpa di pelaminan?

Pacaran itu tidak akan membuat dewasa, yang ada malah menjerumuskan kita untuk melakukan adegan dewasa. Jangan merasa malu dengan predikat jomblo. Justru jomblo karena Allah kita akan diselamatkan. Jomblo itu bukan nasib tapi pilihan. Pastikan itu pilihan yang menyelamatkan kita. ? Sebelum kita terjerumus pacaran, tanyalah diri kita. Sudahkah kita membahagiakan orangtua kita? Prestasi apa yang pernah kita buat hingga membuat mereka bahagia? Umur kita masih muda, jalan hidup kita masih panjang. Ingat, hidup itu hanya sekali, jadi sayang sekali kalau kita tidak sukses. Torehkanlah prestasi yang membanggakan, agar nanti orangtua kita bahagia dan tidak menyesal telah melahirkan kita. Terkadang dengan pacaran kita malah jadi sibuk dengan pacar kita, berkorban mati-matian untuk dia tapi kita melupakan orang yang telah mengorbankan dirinya untuk kita. Kita rela disuruh pacar untuk melakukan ini-itu, tetapi kita malas-malasan ketika kita disuruh orangtua kita. Jangan habiskan masa muda kita dengan pacaran. Isilah dengan aktivitas produktif yang kreatif dan inovatif hingga bisa menelurkan prestasi. Jika prestasi telah terukir, yang bangga tentu tidak hanya orangtua kita, melainkan orang-orang disekitar kita pun merasa bangga dan bahagia karena telah mengenal kita. Jangan pula kita habiskan uang tabungan kita untuk pacaran. Tapi belanjakanlah untuk hal yang bermanfaat. Bagi yang bercita-cita menjadi pengusaha, gunakanlah tabungan itu untuk modal bisnis kita. Tentunya bisnis tersebut pun yang sesuai dengan passion kita. Jangan juga kita habiskan tabungan kita untuk menonton film di bioskop bersama pacar. Lebih baik tabungan tersebut kita belikan untuk membeli buku dan mengikuti seminar-seminar yang bermanfaat bagi kita. Kita hidup hanya sebentar, jika kita tidak mendapat apa-apa selama hidup sungguh amatlah rugi diri kita.

So. Masih ada yang mau pacaran? Atau sudah adakah para lelaki pemberani di ujung sana yang berteriak lantang untuk katakan “tidak pada pacaran”?. Mereka berani berkata seperti itu karena semata-mata mereka takut pada Allah. Bukan karena ikut-ikutan trend. Dan lelaki pemberani seperti tiulah yang layak dijadikan pasangan bagi wanita soleha. Cintailah seseorang bukan karan rupa, harta, dan tahta. Tetapi cintailah dia karena engkau yakin dialah jodoh terbaik yang Allah pilihkan untukmu. Karena Allah kita dipertemukan dengannya, karena Allah pula kita dipisahkan dengannya. Jika kita benar-benar mampu untuk menikah, maka segerakanlah. Datangilah walinya, karena itulah sebaik-baiknya lelaki dan seberani-beraninya lelaki adalah yang datang menemui walinya untuk melamar anak perempuannya. Untuk menikah tidak cukup mampu secara finansial saja, tetapi mampu secara agama dan yang tidak kalah penting adalah mampu meyakinkan orangtua kita dan orangtua calon pasangan kita tentang tujuan kita. Jika kita bisa melakukannya, maka lengkaplah sudah kemampuan kita. ? Bagi yang belum mampu, mari pantaskan dahulu diri kita masing-masing untuk mendapatkan pasangan yang didambakan. Mudah-mudahan langkah kita menjadi pasukan berani putus, menjadi langkah yang diridhoiNYA. Putus bukan karena kita tidak sayang, tetapi justru karena kita sayang jika masing-masing dari kita terjerumus dalam dosa besar yang dibalut rasa manis dan kenikmatan yang sesaat hingga menyesatkan. Bukan berarti saya merasa paling suci dan paling benar. Tetapi saya mengajak kita semua menuju jalan yang benar yakni jalan yang diridhoiNYA. Karena sudah seharusnya kita sesama saudara seiman untuk saling mengingatkan dan menguatkan satu sama lain.

No comments