Header Ads

ad

Pelamunan atau Pelaminan? #1



Setiap yang hidup pasti akan diuji. Dan dalam setiap ujian tersebut kita akan dimintai pertanggungjawabannya. Hasil yang kita peroleh kelak adalah sebuah pilihan kita di masa lalu yang akan menjadi sebuah pertanggungjawaban di masa depan. Sudah kita ketahui, negeri kita sedang diintai dan diserang sistem kapitalis. Dimana sistem ini adalah ibu kandung dari hedonis. Kapitalis adalah sistem yang berlandaskan pada dasar untung dan rugi, bukan pada hala-haram. Jelas jika suatu pihak merasa mendapat untung meskipun apa yang dilakukannya diharamkan agama akan ia terima. Sistem ini mengubah paradigma kita tentang penilaian kepada seseorang. Orang yang memiliki harta banyak, mobil mewah, rumah megah, dan semuanya serba wah adalah yang paling dihormati. Tak peduli dia tidak berakhlak atau bahkan tidak intelek sekalipun.

Hal inilah yang sering menjadi bahan keluhan dari pengalaman saya pada mereka-mereka yang mau melaksakan sunah Rasul yaitu menikah. Tidak sedikit dari mereka yang takut untuk menikah muda. Bukan hanya pihak wanita yang takut dengan keputusan ini, melainkan orangtua dari si wanita tersebut pun merasa takut untuk melepas anak wanitanya kepada lelaki lain yang notabenenya calon suaminya. Saat harta menjadi tolak ukur segala-galanya, maka bersiap-siaplah kita dikejar-kejar lelah karena gengsi. Dari beberapa mereka ada yang berdalih belum siap untuk menikah karena belum bisa membahagiakan orangtuanya, belum memiliki rumah pribadi, belum sukses dalam dunia karirnya, belum memiliki pekerjaan, hingga belum menghajikan tetangganya. Hehehe. Begitu banyak segudang alasan yang mereka miliki. Memang, saya percaya tidak ada orangtua yang ingin melihat anaknya tidak bahagia. Jika kita belum bisa membahagiakan orangtua kita, dengan menikah bukankah kita bisa membahagiakannya? Karena secara tidak langsung mereka akan melihat kita bahagia bersama pasangan halal kita. Nah, jika ada yang belum berpikiran untuk menikah, sementara disisi lain belum bisa membahagiakan orangtua kita, lalu untuk apa kita pacaran? Bukannya membahagiakan orangtua, yang ada pacaran malah menjerumuskan orangtua kita pada hal yang bisa mendatangkan dosa bagi kita.

Bagi sebagian orang, pacaran sudah terlihat seperti lifestyle, yang jika kita tidak mengikuti atau melakukannya maka kita akan dianggap kuno, gak gaul, ketinggalan jaman, hari gene gak boleh pacaran? Cape deehhh. Jelas sudah bukan hedonis telah menghipnotis generasi muda untuk melakukan hal-hal yang bisa melalaikan kita pada kewajiban kita, yaitu beribadah. Bukan hanya dari lifestyle saja, hedonis pun telah dan sedang menghipnotis kita lewat tayangan televisi, fashion, dan kesenangan-kesenangan lain yang tidak bermanfaat dan tidak bersahabat bagi kita generasi muslim. Jika saya bertanya, apa sih pacaran itu? Kenapa sih mau pacaran? Apa sih manfaat pacaran? Sampai kapan sih akan dipacari? :D Dari sebagian mereka menjawab jika pacaran itu adalah proses mengenal. Proses mengenal apa? Ya apa lagi kalau bukan proses mengenal maksiat. Mulai dari rayuan gombal, berbalut janji palsu, bergandengan tangan, bermesraan di kegelapan malam, hingga berbuat lain-lain yang menyibukan tangan-tangan hinga jari-jemari. Kalau kita perhatikan, ada yang tahu kenapa dari setiap mereka yang pacaran menyukai tempat gelap? Tentu jawabannya bukan karena kebetulan belaka dong. Mereka menyukai tempat yang gelap karena mereka cenderung melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak ingin terlihat oleh orang. Ini ciyus loh. Lah maling saja kebanyakan beraksinya di malam hingga menjelang subuh kok. Kenapa? Ya karena mereka (maling) sedang melakukan aktivitas yang tidak ingin terlihat dan diketahui oleh orang lain.

Begitupun pacaran guys. Kemudian adalagi dari mereka yang menjawab kenapa mau pacaran? Jawabannya karena dia (doi) baik, ganteng mirip boyband korengan, so sweet kaya brad pitt, unyu-unyu kaya penyu, dan lain sebagainya. Kalau masalah ganteng itu kan relatif. Orang jelek pun akan merasa ganteng jika mereka sedang berkumpul dengan orang-orang yang lebih jelek darinya. Hehehe. Sudah-sudah jangan terlalu diributkan. Cantik dan tampan itu adalah titipan yang harus kita jaga. Jika kita diberi wajah rupawan, maka perilaku kita pun harus rupawan layaknya wajah kita. Nah, kalau wajah kita jelek, ya perilaku kita harus rupawan biar terbantu rupawan. Jangan sampai sudah mah berwajah jelek, perilakunya jelek pula. Yang rugi siapa? Kita sendiri kan? Memiliki wajah rupawan pun adalah beban tersendiri bagi kita, dimana kita harus bisa menyeimbangkan paras dengan intelektual. Jika saya bertanya pada Anda, mau pasangan yang CANTIK tapi BODOH atau PINTAR tapi JELEK? Tentu maunya yang PINTAR juga CANTIK kan? Dan saat saya tanya untuk apa sih pacaran dan sampai kapan akan dipacari mereka menjawab pacaran itu untuk menambah semangat belajar. Sementara sampai kapan dipacari terus, mereka menjawab sampai-sampai mereka sendiri pun tidak tahu sampai kapan. Jelas sudah pacaran itu tidak ada komitmen. Ketika bersama disayang, begitu bosan ditendang. Hehe. Sedangkan alasan lain jika pacaran adalah untuk menambah semangat adalah hal terlucu yang pernah saya dengar. Mau nambah semangat kok lewat pacaran. Yang ada galau karena diputusin, pelajaran jadi ancur, nilai jeblok, absensi sering bolos karena pelampiasan. Kalau benar pacaran bisa membuat dan menambah semangat belajar, prestasi terbaik apa yang pernah ditorehkan selama pacaran? Apakah kalian pernah juara kelas sewaktu TK atau SD? Jika pernah, apakah saat itu kalian sudah pacaran? Lalu dimana letak penambah semangatnya. Jika dulu saja waktu SD kalian bisa berprestasi di sekolah tanpa harus pacaran kan?

No comments