Header Ads

ad

Opini Tidak Selalu Benar



Diberikan akal untuk beripikir, rupanya tidak selalu dan tidak selamanya manusia gunakan. Terlepas dari keberadaan akal dalam diri manusia, terkadang seringkali mereka salah memposisikannya. Kadang mereka melakukan sesuatu tanpa mengikutsertakan akal hanya karena rasa yang tidak bisa mereka kendalikan. Saat akal terlupakan, mereka lebih sering mendekat pada hawa nafsu untuk dijadikan sahabat. Apa yang mereka perbuat seakan dibenarkan hawa nafsu, sekalipun yang dilakukan adalah hal salah.

Manusia adalah makhluk opini. Apa yang menjadi penilaiannya seluruhnya hampir karena opini yang bersifat relatif. Bisa jadi menurut mereka baik tetapi nyatanya buruk, atau sebalinya menurut mereka buruk padahal nyatanya baik bagi mereka. Dalam setiap perbuatan yang mereka lakukan pasti ada alasan dibaliknya. Dan alasan tersebut lahir dari opini yang mereka hasilkan. Namun opini tidak selalu benar karena sifatnya yang relatif. Karenanya mereka tidak bisa memberi label benar secara mutlak pada opini tersebut sebelum kita melakukan sesuatu, pastikan cek & ricek terlebih dahulu. Sesuatu yang bersifat relatif tidak bisa menjamin apakah itu baik atau buruk bagi mereka. Sebab ketika mereka melakukan sesuatu dan membuat peraturan atas dasar opini yang bersifat relatif, maka akan timbul kepentingan-kepentingan pribadi didalamnya.

Jangan jadikan opini menjadi dasar perbuatan kita, tapi jadikanlah opini sebagai refleksi perbuatan kita. Jika setiap orang memiliki penilaian berbeda terhadap sesuatu, maka layakkah hal tersebut dijadikan sebagai standar yang baku untuk setiap perbuatan kita? Seperti halnya negeri kita, yang peraturannya dibuat oleh manusia dan hasilnya pun hasil pemikiran manusia yang jelas-jelas relatif dan memiliki sudut pandang serta opini yang berbeda-beda dimasing-masing individunya. Maka sangat tidak heran jika banyak diantara aturan tersebut selalu ada kepentingan-kepentingan pribadi di dalamnya. Bisa kita lihat, tidak sedikit yang berteriak minta keadilan namun malah diadili. Minta kebebasan hak, tapi justru malah dihakimi. Minta kebebasan berekspresi dan berpendapat, tapi justru malah dihambat. Hal tersebut bukanlah sandiwara namun nyatanya memang penuh dengan sandiwara dari pelaku-pelakunya. Dan inilah lucunya negeri ini. Negeri yang penghuninya lebih mempercayai opini dibanding fakta. Lebih menghargai banyaknya jumlah kepala daripada isi kepala. Lebih mengutamakan ke-relatif-an daripada ke-arif-an. Namun opini tidaklah selalu salah, selama kita tidak mencernanya secara mentah-mentah.

Dan penjelasan diatas tersebut menjadi jawaban mengapa kita mudah dihasut, diadu-domba, dan diprovokasi. Jawabannya tidak lain, karena kita terlalu mudah percaya pada opini daripada fakta. Selain itu malasnya kita mencari fakta dari opini tersebut. Ditambah mayoritas dari kita lebih mementingkan judul berita daripada isinya. Walaupun judul berita tersebut lebih bersifat opini. Dan terakhir, parahnya kita sering menelan opini tersebut secara mentah-mentah, tidak menyaring dan mencernanya terlebih dahulu. Hal tersebutlah yang bisa menggoyahkan pemikiran kita. Bukan karena kita tidak memiliki pemikiran, namun karena kita tidak memikirkan apa yang seharusnya menjadi sebuah pemikiran. 

Jadilah pribadi cerdas dan berwawasan. Karena hanya orang-orang bodoh dan lemahlah, yang biasa mudah tersulut dan terprovokasi.

No comments