Dalam kesederhanaan ada ketenangan dan ketentraman. Kaya bukan untuk gaya dan miskin bukan untuk minder. Begitu pesan-pesan yang seri...

Super Dad



Dalam kesederhanaan ada ketenangan dan ketentraman. Kaya bukan untuk gaya dan miskin bukan untuk minder. Begitu pesan-pesan yang sering saya dengar hinga terus terngiang ditelinga ini. Pesan yang begitu singkat namun sarat akan makna. Tanpa bosan ia mengulang kata, tanpa letih ia melatih saya. Sosok yang selalu mengajarkan hingga mengingatkan diri ini pada kesederhanaan. Tidak banyak kata yang terlontar dari mulutnya, namun sekali terlontar akan mudah menyengat dalam hati ini. Dialah Ayah saya. Pribadi yang selalu menjadi komentator utama dalam hidup saya. Berpikir skeptis dan penuh dengan tanggungjawab. Baginya, tanggungjawab adalah nilai utama bagi seorang laki-laki. Karena sudah jelas hidup itu adalah tentang tanggungjawab. Apa yang kita lakukan selama kita hidup akan dimintai pertanggungjawabannya dihadapan Tuhan kelak, ketika kita telah mati. 

Selain berperan sebagai komentator, dia pun mampu berperan sebagai pendengar. Saat saya mengalami kebimbangan dan kehilangan arah, tanpa ragu dia bertukar pikiran meskipun terkadang pikiran kita tidak berjalan seiringan. Disaat saya lelah, dia selalu mengingatkan saya untuk tidak lengah. Sebuah didikan yang tegas namun penuh tanggungjawab. Hal yang sering dia ceritakan adalah tentang hidup mandiri, sederhana, dan sehat. Saat saya kecil, dia bercerita tentang masa kecilnya yang mungkin tidak dialami oleh saya saat ini. Hidup mandiri sudah dirasakan sejak dia kecil. Dan hal itulah yang diajarkan pada saya untuk bisa hidup mandiri. Mandiri disini bukan saja bisa menghasilkan pendapatan sendiri, melainkan bisa melakukan pekerjaan sendiri. Mulai dari cuci baju, setrika baju, beres-beres kamar, hingga yang lainnya. Bahkan untuk bisa mendapat uang jajan, tidak cukup untuk meminta kepada orangtuanya melainkan harus melakukan pekerjaan dahulu sebelum bisa menerima uang jajan tersebut. Saat dulu kakek saya mempunyai usaha cuci mobil, dan jika ayah saya ingin mendapatkan uang jajan tambahan, maka syarat yang harus ditempuhnya harus mencuci mobil terlebih dahulu. :D Sebuah hidup prihatin yang sering diceritakannya. Tidak hanya itu, untuk pergi ke sekolah saja dia dan teman-temannya harus mampu menyeberangi derasnya arus sungai yang bisa saja membahayakan nyawa mereka. Maka tidak heran jika dia jago berenang. 
“Sebagian dari rezki kita adalah milik mereka (kaum duafa). Jika nanti kalian telah memiliki penghasilan jangan lupa pada mereka, terutama sayangilah anak yatim”. Begitulah nasihat dia pada kita selaku anak-anaknya jika kita mendapatkan rezeki. “Kita itu harus hidup prihatin”. Kita beruntung bisa hidup berkecukupan dan sederhana, sedangkan diluar sana banyak yang nasibnya jauh lebih kekurangan dibanding kita. Jangan kalah semangat dengan mereka yang tidak memiliki fisik yang sempurna. Jangan menunggu diberi fisik yang tidak sempurna untuk bisa menyempurnakan hidup kita. Tapi sempurnakanlah hidup kita dengan fisik yang sempurna. Pada saat itu kami sedang menonton acara TV yang mengisahkan tentang pemuda difable, meski memiliki keterbatasan fisik tetapi disisi lain ia memiliki semangat hidup yang tinggi. Hidupnya tidak mau dijadikan untuk ladang mengemis, sekalipun raganya tidak sempurna. Dan ketika itu pula ayah saya berkata “Lihatlah, orang yang menyandang disabilitas pun tidak mau mengemis, bahkan dia pun mampu dan mau untuk beribadah”. Jangan sampai kita yang telah diberikan fisik sempurna ogah-ogahan dalam urusan ibadah. Apa mau kita bertukar peran seperti pemuda difable tadi? Tegas ayah saya. Ya, hal itulah yang bisa mengingatkan kita pada karunia Tuhan yang begitu banyak dan besar. Bersyukurlah jika kita memiliki fisik yang sempurna. Jangan jadikan kelebihan itu menjadi anugrah, karena bisa jadi itu adalah ujian bagi kita.
Selain hidup mandiri dan sederhana, dia pun menasehati saya untuk bisa hidup sehat. Kesehatan adalah asset yang tak ternilai harganya walau dengan nominal sebesar apapun. Sejak kecil saya dididik untuk berolahraga dan menjaga pola hidup sehat. Bukannya apa-apa, dia tidak bosan menasehati saya seperti itu karena dulunya dia adalah guru olahraga di sekolah dasar. Banyak diantara saudara-saudaranya yang sakit karena kurangnya memperhatikan gaya hidup sehat. Dan hal itu menjadi bahan contoh dia untuk mengingatkan dan mewanti-wanti saya untuk menjaga pola hidup sehat. Untuk urusan olahrga, tak perlu ditanyakan lagi, olahraga yang sering dilakukannya ditiap weekend adalah tenis dan bersepeda. Sebuah rutinitas yang padat jika saya melihatnya. Senin-Juma’t sibuk dengan pekerjaannya, Sabtu-Minggu sibuk dengan hobinya. Ya, seperti itulah agenda hariannya. ?
Dalam urusan-urusan tertentu dia selalu berusaha menjelaskan suatu permasalah dengan bukti dan kejelasannya. Tanpa adanya bukti dan kejelasan yang detail, saya jamin dia tidak akan percaya sepenuhnya. Memang seorang skeptis. Namun setelah adanya bukti dan testimoni dari orang-orang yang memang bisa dipercayainya barulah dia akan mempercayainya. Segala sesuatu itu ada ilmunya, dan kita perlu ilmunya sebelum kita mengerjakannya. Itulah hal yang mungkin dirasa bosan bagi saya, karena dia sering mengulang-ngulang nasehatnya. Hehehe. Namun meski begitu saya pun banyak belajar dari pengalaman hidupnya. Mencontoh dari setiap kelebihan yang dimiliki ayah saya dan belajar dari kekurangan yang ada pada dirinya. Satu hal sifat yang membuat saya salut adalah kesabarannya. Sudah tidak perlu diuji dan diragukan lagi, kesabaran ayah saya sudah terbuktikan sendiri. Terbukti dia dengan sabar merawat ibu saya yang kala itu sedang sakit dan menunggunya walau harus meninggalkan urusan pekerjaan untuk sementara. Jarak ratusan kilometer dengan waktu tempuh 3 jam dari rumah ke rumah sakit tempat ibu saya dirawat bukanlah halangan baginya. Saat itu saya dan ayah saya berbagi tugas menunggu ibu saya yang sedang sakit. Dari hari senin-kamis ayah saya yang jaga, jumat dia pulang untuk mengurusi urusan kantor, sabtunya harus berangkat lagi ke rumah sakit. Sementara saya membackup ayah saya disaat malam dan disaat dia pulang. Maka tak berlebihan ketika muncul film Habibie dan Ainun saya terenyuh dengan kisah yang hampir mirip dengan ayah saya. Kesabaran dan kecintaannya kepada ibu saya sudah jelas tidak terbantahkan. Walau kini ibu saya sudah dipanggil lebih awal oleh yang Maha Kuasa. You’re Superdad. And I love you so much ibu, you’re Supermom.
Saat ini ayah saya selain berperan menjadi seorang ayah juga berperan menjadi seorang ibu. Setiap pagi menyiapkan sarapan, dan sesekali saya membantu membereskan rumah. Terkadang saya mengkhawatirkan kondisi kesehatannya, namun dia berdalih sudah terbiasa melakukan hal tersebut sejak muda. Dibalik sosoknya yang tegas dan penuh tanggungjawab dia pun terkadang rewel untuk urusan keuangan. Dia sering mengingatkan pada kita selaku anak-anaknya untuk tidak menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak bermanfaat. Beli dan gunakanlah sesuatu sesuai fungsi dan kebutuhannya. Dan belilah sesuatu menggunakan ilmu, jika tidak memiliki ilmunya belilah dengan ditemani mereka yang telah berilmu. Begitulah komentarnya. Hehe. Intinya jika kita mau membeli mobil tetapi kita tidak memiliki pengetahuan tentang mobil, entah itu tidak tahu bagaimana cara memilih mobil yang bagus, dan lain sebagainya, maka belilah sambil ditemani mereka yang memiliki pengetahuan tentang mobil. 
Seperti yang saya bilang diawal, bahwa ayah saya bukan hanya menjadi komentator dalam hidup saya tetapi juga menjadi pendengar dalam setiap keluhan saya. Seperti dalam hal urusan pekerjaan ataupun untuk sekedar meminta pendapat darinya. Saat saya menceritakan urusan pekerjaan, karena pekerjaan tersebut tidak sesuai dengan minat dan bakat saya, dia pun tidak memaksakan apa yang dimaunya. Karena memang saya telah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri. Begitupun ketika saya memilih jurusan sekolah dan kuliah. Saat saya duduk di bangku SMA, saya memilih jurusan ilmu sosial. Orangtua saya menginginkan saya masuk jurusan ilmu sains. Namun sekali lagi, saya berusaha berunding dengan ayah saya jika jurusan tersebut adalah jurusan yang tidak sesuai dengan minat dan bakat saya. Jika hal itu dipaksakan, besar kemungkinan saya akan terseret dalam pelajaran-pelajaran yang saya tidak sukai. Dan diapun tidak bisa memaksa saya. Sebenarnya banyak hal yang harus kita syukuri dari kejadian-kejadian kecil yang kita alami. Seperti kisah saya tadi, memilih jurusan ilmu sosial bukannya tidak apa-apa, tetapi hikmahnya saya jadi menambah jumlah teman baru. Karena memang yang masuk kesana hanya beberapa dari yang pernah sekelas dengan saya. Begitupun dengan kuliah. Dalam angkatan saya, hanya saya yang kuliah disana dan mungkin dari kota saya pun hanya saya yang kuliah disana waktu angkatan saya. Segala sesuatu terjadi bukan karena tanpa ada alasan. Dan alasan tersebutlah yang harus kita cari, karena dari alasan tersebutlah kita bisa mengambil hikmahnya. 
Saya bukan dari  keluarga yang kaya raya. Saya tinggal bersama keluarga di komplek perumahan sederhana. Meskipun kecil, tapi sarat akan warna-warni kehidupan. Karena dari rumah yang kecil tersebutlah kita jadi intens bertemu dan bisa mengetahui apa yang sedang terjadi pada perasaan masing-masing anggota keluarga. Hampir semua apa yang saya miliki berasal dari orangtua saya. Motor yang saya tunggangi untuk kuliah dan bekerja tidak lain hanyalah inventaris dari orangtua saya. Meskipun motornya tidak sekencang dan segagah moto gp tapi dengan motor itulah saya diantar kemana-mana. Hehe. Mobil yang dimiliki ayah saya pun, berbanding jauh dengan mobil para anggota dewan yang menawan. Namun saya bersyukur, sekarang kami memiliki mobil karena yang dipunya kami dulu hanyalah motor vespa ayah saya yang sering mogok karena mungkin sudah terlalu tua. Hehe. Justru dengan mobil itulah kita jadi bisa berkumpul dan berlibur disaat kita berkumpul bersama. 
 Seperti itulah ayah saya. Meski bukan seorang publik figur tapi dia adalah figur bagi keluarganya. Meski dia bukan presiden, tetapi kebijakannya dirasa sangat bijak bagi kami. Meski bukan seorang tokoh masyarakat, tetapi dia adalah tokoh yang kokoh dalam keluarga kami. Dan meskipun bukan termasuk 10 orang yang berpengaruh di Indonesia, tapi peran dan tugasnya sangat berpengaruh dan memberi pengaruh kepada kita sebagai anak-anaknya. Terlalu banyak kisah yang  harus kita kasih dalam lembaran cerita. Setiap orang memiliki kisahnya masing-masing dan masing-masing dari mereka akan saling bertukar cerita untuk mengisahkan pengalaman hidupnya. Disanalah tugas kita sebagai pelengkap untuk mengisi kekosongan satu sama lainnya. Tidak ada alasan untuk kita tidak bersyukur. Karena sudah tidak terhitung nikmat yang Tuhan berikan untuk kita. Maka nikmat mana lagi yang akan kita palingkan dariNYA?

Misteri Dalam Raut Wajah
Misteri apa yang kau simpan dalam raut wajahmu yang menua?
Tak sedikit pun kau tampak letih 
Meski harus tertatih seorang diri tiada yang menemani
Tak sedikitpun kecemasan dalam sikapmu yang terlihat diri ini
Tak sedikitpun rasa sesal yang kau tunjukkan
Meski impian berjalan tak seirama

Mata ini terbiasa melihatmu seperti ini
Berjalan sendiri di kegelapan mencari titik terang
Benak ini akan selalu berpikir
Memikirkan nasibmu mencari titik terang
Jalan hidup akan terus ditempuh
Sampai diri merengkuh mimpi

Walau orangtua kita memiliki kesibukan yang tinggi, tapi tak sedikit pun mereka merasa letih dan menampakkan keletihannya. Terkadang mereka harus mendidik anaknya seorang diri tanpa rasa keluh. Bagi mereka penyesalan tiada berarti. Mereka akan selalu merindukan anaknya sampai kapanpun meski balasannya tak sesuai yang diharapkan. Disaat orang tua kita menasehati kita, dengan lantang kita menghardiknya. Suara keras kita tak membuat hati mereka keras. Dengan sabar dan penuh kasih mereka membimbing kita, mendampingi kita disaat kita mengalami kesulitan. Tapi terkadang balasan yang mereka terima seringkali tidak sebanding dengan apa yang dilakukannya. 

“Ya Allah, maafkanlah diri kami jika kami belum bisa membahagiakan mereka. Jika kami sering menyusahkan mereka. Sering membuat sakit hati mereka. Karena Engkau, kami dipertemukan dan karena Engkau pula kami dipisahkan. Jika ada sedikit kebaikan yang kami lakukan hari ini, maka jadikanlah sebagai ladang amal jariyah bagi mereka nanti”.

Maafkan aku ayahku, jika sampai detik ini anakmu ini belum bisa menjadi teladan yang baik untuk anak-anakmu yang lain. Jika sampai detik ini pula anakmu ini belum bisa menyemai impian-impian yang belum engkau wujudkan. Tidak ada kata yang mampu mengungkapkan sejuta alasan cinta untukmu. Bagaimanapun engkau selalu mendukung apa yang kami lakukan walau impian kami tidak bersinergi. Engkau mendukung kami lewat suara yang tak terdengar oleh kami maupun lewat do’a yang tak bersuara. Maafkan anakmu ini. Doa kami selalu terpanjat untukmu wahai ayahku……

0 komentar: