Apa arti sahabat menurut Anda? Apakah mereka termasuk ke dalam keluarga? Bagi segelintir orang, sahabat merupakan bagian dari keluarg...

Sahabat Itu Aset, Bukan Omzet



Apa arti sahabat menurut Anda? Apakah mereka termasuk ke dalam keluarga? Bagi segelintir orang, sahabat merupakan bagian dari keluarga. Mereka biasanya akan menjadi orang kedua setelah keluarga yang akan memperhatikan kita dan peduli pada kita. Saat sedih kita dihiburnya saat senang kita saling berbagi. Sahabat sejati rupanya adalah mereka yang selalu meningatkan kita disaat kita hilaf dan senang berbagi disaat kita mendapat kebahagiaan. Beragam karakter yang dimiliki masing-masing sahabat, menjadikannya sebuah keunikan tersendiri agar kita bisa saling menghargai dan melengkapi satu sama lain.

Apakah sahabat hanya dicari disaat kita butuh saja? Bagi sebagian orang ada yang mencari persahabatan melalui bisnis. Mereka ingin mengetahui pribadi calon sahabatnya melalui bermitra dalam bisnis. Hal itu sah saja selama tujuannya lurus. Terlepas dari itu semua tentunya kita harus lebih dulu mengenal bahkan mempelajari karakter sahabat kita. Jika kita berbisnis dengan sahabat kita misalnya, pastikan kita sudah mengetahui karakter dan kapasitasnya. Jangan sampai ketika ditengah jalan dalam berbisnis terjadi perbedaan visi dan misi yang mengakibatkan konflik diantara keduanya.

Perbedaan visi dan misi dalam berbisnis tersebut seharusnya direncanakan dan didiskusikan di awal sebelum pelaksaan. Jika dirasa ada yang tidak sesuai dan tidak sejalan, lebih baik kita mundur daripada dikemudian hari timbul perselisihan. Persilihan yang berujung putusnya tali silaturahim itu sendirilah yang sering kita khawatirkan. Contoh perbedaan visi dan misi tersebut misalnya, saat kita ingin fokus membangun merek dan pengembangan bisnis tetapi disisi lain sahabat kita menginginkan fokus pada omzet dan volume. Atau contoh lain, disaat kita ingin membuat perencanaan bisnis dan pembagian tugas sesuai kemampuan dan kapasitas yang dimiliki masing-masing, disisi lain sahabat kita ingin segalanya tersentralisasi. Intinya saat urusan teknikan ingin kita serahkan kepada ahlinya atau pada spesialisasinya, sahabat kita menginginkan segalanya menjadi serba bisa atau menjadi generalisasi. Harus diingat, sekarang zamannya menjadi spesialis. Sudah tidak zaman menjadi generalis. Orang-orang yang sukses adalah mereka yang menjadi spesialis di bidangnya. Adakah mereka yang sukses karena menjadi generalis? Jawabanya mungkin ada hanya saja sedikit sekali. Jangan mau jadi generalis. Begitupun multitasking. Jangan mau jadi multitasking, yang ujung-ujungnya hanya tahu sedikit tentang banyak hal. Multitasking sendiri tidak membuat diri kita berkembang dan fokus pada
kekuatan kita.

Dari perbedaan visi misi tersebut kita bisa belajar tentang pentingnya satu tujuan dalam berorganisasi. Untuk apa kita mengejar omzet semata jika kita harus mengorbankan persahabatan kita. Sebesar apapun omzet yang kita dapat, tidak akan pernah bisa untuk membeli seorang sahabat yang soleh. Omzet bisa dicari tetapi sahabat akan lebih sulit dicari. Karena mereka adalah aset kita bukan omzet. :)

0 komentar: