Header Ads

ad

Keluarga atau Karir?


Jika Anda dihadapkan dalam pilihan "lebih memilih mana, keluarga atau pekerjaan?" Mana yang akan Anda pilih? Hal tersebut memang bisa menjadi sebuah dilema besar bagi yang mengalaminya. Saya pun pernah mengalami dilema tersebut. Dan waktu saya dihadapkan pada pilihan tersebut, saya lebih memilih keluarga. Kenapa? Sebab kerjaan bisa kita cari, tetapi keluarga (khususnya orangtua kandung) tidak bisa kita cari. Dua pilihan tersebut memang membuat kita ragu. Tetapi jawaban yang saya pilih tadi bukanlah saran yang tepat bagi Anda. Sejatinya kedua pilihan tersebut harus berjalan beriringan. Dua pilihan tersebut ibarat makan dan minum. Dan kalau saya bertanya pada Anda, Anda lebih memilih mana? Makan tanpa minum atau minum tanpa makan? Tentu kita butuh keduanya agar hidup kita seimbang dan terlengkapi.

Dalam setiap pilihan pasti terdapat resiko dan dampak yang akan kita terima. Bisa jadi dampak dan resiko itu baik untuk kita, atau bahkan sebaliknya. Sejak era reformasi di negeri ini, disadari atau tidak hubungan antara perusahaan dengan karyawannya menjadi tidak seimbang. Posisi karyawan seolah-olah menjadi lemah. Dan salah satu penyebabnya adalah perusahaan lebih berpikir untuk mencari cara agar bisa menghemat pengeluarannya semaksimal mungkin. Tentunya hal ini terjadi bukan tanpa adanya alasan. Alasan tersebut terlahir karena perusahaan ingin tetap berjaya dan selamat dalam persaingan. Kita sebagai pimpinan perusahaan tentunya tidak boleh memandang remeh status karyawan. Karena bagaimanapun kita butuh jasa-jasa mereka. Tanpa mereka perusahaan kita pun tidak akan berjalan optimal. Berikanlah hak-hak mereka yang sepantasnya mereka terima. Selama mereka telah memenuhi kewajibannya, maka kewajiban kitalah untuk memenuhi hak-haknya.

Jika saja hak-hak mereka dipenuhi sesuai standarisasinya, maka bisa dipastikan kinerja mereka pun akan berangsur meningkat. Sebab mereka bisa fokus dengan kerjaan yang mereka kerjakan tanpa harus memikirkan nasib keluarganya. Ya. Wajar saja, sekarang ini apa-apanya sudah serba mahal. Yang membuatnya menjadi serba mahal apalagi kalau bukan nilai tukar rupiah yang anjlok menurun. Mereka para karyawan yang sudah berkeluarga khususnya, mungkin mereka menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Jika kebutuhan meningkat, sementara hak-haknya kurang terpenuhi bisa jadi hal itu akan menjadi penyebab tidak fokusnya mereka dalam bekerja. Streslah yang akan menimpa mereka. Sebenarnya penyebab utama stres adalah meningkatnya beban kerja, sedangkan skill dan hak-hak mereka tidak bertambah. Jika kita memiliki perusahaan, jangan hanya mengedepankan profit untuk perusahaan semata. Ingatlah, kita punya karyawan. Untuk apa kita kaya sendirian, sementara karyawan kita hidup dalam ketidaklayakkan. Perusahaan yang besar tidak takut kehilangan karyawannya. Dan orang-orang yang hebat, terlahir dari perusahaan besar. Sudah saatnya sekarang untuk sukses berjamaah. Karena mensukseskan orang lain jauh lebih sukses dan menyenangkan. Sudah tidak zaman sukses sendirian di zaman sekarang. Terakhir tingkatkan skill Anda, baik softskill maupun hardskill. Jadilah orang kreatif, atau Anda akan tertinggal dan menajdi follower abadi. :)

No comments