Semua orang pasti pernah mendengar pepatah "kebersihan itu adalah sebagian dari iman". Ada pula yang mengatakan "kebers...

Kebaikan Tanpa Jejak



Semua orang pasti pernah mendengar pepatah "kebersihan itu adalah sebagian dari iman". Ada pula yang mengatakan "kebersihan adalah pangkal kesehatan". Memang pepatah tersebut bukanlah sebuah petuah dan kata-kata belaka. Melainkan seruan agar kita mampu melaksanakan apa yang disampaikan pepatah tersebut. Bersih itu suci. Dalam islam, Allah menyukai hal-hal yang suci. Untuk masuk mesjid dan beribadah pun kita diwajibkan untuk menyucikan diri terlebih dahulu. Apa jadinya jika mereka yang berstatus muslim tetapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan perilaku seorang muslim sejati?

Bisa kita lihat, negera kita adalah negara berkembang. Namun meskipun demikian, pola konsumtifnya bisa dikatan tertinggi untuk ukuran asia. Disaat masih ada saudara-saudara kita yang kelaparan, kita masih berpikiran untuk memenuhi segala keinginan kita yang belum terpenuhi. Perilaku konsumtif itu tidak diimbangi dengan perilaku yang bijak. Banyak dari kita yang hanya bisa membeli, memakai, dan membuang. Hasilnya sampah pun berkeliaran dimana-mana. Untuk mengatasi dan mengelolanya saja, pemerintah belum mampu secara maksimal melakukannya. Pada akhirnya, sungai menjadi tempat sampah terakhir karena tidak mampunya tempat sampah menampung sampah yang kian hari kian menumpuk.

Entah sadar atau disengaja, masih banyak orang yang membuang sampah ke sungai. Beragam alasan mereka jadikan dalih. Mulai dari tidak tersedianya tempat sampah yang memadai, tidak mampu memilah sampah, dan banyak lagi alasan-alasan lainnya. Jujur, kesadaran dalam membuang sampah itu sendiri masih kurang. Entah apa yang menjadi penyebabnya. Apakah karena malas, kurangnya sosialisasi tentang pemilahan sampah, atau karena memang kebiasaan dari lingkungan sekitar. Kasus lain bisa kita lihat saat selesai shalat idul fitri atau idul adha. Apa yang ditinggalkan setelah selesainya shalat sunat tersebut? Apalagi kalau bukan koran yang berserakan. Entah karena mereka malas buang sampah, tidak ada tempat sampah untuk membuangnya, atau karena berpikiran akan ada petugas kebersihan sekitar yang akan membersihkannya. Menggelikan memang. Niat untuk melakukan hal baik, namun tidak meninggalkan kesan baik. Sama halnya dengan para pendemo. Mereka berteriak meneriakan dan menuntut bagi kebaikan dirinya. Tapi nyatanya mereka tidak sedikit pun meninggalkan jejak kebaikan. Hasilnya bisa kita tebak. Habis demo terbitlah sampah. :) Dan setelah demikian, siapa lagi yang akan membersihkan sisa-sisa sampah tersebut? Tidak lain adalah para petugas kebersihan.

Harusnya kita malu jika kita muslim namun perilaku kita sama sekali tidak mencerminkan pribadi seorang muslim sejati. Jika kita berteriak kebaikan maka sudah seharusnya kita pun meninggalkan kesan dan jejak kebaikan. Bagi saya sampah masyarakat bukan saja para koruptor atau premanisme saja. Tetapi mereka yang membuang sampah sembarangan pun bisa dikategorikan sebagai sampah masyarakat. Anda mau protes? Hehe. Pemerintah pun harus turut andil dalam mensosialisasikan pemilahan sampah secara meluas dan menyeluruh. Disamping itu tambah tempat sampah di tempat-tempat umum. Jika masih belum mampu, segera datangkan ahlinya atau setudi banding ke negara yang telah mampu mengolah sampahnya menjadi energi. Jangan hanya studi banding ke Yunani atau menonton bola di luar negeri saja. Jangna buang uang rakyat hanya untuk memenuhi kepuasan pribadi. Ingatlah tanggungjawab. Terakhir, apakah Anda akan menjadi follower sampah masyarakat, atau Anda ingin menjadi isnpirator bagi mereka?

0 komentar: