Kita pasti tahu tentang “hukum rimba”, dimana yang kuat pasti akan menang dan yang lemah pasti akan mati. Mereka-mereka yang kuat s...

Yang Mana Kekuatanmu?




Kita pasti tahu tentang “hukum rimba”, dimana yang kuat pasti akan menang dan yang lemah pasti akan mati. Mereka-mereka yang kuat secara fisik, garang, dan lihai berkelahi akan lebih ditakuti pada saat itu. Saat dimana kita mengenal zaman purba. Sejak saat itu hukum rimba mulai digunakan berseberangan dengan pemikiran logika. Karena memang konon pada masa itu manusia purba tidak mampu berpikir secara logika. Pada masa itu kekuatan fisik menjadi begitu dominan dalam menentukan siapa pemenang. Bagi mereka yang lemah fisiknya, nasib mereka akan tertindas dan mudah diperdaya mereka-mereka yang kuat secara fisik. Namun zaman purba telah berubah seiring perkembangan zaman. Zaman yang menganggap kekuatan fisik adalah yang utama kini berubah menjadi era dimana tahta adalah kekuatan yang utama. Mereka-mereka yang memiliki tahta seperti raja akan berkuasa dibanding mereka-mereka yang tidak memiliki tahta (rakyat jelata). Seakan setiap ucapan yang keluar dari mulut raja tersebut seperti sebuah firman Tuhan, siapa yang tidak menurutinya maka dilemahkanlah mereka. Pada zaman itu nasib seakan menjadi simbol kekuatan. Jika mereka terlahir dari garis keturunan raja, secara otomatis mereka langsung memiliki keuatan yang tidak dapat terbantahkan pada saat itu. Sebaliknya, jika mereka tidak terlahir dari garis keturunan raja, maka mereka dipastikan tidak memiliki kekuatan seperti yang dimiliki raja. Kekuatan raja bersifat absolut hingga sangat ditakuti rakyat. Kekuatan yang muncul dizaman ini tidak didapatkan melalui proses pembelajaran, melainkan melalui proses yang mutlak melalui garis keturunan.
Waktu terus memaksa zaman untuk berkembang hingga tibalah pada masa dimana uang menjadi super power bagi mereka yang memilikinya. Mereka-mereka yang merasa dan mengaku kaya akan dengan mudah meraih kekuasaan yang diharapkannya. Dengan uang mereka mendoktrin dirinya jika apa yang diinginkannya bisa terbeli dengan uang. Sebesar apapun nominalnya mereka akan menyanggupinya. Mereka yang beruang akan lebih mudah menaklukan lingkungan sekitarnya termasuk menaklukan mereka yang memiliki tahta sekaliber presiden. Tak peduli dari mana mereka berasal, sekalipun bukan berasal dari darah ningrat dan memiliki tahta yang tinggi, mereka bisa membeli kedudukan melalui uang yang dimilikinya bahkan menjadikan mereka yang bertahta sebagai kendalinya. Bagi mereka tahta bisa dicari lewat uang, tanpa mempedulikan harga mahal yang harus dibayarkannya.  Namun kini zaman telah berganti lagi, dimana kekuatan fisik, tahta, uang (harta) tidak lagi dijadikan patokan untuk mengukur kekuatan individu. Dan pada saat itu orang yang kuat tidak jaminan selamanya akan kuat, bahkan mereka bisa terkalahkan oleh mereka yang lemah. Bagaimana dengan orang kaya? Mereka pun akan kalah dan bisa kalah oleh mereka yang miskin. Dan mereka yang bertahta pun bisa tergeser oleh rakyat jelata. Pada saat itulah ilmu pengetahuan dijadikan tolak ukur untuk mengukur kekuatan individu. Karena dengan ilmu kita bisa menguasai dunia. Ilmu itu sendirilah yang akan menjaga kita. Mereka yang berilmu tak peduli mereka rakyat jelata, anak petani singkong, anak tukang bubur, ataupun yang lainnya, mereka bisa mendapatkan kesuksesan dari kekuatan yang dimilikinya yaitu ilmu. Tidak harus pintar, karena orang pintar adalah mereka yang sering masuk angin. Hehehe. Berwawasan itu penting, karena dengan memiliki banyak wawasan kita akan dengan mudah disupport oleh lingkungan. Namun untuk memiliki ilmu yang tinggi tidak serta merta harus berpendidikan tinggi. Ilmu disekolahan memang penting, namun ilmu dikehidupan jauh lebih penting. Selayaknya pengetahuan itu harus berkembang, jangan berjalan ditempat. Sebab jika pengetahuan yang kita miliki berjalan ditempat, itu pertanda hidup kita tidak mendapat ujian.
Tidak sedikit dari kita yang berbicara atau beropini jika mereka yang kurang beruntung secara materi tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak seperti yang mereka harapkan. Namun modal utama untuk mencari dan mendapatkan ilmu tidak terletak pada uang. Banyak dari mereka-mereka yang beruang tapi tidak berilmu. Sementara mereka-mereka yang tidak beruang malah memiliki ilmu jauh lebih tinggi dari mereka yang beruang. Lalu apa kuncinya? Kunci utamanya adalah kemauan. Dengan kemauan kita bisa dengan mudah mendapatkan kemampuan. Zaman sekarang kita dapat dengan mudah mendapatkan informasi dan ilmu dari mana saja dan dari siapa saja. Jika kita memiliki uang yang cukup, belilah buku yang bermanfaat (yang berisi pengerahuan), jangan hanya membeli buku novel atau majalah dewasa saja! Jika kita memiliki akses internet, gunakan untuk browsing informasi dan membaca artikel-artikel pengetahuan. Jangan sampai internet yang sudah terkoneksi hanya dipakai untuk FB-an, buka situs XXX.com, atau hal lain yang tidak bermanfaat. Bahkan kita bisa mendapatkan pengetahuan dari koran bekas pembukungkus gorengan. Sekarang ini sudah banyak universitas-universitas dan sekolah tinggi lainnya. Begitupun yang mendaftar kesana, sudah tidak terhitung jumlahnya. Namun apakah hasil yang akan didapat saat mereka telah lulus menempuh pendidikan tinggi nanti? Sudah jaminan untuk mendapatkan pekerjaankah? Sedikit saya beropini, tidak sedikit dari kita yang berijazah namun mereka tidak memiliki bakat. Tetapi sebaliknya mereka yang berbakat tidak memiliki ijazah. Anda mau pilih yang mana? Kita pasti tahu pasti tahu Christiano Ronaldo atau Lionel Messi. Loh, kok contohnya CR7 atau Messi terus? Jangan-jangan penulisnya pecinta Real Madrid dan Barcelona. Heheh. Bukan… Bukan itu maksud saya. Saya memilih keduanya karena memang mereka berdua adalah pemain paling fenomenal di era persepakbolaan kali ini. Keduanya adalah pemain sepakbola berbakat. Tetapi, apakah mereka memiliki ijazah sepakbola? Mungkin sebagian dari kita juga mengenal om Bob Sadino, pengusaha sukses yang hanya lulusan SD. Banyak kasus seperti di atas, dimana mereka yang berbakat hamper seluruhnya tidak berijazah. Sementara mereka yang berijazah hanya sebagain darinya yang berbakat. Hal ini bukan berarti kita tidak boleh sekolah setinggi-mungkin. Karena jika kita sekolah setinggi-tingginya, akan dikhawatirkan untuk loncat dari sekolah tersebut jika kita stress menyusun tugas akhir. Hehe. Saran saya kuasailah ilmu yang kita kuasai. Jadilah spesialis, jangan mau menjadi generalis. Seperti pembahasan diawal buku ini, dunia ini hanya mengenal mereka-mereka yang istimewa. Jadilah yang istimewa atau Anda akan ditinggalkan zaman. Pastikan sekarang Anda telah memiliki kekuatan. Dan yang mana pilihan Anda, itu tergantung dari pilihan Anda sendiri. Sejatinya kesuksesan itu adalah hak semua orang tetapi milik mereka yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Karena memang kesuksesan itu tidak cukup dengan menunggu keberuntungan yang datang pada diri kita. Saya yakin Anda dalam waktu dekat PASTI AKAN sukses. Dan buktikanlah jika Anda memang bisa dan pantas untuk sukses!

0 komentar: