18.30 WIB di ruang keluarga. Saat semua orang berhenti beraktivitas dan saat saya baru tiba di rumah, langkah saya terhenti sejenak k...

Si Miskin Yang Tidak Boleh Sakit


18.30 WIB di ruang keluarga.
Saat semua orang berhenti beraktivitas dan saat saya baru tiba di rumah, langkah saya terhenti sejenak ketika memasuki ruang keluarga. Hal yang membuat langkah saya terhenti adalah pemberitaan tentang "Si Miskin Yang Tidak Boleh Sakit". Sejenak mata ini tertuju pada pemberitaan tersebut. Sekilas tidak ada yang salah dengan topik berita tersebut karena hal ini tidaklah terlalu sensitif untuk dibahas. Dan hal ini adalah fakta yang terberitakan.

Sudah seharusnya kewajiban negara adalah memberikan kesejahteraan bagi warga negaranya. Siapa pun itu, tak peduli mereka miskin atau bukan dari kalangan bangsawan, mereka memiliki hak untuk kesejahteraan. Namun kini, sudah seberapa sering kita mendengar orang-orang yang miskin (secara materi) mengeluhkan tentang mahalnya biaya kesehatan, ditolak berbagai rumah sakit, hingga dibiarkan begitu saja tanpa dilakukan penanganan medis. Seolah mereka dilarang untuk sakit. Ketika mereka sakit, yang mereka butuhkan bukan hanya ucapan kata "sabar, semoga cepat sembuh", "semoga sakitnya bisa menebus dosa-dosanya" atau bahkan kata-kata klise lainnya. Yang mereka lebih utamakan dan terpikirkan adalah tentang biaya administrasi ketika mereka telah selesai berobat.

Sebegitu mahalnyakah biaya kesehatan di negeri ini? Apakah orientasi para rumah sakit dan tim medisnya hanya tertuju pada uang, uang, dan uang? Tidaklah berlebihan jika saya berasumsi jika masyarakat kita sekarang lebih banyak memilih melakukan yang bisa menguntungkan dirinya, tanpa mempedulikan dampak kerugian yang akan dialami oleh orang lain. Apa yang mereka lakukan selagi mendatangkan manfaat, meskipun haram dan merugikan orang lain, akan mereka lakukan. Ngeri sodara. :D Mahalnya biaya kesehatan inilah yang membuat warga miskin menjadi malas untuk berobat secara medis (phobia), dan lebih memilih pengobatan tradisional ataupun perawatan seadanya. Meskipun tidak akan memberikan dampak yang signifikan bagi kesembuhannya.

Jika dikategorikan pilihan, mungkin mereka tidak menginginkan pilihan tersebut. Namun inilah kedzaliman pemerintah dan keterpaksaan karena  tidak adanya power untuk mendapatkan hak mereka. Bersabar dan terus bersabar mereka lakukan. Dan kekuatan mereka ada pada bersabar. Namun kini, penguasa-penguasa di negeri ini sudah banyak yang menutup telinga untuk mendengar keluhan rakyat. Seakan masuk telinga kiri dan keluar telinga kanan. Mudah-mudahan kita tidak diberikan sifat yang dzalim seperti itu. Dan semoga kita bisa menjadi manusia bermanfaat bagi orang lain.

"Berbagilah jika engkau merasa kaya, dan merasa kayalah karena engkau mampu berbagi" :)

0 komentar: