Menunjuk pemimpin yang adil di zaman sekarang memang sangatlah sulit. Jika saat ini saja sulit mendapatkan pemimpin yang adil karena ru...

Generasi Penggerus


Menunjuk pemimpin yang adil di zaman sekarang memang sangatlah sulit. Jika saat ini saja sulit mendapatkan pemimpin yang adil karena rusaknya integritas diantara pemimpin dan rakyat, bagaimana nanti? Jelas saja. Generasi yang seharusnya menjadi generasi penerus kini seakan menjadi generasi penggerus bangsa. Generasi penggerus bangsa yang mudah terprovokasi, terpancing, dan tersulut emosinya hanya karena hal sepele. Generasi penggerus yang hanya bangga dengan kekuatan otot, menganut hukum rimba, dan hanya berani ketika sedang berkelompok. Moral seakan diobral murah. Nilai-nilai agama bak hilang ditelan ajakan sesat. Saat nyawa dipermainkan, jelas sudah nurani telah tertutup oleh kawanan hitam.

Tak bisa terbayangkan bagaimana perasaan orangtua dari mereka yang berkumpul dengan kawanan hitam. Rasa lelah dan letih mereka (orangtua) korbankan untuk membiayai dan mencukupi biaya pendidikan mereka. Namun apa hasilnya? Niatan untuk menuntut ilmu pun tidak mereka hiraukan. Orangtua dari mereka memiliki niatan yang sama, yaitu menjadikan anak-anaknya menjadi manusia cerdas berpendidikan tinggi dan bisa mengangkat derajat keluarganya. Namun kenyataan diluar sana mereka seakan tak mempedulikannya. Memang tidak semua pelajar seperti yang terberitakan. Namun karena ulah mereka, para pelajar yang memiliki niatan yang sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu menjadi tercoreng citranya hanya karena ulah segelintir teman-temannya yang tidak berpendidikan.

Mereka dididik, mereka berpendidikan tapi perilaku mereka sama sekali tidak berpendidikan. Mereka berpendidikan tinggi tapi moral mereka lebih rendah dari mereka yang tidak berpendidikan. Ketika kekuatan otot adalah segalanya bagi mereka, maka kekuasaan pun tak luput dari incaran mereka. Kekuasaan bak air di tengah padang pasir, dan mereka-merekalah yang sedang merasa kehausan akan kekuasaan yang tak berwawasan. Mereka-merekalah yang nantinya hanya bisa menjadi follower, bukan pemimpin. Bagaimana mungkin bisa memimpin orang lain, sementara memimpin diri sendiri saja belum becus. Perbaiki moral diri, tak perlu menyalahkan dan menuding kanan-kiri. Bercerminlah dari apa yang pernah kita lakukan. Ingatlah orangtua yang tiada henti mendukung kita dalam menggapai impian. Bahagiakanlah mereka dengan prestasi, bukan dengan sensasi atau bahkan kriminalisasi. Hanya mereka yang bodoh yang mudah terprovokasi oleh tindakan destruktif yang jelas merugikan semua pihak. Ingatlah! orang yang selalu mengandalkan kekuatan otot akan selamanya menjadi bawahan dan follower!

0 komentar: