Header Ads

ad

Pintar Tak Harus Sempurna

 
 
Berbicara soal pintar, hampir semua orang menginginkan predikat pintar. Entah itu dalam bidang akademis maupun non akademis. Hal itu mengingatkan saya pada masa-masa saya sekolah, baik itu di tingkat SD, SMP, hingga SMA. Suatu ketika ada diantara murid-murid yang unggul dalam bidang akademisnya. Dan hal itu tentu saja mengundang perhatian dari siswa hingga guru, sehingga semua perhatian terpusat kepadanya. Saat itu pun saya bertanya pada diri sendiri sambil mengernyitkan dahi "apa yang bisa membuat dia pintar?". Hampir semua orang menjawab "Ingin pintar? Ya belajar. Bukan minum tongak angin". Hahaha. Jawaban tersebut semakin membuat saya penasaran. Untuk belajar rasanya saya tidak terlalu mengabaikannya. Walau dalam belajarnya saya cenderung memilih-milih pelajaran tertentu saja.

Namun diantara itu semua, yang membuat saya semakin bertanya-tanya adalah ada seorang siswa yang unggul tidak hanya dalam satu pelajaran, melainkan hampir semua pelajaran teori dia kuasi. Hingga suatu saat saya mencari-cari kelemahan-kelemahan orang pintar tersebut. Dan ah....... Akhirnya dengan pemikiran panjang hehehe saya menemukan kelemahan-kelemahan mereka. Dan lagi-lagi saya bertanya pada diri sendiri. Apakah mereka hanya kuat dalam pelajaran-pelajaran teori saja? Hal itu terbuktikan. Rata-rata dari mereka yang jago hitungan, sains, dan ilmu-ilmu teori lainnya, lemah dalam hal praktek. Kebanyakan dari mereka yang kuat ilmu teorinya, mereka lemah dalam olahraga dan seni. Tentunya hal ini pun membuat saya bertanya-tanya "Mengapa bisa begitu?". Jawabannya "Karena bisa begini". Hehehe

Sudahlah. Kita kesampingkan dulu uraian tadi. Sekarang saya akan bahas mengenai murid yang lemah dalam satu mata pelajaran. Kita misalkan matematika. Sudah bukan menjadi rahasia umum pelajaran tersebut menjadi momok dan mata pelajaran yang paling banyak tidak disukai. Setiap murid telah dikarunia bakat-bakat hebat yang belum terasah. Dan dalam diri mereka masing-masing, tidaklah sama pemikirannya dengan yang lainnya. Ada yang mudah dalam menyerap pelajaran dan ada yang sulit dalam menyerap pelajaran. Tapi pada kenyataannya. Ketika anak tidak suka pelajaran matematika dan tidak bisa mencernanya dengan baik & cepat, banyak dari kita malah mencekokinnya. Mulai dari guru yang memarahi anak didiknya yang terbilang lemah dalam pelajaran tersebut. Hingga orangtua yang mengharuskan anak mengikuti kursus matematika, dimana anak tersebut tidak menyukai dan menguasainya.

Terlepas dari itu semua. Bukankah lebih baik kita mengasah apa yang kita kuasai dan sukai, daripada mengasah apa yang kita benci dan tidak kita kuasai? Memaksa anak mengikuti apa yang ia tidak sukai adalah hal yang membuang-buang bakat anak. Perlu digaris bawahi bahwa pintar itu tidak selalu harus menguasai semua bidang ilmu. Karena setiap anak pastinya diberi kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Yang harus kita asah adalah kelebihannya itu. Dan kekurangannya biarlah jadi pembelajaran. Karena lebih baik tahu banyak tentang hal kecil, daripada tahu sedikit tentang banyak hal. 
 
Mudah-mudahan ketikkan yang acak-acakan ini bisa bermanfaat.


1 comment:

  1. harus kubaca berulang-ulang untuk memahami kalimat ini "lebih baik tahu banyak tentang hal kecil, daripada tahu sedikit tentang banyak hal".

    ReplyDelete