Pagi itu aku harus terbangun dari biasanya. Rasa dingin yang menusuk kulit telah terkalahkan niat. Menggigil adalah hal yang biasa dira...

Minder = Tidak Bersyukur


Pagi itu aku harus terbangun dari biasanya. Rasa dingin yang menusuk kulit telah terkalahkan niat. Menggigil adalah hal yang biasa dirasakan saat berada disini. Pada saat itu ketakutan telah terkalahkan niat yang kuat. Entah apa yang membuatnya semakin berani. Namun satu motivasi yang menguatkanku, yaitu "berpikirlah positif pada diri sendiri dan orang lain". Saat itu yang terbayangkan adalah bertemu dengan pribadi-pribadi baru yang belum pernah terbayangkan sebelumnya dan belum pernah mengenal karakternya. Bermacam karakter bersatu pada saat itu, tak mengenal gender dan status sosial. Meski diantaranya ada beberapa yang pernah dan sedang menduduki status sosial yang tinggi.

Berbeda dengan aku yang dulu. Yang sering merasa seperti seekor teri di lautan luas, untuk beberapa waktu ini telah bertekad tidak akan merasa kecil diantara mereka yang besar. Bukan besar badannya tentunya. Yang terlintas dalam benak saat itu adalah mempelajari karakter baru dan berusaha berpikir positif pada orang lain. Tak peduli apakah orang lain itu akan bertindak baik atau berpikiran positif pada kita ataupun tidak. Satu hal yang terpikirkan saat itu hanyalah, mencoba berperilaku dan berpikir positif apapun balasannya. Diluar itu kita pun harus sadar akan keberadaan kita. Ketika kita memasuki zona diluar kita yang mungkin diatas kita. Kita harus sadar akan posisi dan tujuan kita disana. Namun bukan berarti kita merasa minder, dan merasa underestimate pada diri sendiri. Hal tersebutlah yang akan membuat kita terpuruk dan cenderung berpikiran negatif.

Tidak ada alasan malu pada mereka yang lebih tinggi status sosialnya dibanding kita. Toh, mereka sama-sama manusia seperti kita. Justru hal tersebutlah yang harus membuat kita termotivasi agar kita bisa menyamainya atau bahkan melebihinya tanpa berharap menyombongkan apa yang kita capai nanti. Merasa minder seperti diatas sama halnya dengan tidak mensyukuri karunia Allah yang telah diberikanNya pada kita. Saat kita membuka mata, hati, dan telinga untuk bersyukur, saat itu juga kita telah belajar dari kehidupan. Baik kehidupan diri sendiri maupun orang lain. hanya orang-orang bodoh yang tidak mau belajar. Jangan malu pada mereka yang telah memiliki apa-apa. Tapi malulah pada diri sendiri ketika kita tidak bisa berbuat apa-apa.

0 komentar: