Header Ads

ad

Kesabaran Yang Terus Diuji


Alhamdulillah. Tahun ini saya bersyukur masih bisa berkumpul dengan keluarga, meskipun sekarang tidak lagi komplit setelah wanita luar biasa dalam hidupku terlebih dahulu dipanggil sang Khalik. Dan bersyukur karena masih bisa berkumpul dengan teman-teman seperjuang yang juga sahabat-sahabat luar biasa, unik dan limited edition. :D Waktu terus berjalan dalam kepastian. Walau kita tunggu, kita akan tertinggal. Kini waktu bergulir mengingatkanku pada berkurangnya usia. Harus disyukuri, tidak semua orang sampai pada usia saat ini. Berbagai rasa dan ujian kehidupan pernah dialami. Pahit, manis, berat, ringan, telah menjadi pelajaran yang tidak bisa kita dapatkan dengan cuma-cuma. Waktu, tenaga, biaya, bahkan nyawa menjadi taruhannya dalam mengatasi ujian hidup yang silih berganti. Semakin kita menyelesaikannya, bergantilah ujian tersebut.

Ujian yang paling sering dialami ketika itu hingga sekarang adalah ujian kesabaran. Diawali kesabaran dalam menuntaskan perkuliahan yang sempat dihinggapi rasa pesimis untuk lulus pada bulan yang ditentukan. Namun terima kasih atas support rekan-rekan seperjuang yang telah membantu dan mau membagi ilmunya. Kesabaran yang harus dijalani dengan penuh kesabaran adalah ketika bidadari utamaku sakit. Dalam sakitnya dia memaksakan diri melihat masa-masa perpisahanku dengan kampus. Meski diri tak memaksanya. Tak banyak yang tahu perjuangannya menghadapi sakitnya. Selama beberapa waktu dalam kurun bulan menemaninya untuk kesembuhannya. Dilema dan dilema terus berganti bagai slide persentasi. Wajahku terlihat tenang namun pikiranku telah terpusat pada dilema yang telah memecah pikiranku. Meski diri terlihat tenang namun kebimbangan sedang mengacaukan pikiran. Berpikir dan terus berpikir mencari titik permasalahan dan solusi dalam pikiran.

Impian yang dimiliki kadang tidak sesuai harapan. Saat diri ini mulai lepas dari tuntutan akademik. Tmbulah dilema besar. Menemani dia atau mencari harapan hidup di luar tempat aku berteduh. Walau sulit dan itu pilihan, namun tidak ada larangan untuk melakukan keduanya. Waktu demi waktu aku tukarkan dengan segeggam harapan. Bukan asa yang menentang tapi yang memberi asa belum memberi. Saat itu yang terlintas dalam benak hanyalah menemani dan merawatnya. Sempat timbul doktrin "kerjaan bisa dicari, tapi orangtua tidak bisa dicari dan diganti". Seperti halnya perahu kertas yang mengikuti angin kemana ia berhembus, semua terlewati dengan masanya. Karena aku yakin, waktu yang tepat tidak akan datang dipercepat.

Saat dia telah tiada, diri ini tidak banyak mengurai air mata. Namun perasaan ini tak terlihat dan tak terasa bagi mereka. Diri ini terlihat tenang, namun batin ini merasakan kenangan. Saat kehilangan itulah terkadang kita merasakan penyesalan dan benar-benar mengetahui dan memahami arti dari kehilangan. Jikalau diri ini diberikan umur yang tidak terbatas sekalipun, kita tidak akan bisa membalas jasa-jasanya. Tidak banyak pikiran yang bersemayam dalam benak ini. Yang ada hanya pikiran positif dan pelajaran hidup akan tujuan hidup. Dari mana kita hidup, untuk apa kita hidup, dan mau kemana kita setelah hidup.

Waktu berjalan tanpa terasa meninggalkan semua kesedihan. Duka terhapus suka. Lara terhapus gembira. Meski terkadang luka membuat duka dan lara membuat derita. Namun itu semua hanya pikiran bawah sadar yang memperbudak logika dalam merasa. Semakin terasa harapan yang diharapkan belum terwujud. Alih-alih hanya bisa berpikir positif mengambil semua hikmah dari ujian ini. Kesabaran yang begitu besar meyakinkan diri ini akan kesetiaan. Kesetiaan akan janji-janji sang Khalik. Hari-hari yang terlewati tak sedikitpun dipergunakan untuk bercermin dalam bayangan. Sedikit termenung menyadari kelalaian-kelalaian yang pernah dan bahkan sering diperbuat. Kadang diri merasa tak adil pada DIA yang telah memberikan banyak nikmat namun diri tak menyadarinya. Janji-Mu kadang teringkari. Semakin sulit diri ini berpikir dalam hitamnya logika.

Dibalik rahasia hidup yang tak terlihat, selalu ada karunia-Nya yang tidak kita ketahui. Semua yang telah menjadi ketetapanNya adalah pemberian yang terbaik dariNya. Kekecewaan yang kita rasakan tidak ada nilainya dengan kebahagiaan yang telah DIA janjikan. Tak perlu bermuram durja, donkol, ataupun kesal saat impian itu belum terwujud. Tak perlu dijawab kenapa impian tersebut belum terwujud. Namun satu hal yang pasti. Berpikir positiflah dalam mengambil setiap hikmah dalam hidup ini. Kita memiliki akal yang terbatas. Walaupun kita makhluk sempurna, namun kesempurnaan kita takan bisa menandingi kesempurnaan milikNya. Kesempurnaan apa yang DIA ciptakan di langit dan di bumi dan seluruh alam semesta. Dialah Allah pemilik kehidupan yang kekal tak berakhir.


No comments