Setiap manusia terlahir diberi akal untuk berpikir. Namun tidak semua dari mereka menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan h...

Kalah Menang Jadi Pecundang


 


Setiap manusia terlahir diberi akal untuk berpikir. Namun tidak semua dari mereka menggunakannya untuk menyelesaikan persoalan hidup. Saat amarah bergejolak seakan marah adalah cara penyelesaian terbaik dari setiap persoalan hidup. Terselip rasa bangga dengan melampiaskannya pada mereka yang tak berdosa. Entah apa yang mereka cari. Mungkin pengakuan dari jiwa-jiwa lain akan kekuatan mereka. Kemarahan tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi kemarahan akan menghasilkan rasa malu ketika kita menyadarinya. Untuk apa kita membanggakan kekuatan jika kita tidak bertanggungjawab pada diri sendiri. 


Selama yang dianut hukum rimba dan selama yang didalamnya adalah manusia-manusia purba, negeri ini tidak akan bisa keluar dari keterpurukan. Mereka secara status berpendidikan, namun perilaku mereka tidak berpendidikan. Seakan orang yang berpendidikan tinggi belum tentu perilakunya berpendidikan. Miris memang. Disaat masih ada mereka-mereka yang memiliki semangat belajar namun minimnya fasilitas dan kendala ekonomi membatasinya. Tapi disisi lain ada yang dengan mudah diberikan fasilitas dan kemapanan ekonomi tapi dengan entengnya menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. 

Kaum terpelajar yang seharusnya bisa menjadi generasi penerus kini seakan menjadi generasi penggerus. Bukan lagi buku pelajaran dan alat tulis lainnnya yang mereka bawa. Tapi kini senjata tajam dan benda-benda tumpul lainnya tak luput dari bawaan mereka. Entah mereka mau menjadi montir, atau mungkin mau jadi tukang loak yang menjual benda-benda tersebut. Memang tidak semua kaum terpelajar seperti ini. Namun dengan pemberitaan diberbagai media, para kaum terpelajar yang benar pun akan  dicap sama seperti mereka. Begitupun institusi pendidikan yang akan menjadi cibiran dan mendapat raport merah dari berbagai kalangan. Hanya karena segelintir mereka yang tak berakal, semua yang disekitarnya akan dianggap sama seperti mereka.
 
Tawuran seakan menjadi trend karena memamerkan kekuatan ataupun kekuasaan. Saat bersama mereka berani dan merasa hebat namun saat sendiri tak ubahnya seperti pengecut. Kalah menang pasti jadi pecundang. Apakah mereka mau bertanya pada dirinya masing-masing tentang arti persahabatan yang sesungguhnya?  Apa artinya sahabat jika pada saat tawuran mereka sibuk memikirkan keselamatannya masing-masing. Untuk apa mereka sekolah sedangkan di luar sana masih banyak mereka yang tidak berkesempatan untuk sekolah. Dan untuk apa sekolah jika kita hanya main-main sedangkan orangtua dengan susah payah mencari biaya sekolah untuk kalian agar kalian bisa memiliki kehidupan yang lebih baik, baik dari segi ilmu maupun materi. Tanya diri, berkaca pada perilaku dan prestasi! Tak perlu menyalahkan siapa-siapa. Salahkanlah diri sendiri dan berani berubah menjadi lebih baik dan berguna dari kesalahan tersebut.

0 komentar: