Dalam suatu kompetisi pasti ada yang menang dan kalah. Dan hal itu sudah menjadi resiko dan konsekuensi dalam kompetisi. Namun sering...

Tanpa Mereka Kita Bukan Juara



Dalam suatu kompetisi pasti ada yang menang dan kalah. Dan hal itu sudah menjadi resiko dan konsekuensi dalam kompetisi. Namun seringkali kita dengan enteng menyebut mereka yang kalah atau yang peringkatnya (ranking) dibawah kita dengan sebutan bodoh. Mereka yang menang merasa dirinya paling pintar, tanpa memikirkan jika mereka mendapat kalah. Sebagai contoh, ketika kita mendapat ranking atau peringkat 1 sedangkan orang lain mendapat peringkat jauh dibawah kita bahkan juru kunci terkadang rasa sombong pun tumbuh dengan menganggap mereka yang peringkatnya berada dibawah kita itu bodoh. Padahal tanpa mereka kita pun tidak akan disebut juara ranking 1. Kita tidak akan menjadi juara peringkat 1 jika tanpa ada peringkat 2,3,4, dan seterusnya. Kecuali jika kita mengikuti kompetisi dimana pesertanya hanya kita sendiri otomatis kita akan mendapat peringkat 1.

Bukan soal bodoh dan pintar dalam mendapatkan sebuah peringkat. Tapi soal bagaimana kita menyerap ilmu, latihan, dan mengulang latihan secara berkala. Orang lain dan juri dalam suatu kompetisi tidak akan menilai dan menghitung bagaimana kita berlatih dan seberapa sering kita berlatih. Tapi yang menjadi penilaian mereka adalah bagaimana cara kita bertanding ketika berkompetisi. Mereka tidak peduli seberapa sering kita berlatih, karena yang diinginkan dari mereka adalah penampilan terbaik kita saat berkompetisi. Menang dan kalah bukanlah sebuah pilihan, melainkan takdir. Kita tidak bisa menentukan menang & kalah, yang hanya kita bisa lakukan adalah berusaha menampilkan penampilan kita yang terbaik.

So, jangan menganggap mereka yang peringkatnya dibawah kita dengan sebutan bodoh. Karena bisa jadi suatu saat nanti kita yang ada diperingkat bawah tersebut. Dan tanpa ada peringkat terbawah, kita tidak akan disebut peringkat atas. Hargai lawanmu dan kenali lawanmu.

Semoga bermanfaat

0 komentar: