Judul pada postingan kali ini sedikit menyinggung tentang dunia persepakbolaan. Setiap orang yang memiliki hobi bermain bola atau menon...

Menyalahkan Itu Mudah (Orang Yang Berdiam Diri Tidak Pernah Salah)



Judul pada postingan kali ini sedikit menyinggung tentang dunia persepakbolaan. Setiap orang yang memiliki hobi bermain bola atau menonton bola tentunya punya tim favoritnya masing-masing. Baik itu untuk sekedar menyalurkan hobi dan refreshing, hingga yang begitu fanatik mendukung tim favoritnya tersebut. Namun terkadang fanatik tersebut muncul terlalu berlebihan, hingga menimbulkan fanatisme kedaerahan. Ya, fanatisme kedaerahan dimana suporter tim A dilarang atau terkadang mendapat ancaman dari suporter B jika kedapatan memakai atribut tim A di kota dimana tim B bertempat. Dan fanatisme kedaerahan tersebutlah yang bisa memecah belah persatuan. Sebab seharusnya kita sesama bangsa harus saling menguatkan satu sama lain, bukan malah mudah terprovokasi oleh oknum-oknum yang ingin merusak persatuan itu. Terlepas dari itu semua, sepak bola memang seakan memiliki magnet tersendiri untuk menarik para suporternya untuk  berbuat yang terkadang melampaui batas.

Kita tinggalkan masalah fanatisme kedaerahan tersebut, dan sekarang kita bahas mengenai kekalahan ataupun kemenangan yang diraih tim favorit kita masing-masing. Pada dasarnya setiap tim dan suporternya selalu menginginkan kemenangan tanpa mengharapkan kekalahan. Kemenangan seolah menjadi harga mati bagi mereka (tim & suporter). Dan ketika tim favorit kita meraih kemenangan, muncul perasaan bangga & kagum pada tim tersebut. Namun disaat timnya mengalami kekalahan tidak sedikit dari mereka yang kecewa bahkan melampiaskan kekecewaannya dengan merusak fasilitas umum. 

Ketika tim favorit yang selalu dibangga-banggakan mendapati kekalahan secara beruntun, selalu muncul oknum-oknum yang merasa hebat dan berkuasa penuh akan mengatur & memerintah tim favoritnya tersebut. Disaat tim favoritnya kalah, oknum-oknum ini selalu menyalahkan pelatih, pemain, kepemimpinan wasit, ataupun perangkat pertandingan lainnya. Hal ini menunjukkan seolah mereka yang berdiam diri dalam artian lain mereka yang hanya bisa bersorak & berkomentar ini tidak pernah salah. Dan yang salah adalah mereka yang terlibat langsung dengan jalannya pertandingan (wasit, pemain, pelatih, dan perangkat pertandingan lain).

Dari hal di atas dapat disimpulkan bahwa menjadi suporter lebih mudah dibanding menjadi pemain. Untuk menjadi suporter hanya dibutuhkan suara untuk berteriak & berkomentar, namun untuk menjadi pemain dibutuhkan skill dan latihan untuk bisa menampilkan penampilan terbaiknya di arena. Terkadang kita dengan mudah menyalahkan si A, si B, atau si C tanpa mau bercermin pada diri sendiri. Memang benar, menyalahkan orang lain memang mudah kita lakukan, tetapi disalahkan orang lain tidak mudah kita terima.

Oleh karena itu, sebelum kita menyalahkan orang lain, lihatlah diri kita. Apakah diri kita sudah benar-benar benar? Atau masih harus ada yang diperbaiki? Janganlah menjadi seorang pengumpat & pecundang yang hanya bisa menyalahkan orang lain tanpa bisa berpikir jernih. Sebab pemenang selalu mencari solusi, sedangkan pecundang selalu mencari-caari alasan. Satu pesan dari saya, jika kalian menyukai (hobi) olahraga, sudah selayaknya kalian memiliki jiwa sportif dan menjunjung tinggi sportivitas! :)

Semoga bermanfaat

0 komentar: