Header Ads

ad

Harus Mewahkah Pernikahan?

MENIKAH adalah keputusan yang besar dalam hidup kita. Ini adalah pilihan yang tidak main-main. Memilih seorang pasangan yang dengannya kita akan membangun sebuah keluarga, menurunkan keturunan dan hidup bersama dalam segenap suasana bukanlah persoalan yang hanya untuk satu dua tahun saja, melainkan untuk sepanjang tahun. Untuk jangka waktu yang selama-lamanya. Bahkan bukan hanya di dunia, tapi juga untuk hidup di akhirat. Demikianlah, kita perlu mempertimbangkan dengan seksama dan matang perihal ini.

Ketika kita benar-benar telah memilih pasangan, maka saat itu juga kita telah memutuskan untuk hidup bersama dengan seorang yang asing, meninggalkan orang tua dan keluarga kita yang selama ini telah membersamai dengan segenap kehangatannya. Pilihan untuk hidup bersama pasangan ini sungguh-sungguh mustahil kecuali jika kita benar-benar merasa yakin bahwa kebahagiaan bersama ibu bapak dapat juga kita raih dengan hidup bersama pasangan. Pilihan untuk hidup bersama ini sungguh-sungguh mustahil kecuali jika kita yakin bahwa pasangan akan menjadi pembela dan pelindung sebagaimana saudara laki-laki dan saudara perempuan melindungi kita. Semua ini butuh keyakinan kuat dari hati.
Namun, perlukah kita bermewah-mewahan dalam pesta pernikahan? 
Kebanyakan mereka yang menikah mengadakan resepsi pernikahan yang megah dan mewah bahkan menelan biaya yang sangat besar. Apakah semua itu bisa menjamin hidup bahagia? 

Perlu disadari bahwa menikah adalah langkah awal dalam menjalin rumah tangga, dan setelahnya kita harus menentukan langkah ke depan dalam berumah tangga nanti bersama pasangan kita. Bermewah-mewahan dan bermegah-megahan tidak ada artinya jika kita terlibat banyak utang hanya untuk biaya resepsi. Banyaknya harta pun tidak menjamin bisa hidup bahagia. Karena lebih baik memiliki rezeki yang sedikit tapi berkecukupan, daripada memiliki banyak rezeki tetapi serba kekurangan. :)

2152-1: Shahih, Dari Abu Hurairoh Radhialloohu 'Anhu bahwasanya ia pernah berkata,

“Seburuk- buruk makanan adalah makanan pesta pernikahan yang diundang kepadanya hanya orang- orang kaya, dan orang- orang miskin diabaikan. Dan barangsiapa yang tidak mendatangi undangan, maka sesungguhnya ia telah mendurhakai Alloh dan Rasul- Nya”.

Diriwayatkan oleh al- Bukhori, Muslim, Abu Dawud, an- Nasa’i, dan Ibnu Majah dengan sanad Mauquf pada Abu Hurairoh.

Dan Diriwayatkan oleh Muslim juga dengan sanad Marfu’ kepada Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wa Sallam,

“Seburuk- buruk makanan adalah makanan pesta pernikahan, orang yang seharusnya datang (orang miskin) dicegah (tidak diundang), sedangkan orang yang enggan (orang kaya) diundang kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak memenuhi undangan, maka sesungguhnya ia telah mendurhakai Alloh dan Rasul- Nya”.

(dari berbagai sumber)

No comments