Karena Sekarang Eranya SUPERTEAM, Bukan Lagi SUPERMAN. Sebab Superman is Dead. Inilah Alasan Kenapa Kamu Harus Punya Komunitas ya...

 
 
Karena Sekarang Eranya SUPERTEAM, Bukan Lagi SUPERMAN. Sebab Superman is Dead. Inilah Alasan Kenapa Kamu Harus Punya Komunitas yang Menudukung Minat, Biar Kamu Gak Ngerasa Sendirian.


Melakukan hal seorang diri memang terasa mudah dan terkesan indah. Seperti halnya bayaran penyanyi solo yang pastinya lebih besar dibanding grup. Tapi melakukan hal bersama-sama akan jauh menyenangkan dibanding individual. Seperti kata pepatah Afrika "Jika ingin pergi cepat, pergilah sendiri. Namun jika ingin pergi jauh, pergilah bersama-sama". 

Berjalan seorang diri memang terlihat cepat, karena tak perlu repot-repot memikirkan dan menunggu orang lain di perjalanan. Sebab fokusnya hanya pada diri sendiri. Sementara jika berjalan bersama-sama akan terkesan lama, karena harus saling tunggu sebab kemampuan berjalan masing-masingnya berbeda.

Namun yang pasti, perjalanan bersama-sama akan jauh lebih menyenangkan karena kebersamaan yang terlewati. Darinya akan bermunculan hal-hal atau ide-ide baru yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Sepertihalnya mencoba rute baru atau jalan pintas lain yang belum pernah terlewati. 

Sepertihalnya ketika kita diundang dalam pertemuan resmi. Dimana para tamu disana mengenakan jas lengkap. Sementara kita datang dengan kaos oblong, celana pendek, ditambah sendal jepit. Apa yang kita rasakan? Pastinya risih dan malu karena sendirian. Coba kalau semuanya mengenakan pakaian yang sama tadi. Pastinya tidak akan canggung dan akan mereasa PeDe.

Begitu juga dengan komunitas. Apapun minat kita, asalkan kita tergabung kedalamnya, tidak akan ada lagi rasa minder karena tidak ada yang dukung. Bagi yang minat olahraga, bisa mencari komunitasnya baik offline ataupun online. Sama halnya bagi mereka yang memiliki minat menulis. Bisa mencari dan bergabung dengan komunitas yang mendukung. Seperti NulisYuk. 

Banyak sekali manfaat yang akan kita dapat, jika bergabung dengan komunitas tadi.

1.Mendapatkan banyak teman yang satu minat, pastinya jauh mengasyikkan.
Ketika kita bertemua dengan orang yang satu visi dan satu tujuan dengan kita, bahasa kekiniannya "gue banget". Semangat untuk memperjuangkan mimpi akan jauh lebih besar. Dan segala kemustahilan lenyap seketika. Karena darinya kita bisa saling bertukar cerita, pengalaman, bahkan curhat. Terlebih jika mendapat teman yang asik, fun, dan gokil untuk diajak kolaborasi. Kesempatan emas banget dan mantap Jiwa deh!

2.Mendongkrak PeDe karena semangat kebersamaan.
Dengan bergabung komunitas, rasa percaya diri akan bertambah dari semula. Karena kita tidak akan sendirian saat menemui berbagai halang rintang. Berbeda dengan solo, setiap kendala harus dihadapi sendiri. Karena di dalam komunitas tadi, ada orang-orang yang bernasib sama seperti kita tapi mampu survive karena semangat kebersamaan.

3.Siapa tahu jodohmu ada disana. 
Namanya juga takdir. Siapa yang tahu dan gak ada yang nyangka. Bisa jadi pas kamu gabung dengan komunitas tadi, seperti NulisYuk misalnya malah mendapat jodoh. Bayangkan, seseorang yang sedang kamu nanti-nanti dan diimpikan ternyata tergabung dalam satu komunitas yang sama. Kamu tidak perlu lagi berdebat soal perbedaan minat dan visi. Karena sudah satu frekuensi dengannya. Menarik kan?

4.Tak perlu menunggu satu purnama. Yuk gabung sekarang.
Untuk kamu yang suka banget nulis dan ingin punya komunitasnya. Bisa gabung secara gratis dengan di NulisYuk.

Siapa tahu ketemu jodohnya. #oopss

Info lebih lanjut di:
FP: NulisYuk
IG: nulisyuk

Siapa yang tak kenal prada. Merek produk mode terkenal dari Italia, yang secara khusus memproduksi barang-barang mewah untuk pria d...





Siapa yang tak kenal prada. Merek produk mode terkenal dari Italia, yang secara khusus memproduksi barang-barang mewah untuk pria dan wanita. Mulai dari tas seharga iPhone 7, sandal seharga biaya catering nikahan, sampai dompet seharga milyaran. Bagi kalangan sosialita, merek satu ini sudah menjadi langganan tersendiri.

Baru-baru ini Prada memamerkan produk terbarunya berupa sekeping paper clip alias penjepit kertas di situs barneys.com. Dan yang membuat publik heboh, harga yang dibandrol adalah $185 atau setara kurang lebih Rp 2.4 Juta (Kurs Dolar Rp 13.252). Wow! Sebuah harga yang tak masuk diakal untuk penjepit kertas dengan ukuran panjang 6.25 cm dan lebar 2.25 cm.

Pastinya produk tadi tidaklahcocok bagi kita-kita yang gajinya tiga koma. Tanggal tiga sudah koma. Jangankan beli paper clip tadi, untuk bayar kostan, listrik yang tiap tahun naik, dan biaya hidup yang semakin hari semakin banyak saja sudah "engap-engapan". 

Dikabarkan paper clip yang terbuat dari perak murni tadi dipasarkan untuk menjepit uang kertas. Kita mungkin tak memerlukan penjepit uang. Karena yang tersisia di dompet tinggal satu lembar lagi. Atau bahkan berisi koin-koin hasil perjuangan membongkar celengan. 

Bagi sebagian orang, membeli barang dengan merek ternama menjadi sensasi tersendiri yang bisa mendongkrak citra diri. Meski ada beberapa dari mereka jika punya uang Rp 2.4 juta, lebih baik diinvestasikan. Dibanding dibelikan penjepit kertas tadi. Atau bagi para jomblo, kalapun punya uang Rp 2.4 juta. Daripada dibelikan si Prada tadi, lebih baik ditabung atau dibelikan mas kawin. Biar lebaran tahun depan gak bingung lagi menjawab pertanyaan "kapan kawin?". Lumayan kan dapat 4.5 gram emas batangan plus pasangan hidup. Gak masalah gak punya barang mahal. Asalkan punya wanita yang "nggak murahan" (soleha) untuk dinikahi. #Tssaah. Hati senang batin tenang.

Dibalik kekonyolan harga yang dibandrol tadi, ada pelajaran yang bisa kita petik. Yang membuat harga sebuah barang menjadi berkelas, bukan soal terbuat dari apa. Tapi tentang siapa penjualnya. Dalam hal ini Prada adalah sebuah brand besar dan berkelas yang mengutamakan nilai kemewahan. Ketika brand sudah berbicara, maka para pembeli tidak akan menggunakan lagi logikanya untuk membeli. Tapi sudah menggnakan emosinya. 

Seperti halnya sebuah produk, kita pun sebagai manusia memiliki brand. Brand adalah tentang apa yang orang lain bilang. Seandainya orang-orang sekitar menceritakan kebaikan dan keunggulan diri kita pada pasar (dalam hal ini calon mertua), pastinya akan mudah diterima sekalipun dari segi fisik kita tidaklah unggul dibanding yang lain. Bahasa kasarnya parasnya dimaafkan. Apalagi jika ditambah dengan deretan prestasi dan investasi. Hati calon mertua mana yang tidak akan terpesona. 

Terakhir jika kita disuruh menjelaskan atau menceritakan produk si Prada tadi. Kita tidak akan jauh-jauh bercerita tentang sisi kemewahannya. Yang kalau produk tersebut dipakai, akan menambah kegantengan atau keanggunan berkali-kali lipat. Sekalipun rupa kita seperti teletubies, tak seperti selebritis. Dan dalam hitungan singkat, kasta kita akan beralih dari sudra ke bangsawan.

Untuk membangun brand tadi tentunya butuh perenungan panjang, upaya konsisten, dan target yang jelas. Sama halnya ketika ingin mendapatkan pasangan hidup. Positioningnya harus jelas. Jika dia belum bisa kita miliki. Jadikan diri kita yang pantas untuk dimiliki. So. sudah ada jawaban dari pertanyaan "kapan nikah, mblo?" #ooppsssss





Suatu hari seorang teman (sebut saja Mawar) pernah bertanya: . "Gimana caranya biar dapat ide tulisan yang mudah dan gak bunt...




Suatu hari seorang teman (sebut saja Mawar) pernah bertanya:
.
"Gimana caranya biar dapat ide tulisan yang mudah dan gak buntu saat menulis?".
.
Sebuah pertanyaan yang hampir semua dari kita pernah bertanya hal sama karena pernah mengalami. Kita dimasa depan akan ditentukan oleh kebiasaan kita hari ini. Sama halnya dengan menulis. Bagi mereka yang telah terbiasa menulis tentu tidak sesulit pada saat pertama kali menulis. Dari mulai memikirkan dan mengumpulkan ide, sampai tulisan tadi sampai pada pembaca. Semuanya bisa terlewati dengan mudah karena telah menjadi kebiasaan. Seolah polanya sudah tersusun. Tapi tidak bagi mereka yang tidak biasa menulis (penulis pemula) yang nulisnya kadang gimana angin berhembus (angin-anginan). It's ok. Tak perlu minder dengan status pemula. Sebab semua yang profesional pun berawal dari amatiran. 
.
Siapa yang sangka mereka yang terbiasa menulis bisa dengan mudah mendapatkan ide tulisannya? Kadang mereka pun mengalami masa-masa "mentok" atau "buntu" ide. Hanya saja mereka tidak menampakkan kebingungannya karena sudah tahu polanya. Nulis hapus, nulis hapus, sedikit-sedikit edit, sedikit-sedikit backspace adalah kondisi biasa, saat mengalami kebuntuan dalam menulis. 
.
Menulis mirip halnya dengan memasak. Ketika kita merasakan lapar stadium lanjut, reflek kita tertuju pada kulkas. Dengan harapan semoga ada makanan yang bisa langsung dimakan. Kalaupun tidak ada, setidaknya ada bahan-bahan yang bisa dimasak. Syukur-syukur isi kulkas komplit. Jika hanya ada telur dan mie instan (anak kost banget), hasil masakannya pastilah mie berserta telur tadi. Tidak mungkin jadi spaghetti, pizza, atau makanan berkelas lainnya. 
.
Bagaimana supaya bisa makan makanan berkelas dan bervariasi? Cara mudahnya sih beli aja. Kalau punya uang. Sama halnya dengan menulis. Gak bisa nulis dan ingin simple, tinggal bayar jasa ghost writer saja. Kalau dirasa belum punya budgetnya, cara yang rasional adalah dengan belanja bahan baku untuk memasak. BANYAKIN BAHAN di kulkas. Begitu isi kulkas sudah penuh dan komplit, mau masak apapun jadi. Menulis pun seperti itu. Butuh bahan baku berupa bacaan-bacaan baru. Selanjutnya kalau bahan sudah komplit tapi tidak masak bagaimana? Belajar. Tidak perlu belajar langsung dengan chef berkelas seperti Chef Juna, Chef Marinka, atau Chef Gorbachef. Kecuali sekali lagi jika kita punya budget untuk belajar langsung dengannya. Alternatifnya bisa belajar dengan MENCONTEK caranya memasak. Bisa googling atau streaming youtube. Gagal dipercobaan pertama wajar. Gagal di percobaan kedua, ketiga, keseratus, barulah ada yang tidak wajar. Trial and error tadi memang menyita waktu, tenaga, bahkan menguras dompet. Berbeda jika belaja langsung dengan mentornya. Biaya trial and error tadi akan terpangkas.
.
Dengan hal tadi, jika konsisten dilakukan lama kelamaan akan menemukan polanya. Jangan pernah takut salah. Semakin sering mencoba dan mengkombinasikan ide yang dimiliki, maka kita akan menemukan cara kita sendiri. Sekalipun diawal kita mencontek orang.
.
Dan 3 modal agar kita tidak merasa buntu saat menulis adalah:
1.JAUHI MAKSIAT.
Ini penting. Maksiat seringkali menutupi bahkan menghapus kreativitas. Intinya jangan lakukan yang tidak disukaiNYA. Lakukan yang hanya DIA sukai dan diridhoi-NYA.
.
2.PERBANYAK BAHAN
Sama halnya memasak. Perbanyak bahan tulisan dengan membaca. Baca! Baca! Begitu dapat inspirasi, catat biar gak lupa sebagai bahan tulisan nanti. FYI, biasa saya mencatat ide-ide buat tulisan di evernote.
.
3.CONTEK SANG MENTOR
Perbanyak mencontek. Karena mencontek adalah cara termudah dalam belajar. Bedakan plagiat dengan mencontek. Mencontek tidak semuanya full copy paste tanpa menyertakan sumber. Tapi dengan menulis ulang, mengkombinasikannya, dan menambah sentuhan kreativitas yang dimiliki dengan bahasa dan gaya tulisan kita..
.
Itulah 3 modal yang biar gak mentok alias buntu saat menulis. Semoga bermanfaat. Selamat berbelanja dan mengumpulkan bahan baku.  
.
motivaksi.blogspot.com

Banyak hal untuk mengekspresikan (perasaan) diri. Salah satunya dengan menulis. Karena jika suara kita tidak didengar, tulisan kita a...



Banyak hal untuk mengekspresikan (perasaan) diri. Salah satunya dengan menulis. Karena jika suara kita tidak didengar, tulisan kita akan dibaca. 

Ada rasa kelegaan ketika aksara telah berbicara, lewat tulisan yang kita rangkai. Seperti orang yang baru buang angin, setelah berhari-hari menahannya. 

Menulis tidak hanya membutuhkan ide saja. Tapi juga apresiasi. Salah satunya dengan hadirnya pembaca. Kalau
pun belum ada yang baca, minimal diri kita yang jadi pembaca setianya. Kalau bukan kita yang pertama mengapresiasi, siapa lagi? 

Saat ini platform media sosial jadi alternatif menuangkan tulisan. Bukan lagi buku tulis atau diary, tapi facebook bahkan instagram sudah menggeser peran pendahulunya. Alasannya utamanya selain banyak penggunanya, tulisan yang tersimpan didalamnya tidak akan hilang selama tidak kita hapus, akun kita tidak diblok mereka, atau FB dan IG harus tutup usia seperti friendster.  Lain hal jika kita nulis di buku diary. Rentan hilang karena rusak. Bisa dibilang FB dan IG saat ini sudah jadi diary digital tersendiri. 

Dari sisi yang hobi nulis, tidak ada perbedaan cara menulis dari manual (tulisan tangan) ke digital. Hanya medianya saja yang berubah. Sementara dari sisi pembaca, ada sedikit perbedaan. Khususnya perbedaan karakter. Mereka yang terbiasa membaca buku atau karya tulis lain, adalah mereka-mereka yang sudah terbiasa dan benar-benar suka baca. Sekalipun bacaannya panjang dan harus berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk membacanya. Terlebih novel yang ribuan halaman. 

Lain halnya dengan para pembaca di dunia sosmed. Kebanyakan dari mereka bukanlah yang asli atau benar-benar suka baca. Mereka bukan pecinta baca sejati. Mereka hanya ingin membaca sesutau yang menarik dan menjadi trending topic saja. Dampaknya mereka jadi lebih cepat mengambil kesimpulan isi tulisan hanya dari judul atau tulisan diawal paragraf saja. Karena dengan begitu mereka merasa sudah memahami seluruh tulisan. 

Nah, biar tulisan kita bisa diterima pembaca sosmed (banyak yang baca). 4 Hal ini bisa dijadikan rumusan.

1.Menulislah dengan ikhlas dari hati. Bukan karena ingin menambah follower dan mendapat banyak likes.
Dengan begitu pikiran kita tidak akan mudah terbebani. Karena kita menulis benar-benar ingin berbagi saja. Bukan yang lain. Beda halnya jika kita mengejar jumlah follower atau likers. Begitu follower tidak bertambah dan jumlah like sedikit, kita jadi mudah stress karena beban pikiran.

2.Kuatkan judul.
Judul sepertihalnya kesan pertama saat kita menilai seseorang. Kalau kesan pertama sudah bagus, kesan berikutnya akan berlanjut.
Dalam hal ini kita bisa membuat judul yang nyentrik, fantastis, bombastis, menarik, memancing penasaran, bahkan kontroversi sekalipun. Tujuannya biar para pembaca mengklik tulisan kita dan mau membaca paragraf awal tulisan.

3.Rampingkan tulisan.
Bagaimanapun tulisan dengan bentuk paragraf panjang tidak akan enak ditangkap mata. Hanya membuat mata lelah. Jangan sampai terlihat ada paragraf yang panjang dan gemuk. Sesuaikan dengan nafas kita saja. 

4.Selipkan humor.
Kebayang kan kalau tulisan yang kita baca paragrafnya panjang dan gemuk, ditambah isinya serius. Yang ada kita bosan dan meninggalkan bacaan tadi. Dengan menyelipkan humor di tengah-tengah tulisan, para pembaca akan terjaga mood-nya. Seakan tidak terasa ngantuk karena mata yang berat. Karena kebanyakan mereka-mereka yang jadi seleb dunia maya adalah mereka-mereka yang cantik, ganteng, dan lucu. Akun-akun lucu buktinya banyak follower-nya, likers-nya, dan shareable. 


Dengan 4 hal ini semoga bisa dijadikan rumusan agar tulisan kita di sosmed jadi banyak yang baca. Minimal ada yang baca. Sekalipun diri kita sendiri. Selamat bereksperimen.

“ Seandainya manusia mengetahui apa yang ada (yaitu keutamaan) di dalam seruan (adzan) dan shaf pertama, lalu mereka tidak bisa menda...



Seandainya manusia mengetahui apa yang ada (yaitu keutamaan) di dalam seruan (adzan) dan shaf pertama, lalu mereka tidak bisa mendapatkan shaf tersebut kecuali dengan undian, sungguh mereka akan melakukan undian untuk mendapatkannya.” (HR. Bukhari 580).

Seringkali ketika menganggap posisi shaf pertama di belakang imam adalah posisi sakral. Hanya untuk para orangtua (sepuh), orang yang ilmu agamanya tinggi, atau orang-orang yang punya kedudukan di masyarakat. Seperti suatu waktu ketika shaf pertama kosong, orang-orang dibaris depan atau sekitar selalu mempersilahkan orang lain terlebih dahulu untuk mengisinya. Tanpa berinisatif langsung mengisinya sendiri.

Ada beberapa alasan orang tidak mau mengisi shaf pertama. Dari mulai sudah nyaman dibarisannya karena bisa nyender di tembok, biar adem di bawah kipas angin, tidak pede karena perspektif di atas, sampai biar keluar mesjidnya cepat kalau di barisan belakang. Padahal kalau saja tahu fadilah shaf pertama, orang-orang akan rebutan. Sekalipun diundi. 

Memang tidak semua orang mau menempati shaf pertama. Sepertihalnya dalam sebuah acara. Kursi atau barisan terdepan adalah khusus tamu undangan VVIP. Artinya spesial dan exclusive. Pastinya fasilitas yang didapat VVIP lebih nyaman dan banyak keunggulannya dibantung yang reguler. 

Kadang miris ketika melihat ada para orangtua yang menggeser (memindahkan) shaf pertama yang sudah ditempati anak kecil. Padahal anak kecil tadi sudah lebih dulu datang ke mesjid dan mendapatkan haknya dibanding orangtua tadi yang datang terlamabat. Dan miris juga saat ada orang lain yang mempersilahkan orang di belakangnya untuk menempati shaf pertama tadi. Atau bahkan sampai meminta tukar posisi. 

Jika diibaratkan, posisi shaf pertama tadi sama halnya dengan pole position di moto GP. Dan pastinya poin yang didapat saat meraih pole position lebih banyak dibanding posisi setelahnya. 

Akhir kata, jangan lewatkan kesempatan emas ini. Begitu ada peluang untuk meraih pole position, segera ambil. Tanpa perlu menunggu dan mempersiloahkan yang lain. Karena dalam ibadah tak perlu kita mendahulukan orang lain.

Semoga bermanfaat. So, masih mau raih pole position?

Malam itu tepat menjelang waktu isya, hujan turun dengan intensitas ringan.  "Ke mesjid gak?". Salah seorang dari kami me...



Malam itu tepat menjelang waktu isya, hujan turun dengan intensitas ringan. 

"Ke mesjid gak?". Salah seorang dari kami mengajukan pertanyaan. Seperti sedang melakukan pemungutan suara.

"Hujan bro!". Kami sepakat menjawab.

Agenda ke mesjid pun jadi sekedar wacana, oleh karena terhalang gerimis yang tak diundang. Padahal kalau mau memaksakan, kami bisa pergi menggunakan payung. Karena hujan tak terlalu lebat. 

Ditengah rintik hujan tadi, kami mendapatkan informasi
"Futsal bro, jam 8 di tempat biasa!". Dari salah seorang teman via telepon. 

"Tapi hujan bro".

"Yaelah cuma gerimis. Lagian tempatnya deket. Gak bakal bikin basah kuyup".

Seketika kami iyakan ajakan tadi, tanpa menghiraukan halangan tadi. Seakan-akan berujar "kalau hujan rintik-rintik mah masih bisa diterobos". 

Kejadian dimasa lalu tadi, membuat kami berpikir ulang kembali. Seringkali kita mencari-cari alasan untuk meninggalkan ibadah, yang jelas-jelas perintahNYA. Dengan dalih sibuk karena urusan pekerjaan, hujan, ibadah tadi bisa ditunda, sampai urusan penting sekalipun yang sebenarnya sepele dan bisa diselesaikan dengan sangat mudah.

Tapi ketika sedang mengejar kesenangan dunia, rintangan seberat apapun akan dilewati dengan penuh perjuangan. Padahal jelas, hal yang paling utama untuk dipenuhi adalah perintah-NYA. Maka selama kita menganggap ibadah hanyalah tugas dan rutinitas, selama itupula kita bisa dengan mudah menangguhkannya. Berbeda ketika ibadah sudah menjadi kebutuhan yang tak bisa ditinggalkan dan harus dipenuhi seketika.

Kita yang membutuhkan Allah, sudah semestinya mengutamakanNYA demi mendapat ridho dariNYA. 

Semoga kita dijauhkan dari siksa-NYA dan selalu mengutamakan-NYA.

    T.H.R (Tiap Hari Rindu) "Yang mahal dari suatu pertemuan adalah ketidakhadiran. Yang mahal dari suatu perpisahan adalah ...

 
 
T.H.R (Tiap Hari Rindu)

"Yang mahal dari suatu pertemuan adalah ketidakhadiran. Yang mahal dari suatu perpisahan adalah kehadiran". -sayquotable

Setiap pertemuan yang mengesankan, akan selalu banyak cerita. Bahkan amat disayangkan jika moment tersebut terlewatkan. Sepertihalnya ramadhan, yang mempertemukan kita dengan kesempatan baru. Kesempatan untuk berkaca diri dengan hari lalu. Kesempatan yang memaksa untuk berubah. Mengubah hal yang tak biasa, menjadi terbiasa. Dari mulai membiasakan diri melawan amarah, mengatur urusan perut, makan dini hari dan berlomba dalam kebaikan. 

Lama kita merindunya. Ramai kita menyambutnya. Sepinya mesjid yang tak biasanya, mendadak penuh sesak diawal kedatangannya. Wajah sore yang tak sesemarak biasanya, kini mulai menampakkan keceriaan pada mereka yang "ngabuburit". Senang beradu rindu tenggelam dalam kebahagiaan. Banyak hal mendadak yang tak ditemukan sebelumnya. Seperti mendadak rajin ke mesjid, mendadak baca quran, mendadak berbagi (takjil), dan mendadak berlomba-lomba dalam kebaikan. Asalkan bukan mendadak dangdut, hal ini menjadi trend positif tersendiri. Ganjaran pahala berlipat-lipat menjadi dasar utamanya. Dengan tentunya mengutamakan ridha-NYA.

Maka merugilah jika kesempatan emas ini terlewatkan tanpa meninggalkan kesan yang membekas. Karena belum tentu kita mendapat kesempatan emas ini lagi dilain waktu. Tidak ada jaminan pertemuan kita berlanjut dipertemuan berikutnya. Maka puaskanlah kerinduan dengan hal yang diperintahkanNYA. 

Sepenggal kutipan dari Kurniawan Gunadi: "Perpisahan tidak sejatinya memisahkan. Ia hanya memberi jarak untuk pertemuan-pertemuan yang lain". Ramadhan memang akan berlalu. Bukan berarti memisahkan kita dari kebiasaan baik yang baru. Karena sejatinya, Ia hanya memberi jarak pada kita, untuk pertemuan selanjutnya. Semoga kita dipertemukan kembali dengannya, dimampukan menjadi muslim disegala musim, dan mendapatkan THR (Tiap Hari meRindukannya).