T.H.R (Tiap Hari Rindu) "Yang mahal dari suatu pertemuan adalah ketidakhadiran. Yang mahal dari suatu perpisahan adalah ...

 
 
T.H.R (Tiap Hari Rindu)

"Yang mahal dari suatu pertemuan adalah ketidakhadiran. Yang mahal dari suatu perpisahan adalah kehadiran". -sayquotable

Setiap pertemuan yang mengesankan, akan selalu banyak cerita. Bahkan amat disayangkan jika moment tersebut terlewatkan. Sepertihalnya ramadhan, yang mempertemukan kita dengan kesempatan baru. Kesempatan untuk berkaca diri dengan hari lalu. Kesempatan yang memaksa untuk berubah. Mengubah hal yang tak biasa, menjadi terbiasa. Dari mulai membiasakan diri melawan amarah, mengatur urusan perut, makan dini hari dan berlomba dalam kebaikan. 

Lama kita merindunya. Ramai kita menyambutnya. Sepinya mesjid yang tak biasanya, mendadak penuh sesak diawal kedatangannya. Wajah sore yang tak sesemarak biasanya, kini mulai menampakkan keceriaan pada mereka yang "ngabuburit". Senang beradu rindu tenggelam dalam kebahagiaan. Banyak hal mendadak yang tak ditemukan sebelumnya. Seperti mendadak rajin ke mesjid, mendadak baca quran, mendadak berbagi (takjil), dan mendadak berlomba-lomba dalam kebaikan. Asalkan bukan mendadak dangdut, hal ini menjadi trend positif tersendiri. Ganjaran pahala berlipat-lipat menjadi dasar utamanya. Dengan tentunya mengutamakan ridha-NYA.

Maka merugilah jika kesempatan emas ini terlewatkan tanpa meninggalkan kesan yang membekas. Karena belum tentu kita mendapat kesempatan emas ini lagi dilain waktu. Tidak ada jaminan pertemuan kita berlanjut dipertemuan berikutnya. Maka puaskanlah kerinduan dengan hal yang diperintahkanNYA. 

Sepenggal kutipan dari Kurniawan Gunadi: "Perpisahan tidak sejatinya memisahkan. Ia hanya memberi jarak untuk pertemuan-pertemuan yang lain". Ramadhan memang akan berlalu. Bukan berarti memisahkan kita dari kebiasaan baik yang baru. Karena sejatinya, Ia hanya memberi jarak pada kita, untuk pertemuan selanjutnya. Semoga kita dipertemukan kembali dengannya, dimampukan menjadi muslim disegala musim, dan mendapatkan THR (Tiap Hari meRindukannya).

puasa sesungguhnya tidak hanya diwajibkan kepada manusia saja. Beberapa jenis makhluk hidup melakukan puasa sebelum mendapatkan kualitas...



puasa sesungguhnya tidak hanya diwajibkan kepada manusia saja. Beberapa jenis makhluk hidup melakukan puasa sebelum mendapatkan kualitas dan kelangsungan hidupnya. Banyak contoh, misalnya puasanya induk ayam yang mengeram sehingga mengubah telur menjadi makhluk baru yang berbeda bentuk yang disebut anak ayam.
Di antara sekian banyak puasa hewan yang dapat kita ambil pelajaran agar puasa kita mencapai derajat takwa, ialah puasanya ULAR dan puasanya ULAT.

A. PUASA ULAR
Agar ular mampu menjaga kelangsungan hidupnya, salah satu yang harus dilakukan adalah harus mengganti kulitnya secara berkala.
Tidak serta merta ular bisa menanggalkan kulit lama. Ia harus BERPUASA tanpa makan dalam kurun waktu tertentu. Setelah PUASANYA TUNAI, kulit luar terlepas dan muncullah kulit baru.
Hikmahnya:

1. WAJAH ular sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA.
2. NAMA ular sebelum dan sesudah puasa tetap sama yakni ULAR.
3. MAKANAN ular sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA.
4. CARA BERGERAK sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA.
5. TABIAT dan SIFAT sebelum dan sesudah puasa tetap SAMA.

B. PUASA ULAT
Ulat termasuk hewan paling rakus. Karena hampir sepanjang waktunya dihabiskan untuk makan. Tapi begitu sudah bosan makan, ia lakukan perubahan dengan cara berpuasa. Puasa yang benar-benar dipersiapkan untuk mengubah kualitas hidupnya. Karenanya ia asingkan diri, badannya dibungkus rapat dan tertutup dalam kokon sehingga tak mungkin lagi melampiaskan hawa nafsu makannya.
Setelah berminggu-minggu puasa, maka keluarlah dari kokon seekor makhluk baru yang sangat indah bernama KUPU-KUPU.
Hikmahnya:

1. WAJAH ulat sesudah puasa berubah INDAH MEMPESONA
2. NAMA ulat sesudah puasa berubah menjadi KUPU-KUPU
3. MAKANAN ulat sesudah puasa berubah MENGISAP MADU
4. CARA BERGERAK ketika masih jadi ulat menjalar, setelah puasa berubah TERBANG di awang-awang.
5. TABIAT dan SIFAT berubah total. Ketika masih jadi ulat menjadi perusak alam pemakan daun. Begitu menjadi kupu-kupu menghidupkan dan membantu kelangsungan kehidupan tumbuhan dengan cara membantu PENYERBUKAN BUNGA.
Semoga ibadah puasa kita mampu menghijrahkan diri kita agar semakin takwa dan mampu khairunnas anfauhum linnas (sebaik-baik manusia ialah yang dapat memberikan manfaat bagi manusia lainnya).

Hari itu tampak seperti biasanya. Kami berlima bergulat dengan rutinitas harian. Aku yang kuliah di kota tetangga yang berjarak ...




Hari itu tampak seperti biasanya. Kami berlima bergulat dengan rutinitas harian. Aku yang kuliah di kota tetangga yang berjarak 40 km dengan waktu tempuh satu jam mulai berangkat memacu si kuda besi. Jalanan tampak leluasa, udara pagi begitu bebas dihirup tanpa tercampur asap kendaraan. Sengaja Aku selalu memakai jalan alternatif yang tak ramai kendaraan untuk menuju kampus. Meskipun jalan alternatif tadi tidak layak sebut jalan, karena banyak dijadikan kolam ikan dadakan ditengah-tengahnya. Dan terkadang membuat badanku pegal.

Hujan sudah menjadi teman perjalananku. Sama seperti asap dan debu yang selalu mengikuti kemana aku pergi. Kalau sudah begini kadang Ibu terlihat kasihan melihat rutinitas harianku. “Kenapa gak nge-kost aja sih?” tanya Ibu. “Nanggung bu, kan gak jauh-jauh amat”. “Kalau kamu sering kehujanan gini apalagi jauh, nanti Ibu ngobrol sama Bapak. Biar nanti dikasih mobil biar gak kehujanan” Ibu menyarankan. Selang beberapa hari Ibu memastikan sambil bertanya “Kata Bapak daripada kamu kehujanan gimana kalau pakai mobil. Ada teman Bapak yang mau jual mobil, lumayan”. Seketika aku termenung ingin menjawab langsung pertanyaan tadi namun tertahan untuk beberapa menit. “Gak usah bu. Motor ini juga masih bisa dipakai” Aku sambil melirik ke arah motor yang baru beberapa bulan dibelikan setelah sebelumnya ku semogakan. “Lagian kalau beli mobil lagi, mau disimpan dimana. Garasinya gak muat dan Kakak belum bisa mengurusnya (membiayai)”. Itu jawaban yang Aku sampaikan. Sebenarnya ada jawaban yang ingin diutarakan namun tak kunjung disampaikan.

Aku tak mau terlalu merepotkan mereka. Sudah bisa dikuliahkan saja sudah Alhamdulillah. Siapa juga yang gak mau diberikan fasilitas untuk mendukung kegiatan kita. Apalagi dikasih mobil. Sepintas dipikiranku saat itu Aku bertanya dalam hati, kalau Aku bisa diberikan fasilitas tadi bagaimana dengan bekal di masa tua untuk kedua orangtuaku, belum lagi kedua adikku yang belum kuliah. Aku khawatir nanti mereka tidak bisa menikmati masa tua dan tidak bisa mengkuliahkan adik-adik saya karena bekalnya habis untuk memenuhi segala fasilitas yang sebenarnya belum benar-benar Aku butuhkan. Itu pelajaran yang melekat yang diajarkan Bapak. Hidup sederhana dan membeli sesuatunya harus sesuai kebutuhan, bukan sekedar keinginan.

Aku selalu bersyukur dilahirkan dan dibesarkan ditengah-tengah keluarga yang mengajarkan hidup kesederhanaan. Dan Aku selalu bersyukur dengan apa yang sudah dimiliki dan sedang dinikmati sampai detik ini. Ditengah perjalanan pulang dalam guyuran hujan. Sepanjang jalan Aku sempatkan untuk berdo’a agar kedua orangtuaku dimuliakan olehNYA dan dilapangkan rezekinya. Karena Aku percaya, saat hujan adalah waktu terbaik untuk berdo’a.

Hujan masih mengguyur setibanya di rumah.

“Mau Ibu siapkan air hangat?” Ibu menawarkan. “Gak usah bu”.

“Ibu baru beli sapu baru nih” sambil menunjukkan telunjuknya pada tempat dimana sapu tersebut disimpan.  Aku yang masih sibuk mengeringkan badan bertanya “Beli dimana bu?”. “Tadi Ibu beli dari kakek penjual sapu keliling. Kasihan Ibu ngelihatnya. Sudah sangat tua tapi masih semangat mencari rezeki. Apalagi setelah Ibu tanya, asalnya dari jauh. Kesini keliling jalan kaki. Jadi Ibu panggil sambil beli sapunya sambil dikasih minum dan makan”. Jawab Ibu sambil sesekali memandangi sapu tadi. Ibu memang selalu punya cara sendiri dalam hal kepedulian. Hari itu secara tidak langsung kakek penjual sapu tadi mengajarkan Ibu dan Aku tentang kepedulian dan kemandirian untuk tidak mengeluh dan mengemis.

BELAJAR MENGHARGAI DARI SEPIRING LAUK Sebagai anak yang jarang makan dan pilih-pilih makanan, tak membuat Ibu mengeluh dalam m...



BELAJAR MENGHARGAI DARI SEPIRING LAUK

Sebagai anak yang jarang makan dan pilih-pilih makanan, tak membuat Ibu mengeluh dalam menyiapkan makanan. Ibu selalu tahu makanan yang Aku sukai dan yang tidak. Meski pernah suatu hari Ibu bilang “Ibu gak masalah kamu gak suka jagung, ikan air tawar, atau daun singkong. Tapi makanlah sedikit biar gak sakit”. “Tuh lihat si Aji, makan apapun bisa, makan tumis pepaya pun mau, makanya tubuhnya gede”.Imbuhnya. Sejak kecil Aku termasuk anak yang susah sekali untuk makan, terlebih nasi. Tak bisa banyak melahapnya.


Masakan Ibu memang paling enak. Juara deh. Apalagi perkedel kentang buatannya, sudah jadi menu favoritku. Tak heran kalau setiap masak itu, Aku selalu minta porsi yang lebih banyak. “Kamu itu coba deh belajar menyukai makanan apa aja. Kayak Bapakmu tuh. Gimana nanti kalau kamu nikah”. Bapak memang sering menjadi penyapu bersih meja makan. Dimana ada sisa makanan yang tidak habis, selalu disapu bersih olehnya.


“Hari ini pulang jam berapa kak?”. Suara Ibu menanyakan pulang dari balik telepon. “Kira-kira magrib baru bisa pulang. Kenapa Bu?”. Basa basi sambil bertanya. “Nggak, mau makan apa? Mau dimasakkin nih” Tanya ibu. “Apa saja bu. Asal jangan ikan”. Jam pulang kuliah sudah menyambut dan tepat adzan maghrib Aku sudah sampai rumah. Dengan membawa rasa lelah karena tugas yang menggunung Aku langsung menuju kamar. Rasa lapar yang tadi sempat mampir, langsung hilang dikalahkan lelah. Selesai mandi, Ibu memanggil “Kak, sini makan dulu. Ini adekmu sudah capek-capek masakin loh” pinta Ibu. Aku menuju ke meja makan. Melihat menu masakan sunda komplit yang tersaji. Dari mulai ayam goreng, goreng tahu, tempe, sayur asem lengkap dengan lalapan dan sambal terasi. “Ayolah makan, hargai masakan adekmu. Lagian masakannya juga kan gak ada yang kamu benci. Dia sengaja masak buatmu loh”. Hari itu adekku yang masak. Seketika Aku termenung. Benar juga kata Ibu. Kasian adekku yang sudah capek-capek masak kalau tidak dimakan. Hari itu Aku belajar tentang menghargai dari sepiring lauk yang disajikan di tempat makan. 


Kita kadang lupa ingin selalu dihargai dan dipedulikan. Tapi kita sendiri lupa cara menghargai dan mempedulikan orang-orang sekitar kita.


"Bergurulah pada mereka yang berilmu. Bukan sekedar populer". Menjadi guru tidak semudah menjadi murid. Dimana guru harus mem...

"Bergurulah pada mereka yang berilmu. Bukan sekedar populer". Menjadi guru tidak semudah menjadi murid. Dimana guru harus memiliki ilmu dan pengalaman yang lebih dibanding murid. Sebagai yang pernah merasakan menjadi murid, pastinya pernah kita temui para guru dengan beragam karakternya. Dari mulai yang humoris, populer, cerdas, bijak, lembut, sampai yang killer. Kadang tanpa disadari kita mencoba menyalahkan mereka, ketika apa yang mereka ajarkan belum sepenuhnya kita mengerti. Padahal jika dari seisi kelas, hanya satu atau dua murid yang belum paham, bukan berarti gurunya yang salah. Dan kalau seluruh murid di kelas tidak mengerti dengan apa yang guru ajarkan, barulah kita bisa mempertanyakan guru tersebut. Namun bukankah lebih baik berintrospeksi diri terlebih dahulu sebelum menilai atau bahkan menghakimi orang lain? Terlebih mereka adalah guru. Karena bisa jadi kita tidak memahami apa yang mereka ajarkan, karena kita yang tidak memiliki kesungguhan niat dalam belajar. Menjadi guru punya nilai kemuliaan tersendiri oleh sebab karena ilmu dan teladannya, derajat mereka meningkat. Jangan sangka ujian seorang guru itu ringan. Karena semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berhembus. Rasa ujub, sombong, dan riya seringkali menggoda untuk meremehkan orang lain. Berikut ada 4 tipe guru yang bisa kita pilih: 1.Seperti hujan Hujan turun membasahi bumi. Tanpa pernah pilih kasih, ia basahi semua yang dijatuhinya. Dari mulai pohon tertinggi, sampai rumput di tempat rendah. Tak ada satu pun yang bisa menolak kedatangannya. Tipe guru yang seperti hujan ini adalah mereka yang dengan ikhlas juga tulus memberikan ilmunya pada siapa saja yang mau jadi muridnya. Tak peduli jumlah muridnya (follower-nya) sedikit. Tak peduli yang nge-like sedikit. Selama amanah dia pegang, perannya akan dimainkan dengan sebaik-baiknya tanpa pilih-pilih. Kadang kan ada para mastah atau guru yang gak mau atau gak jadi ngajar karena peserta (muridnya) sedikit. Follower-nya sedikit, yang nge-like dikit, yang komen sedikit, jadi batal belajar mengajarnya. 2.Seperti mata air Mata air tidak bisa turun seperti hujan dan keluar dari tempatnya. Dia harus kita datangi. Bukan sebaliknya. Karena begitu vital perannya untuk kebutuhan hidup manusia, sejauh apapun akan didatangi. Tipe guru seperti mata air ini tidak bisa mobile karena keterbatasan hal. Seperti faktor usia, ada kepentingan tertentu, atau lokasinya yang sulit dari jangkauan. Namun keterbatasan yang menghalangi tadi, tidak membuat para murid meninggalkan begitu saja. Karena jasanya sangat dibutuhkan, para muridlah yang mencari dan mendatanginya. 3.Seperti air PDAM Air PDAM akan terus mengalir selama dibayar. Meski kadang juga tidak mengalir mulus jika di musim kemarau. Tipe guru seperti ini akan mengajar jika dibayar. Kalau tidak dibayar, di stop-lah seperti air PDAM di rumah. 4.Seperti air keruh Tidak seorang pun mau menggunakan air keruh untuk kepentingannya. Jangankan untuk mencuci tangan, melihatnya saja sudah tidak selera. Tipe guru seperti ini bukanlah teladan yang baik. Setiap orang berpotensi menjadi guru. Termasuk kita. Namun pastikan ketika kita berguru, bergurulah pada orang yang tepat. Pada mereka yang berilmu, bukan sekedar populer semata. Sebab boleh jadi mereka yang berilmu tidaklah populer, sementara mereka yang populer tidak berilmu. motivaksi.blogspot.com

Manusia adalah makhluk sosial. Setidaknya itu yang pernah terekam dalam ingatan pada pelajaran ilmu pengetahuan sosial. Seperti yang ...



Manusia adalah makhluk sosial. Setidaknya itu yang pernah terekam dalam ingatan pada pelajaran ilmu pengetahuan sosial. Seperti yang pernah diterangkan guru kita dulu, masing-masing dari kita (manusia) tidak bisa hidup tanpa tidak memerlukan orang lain. Pasien membutuhkan dokter, produsen butuh konsumen, murid memerlukan guru, pelajar malas butuh contekan, jomblo butuh pasangan, dan lain sebagainya. Semuanya punya keterkaitan karena adanya kebutuhan.

Sekalipun beberapa tugas bisa dikerjakan seorang diri, tetap saja peran dan bantuan orang lain kita butuhkan. Sama halnya walaupun kita bisa selfie, tetap saja kita butuh orang lain untuk mem-foto diri kita. Selain bisa menangkap objek secara penuh, angle foto pun bisa diatur dan dipilih jika menggunakan jasa orang lain. 

Memang tidak semua orang bersedia membantu pekerjaan kita. Karena dibutuhkan sikap saling percaya dan menghargai. Dan itu tidak semua orang punya. Seseorang akan  merasa nyaman berinteraksi ketika mereka sudah saling mengenal. Kalau sudah mengenal, rasa percaya akan tumbuh bersama sikap menghargai. Ada beberapa alasan kenapa orang ingin membantu orang lain. Dari mulai merasa kasihan pada yang dibantu, ingin balas budi, modus (berharap imbalan), empati (karena pernah mengalami hal serupa), sampai terpaksa (dipaksa). Apapun motifnya, jika niatan membantu tadi dilandasi rasa ikhlas dan "jangan cintai aku apa adanya" (baca: tulus), semuanya akan fine-fine saja.

Lain halnya ketika kita berniat jadi tim tolong untuk orang lain, sekalipun niatan kita bukan modus namun respons darinya malah membuat hati tidak enak karena omelannya, akan berakhir dengan rasa penyesalan (kapok). Kapok untuk menolongnya kembali. Mungkin saja orang yang ditolong meluapkan kekesalan dan kemarahannya dengan cara ngomel-ngomel tadi karena bantuan kita ada yang tidak sesuai menurutnya. Karena tidak sesuai standarnya. Dan hal ini pun bisa terjadi pada kita ketika kita ditukar posisi. Kalau kita sedang membutuhkan bantuan, sementara di luar sana ada seseorang yang dengan rela membantu kita, lalu balasan kita kepadanya adalah omelah dan luapan kekesalan, apa yang akan mereka rasakan dan jika kita berada di posisi mereka? Mungkin akan memarahi balik? Yang pasti kita akan kapok membantunya kembali. Maka hargailah setiap usaha orang, terlebih jika mereka dengan sedia menukarkan waktu dan tenaganya untuk memudahkan (bantu) urusan kita.

Jangan bikin kapok orang dalam menolong.
 

Tidak semua hal bisa kita dapatkan. Karena hidup tak sekedar soal kemenangan, tapi juga perjuangan. Bermimpi tentang hal yang bel...



Tidak semua hal bisa kita dapatkan. Karena hidup tak sekedar soal kemenangan, tapi juga perjuangan.

Bermimpi tentang hal yang belum pernah dimiliki adalah hak setiap orang. Bukanlah hak kita memandang remeh impian seseorang atau bahkan mematahkan semangat juangnya yang sedang membara. Sebab tidak ada impian yang terlalu tinggi untuk diraih. Sepertihalnya langit, meski terlihat jauh tapi tidak mustahil untuk digapai.

Beberapa ada yang memiliki impian punya hunian mewah, kendaraan baru, barang-barang branded, dan segala kemewahan lainnya. Meski ada diantaranya yang mempunyai impian untuk bisa makan daging tanpa harus menunggu idul adha, bersekolah tanpa harus bertaruh nyawa, bahkan punya pakaian baru tanpa haru menunggu lebaran. Bagi kita terlihat sederhana. Tapi tidak bagi mereka. Menjadi keistimewaan tersendiri ketika apa yang mereka harap berbuah nyata.

Benar kata pepatah, "untuk mendapatkan sesuatu, kita harus  menukarkan sesuatu". Untuk mengkonversi impian kita menjadi nyata ada harga yang harus dibayar, dengan menukar apa yang kita punya. Waktu, tenaga, bahkan biaya sekalipun menjadi alat tukarnya. Kita mungkin pernah  mati-matian berupaya dan menukarkan yang dipunya, tapi impian tak kunjung jadi nyata. Padahal kita merasa usaha yang dilakukan sudah yang terbaik, melangitkan do'a yang tak kenal henti, dan rajin bersedekah meskipun kadang masih serakah. Kita merasa ibadah kita yang paling baik, yang paling rajin dibanding teman-teman atau orang-orang disekeliling kita. Tapi nyatanya mereka-mereka yang kita tuduh tidak lebih baik dari kita, justru mendapatkan impiannya terlebih dulu dibanding kita. Sementara kita sibuk mengkambinghitamkan keadaan dan sibuk merasa. Merasa upaya diri lebih baik dari semuanya.

Lantas apa hak kita merasa iri pada mereka? Bukankah tiap-tiap dari kita punya waktu suksesnya tersendiri?
Memelihara penyakit "merasa" tadi bisa jadi benih penyakit hati, dengki. Merasa diri kita yang paling layak dibanding yang lain, tidak jaminan kita yang terbaik. Selama rajin sedekah tapi masih serakah, tahajud masih sekali dua kali, yang wajib sering diabaikan janganlah mengklaim doa kita tak terkabul saat impian tak jadi nyata. Tak perlu kita menuntut Tuhan karena pinta kita terlambat dikabulkan. Tapi tuntutlah diri karena terlambat menunaikan kewajiban.